Konten dari Pengguna

Dahsyatnya Menjelang Maut

Aunur Rofiq

Aunur Rofiq

Penasihat PKP (Partai Keadilan dan Persatuan)

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aunur Rofiq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Jenazah. Foto: Ground Picture/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Jenazah. Foto: Ground Picture/Shutterstock

Dahsyatnya Menjelang Maut (sering disebut Sakaratul Maut) merujuk pada fase kritis, menegangkan, dan menyakitkan yang dialami seseorang saat nyawa dicabut dari tubuhnya.

Berikut adalah makna mendalam dan dalil-dalil terkait peristiwa tersebut :

Makna Menjelang Maut

A. Pemisahan Jiwa: Proses dipisahnya ruh dari jasad secara paksa. Proses pemisahan jiwa (ruh) dari jasad secara paksa dan keras dialami oleh orang-orang kafir, munafik, dan pelaku dosa besar yang enggan menemui Tuhannya. Di dalam syariat Islam, kondisi ini dijelaskan melalui ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis sahih :

1. Dalil Al-Qur'an

Surah An-Nazi'at Ayat 1,” Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras."Tafsir: Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat ini merujuk kepada malaikat maut yang mencabut nyawa orang kafir dari lubuk tubuh yang paling dalam secara paksa, kasar, dan menyakitkan.

2. Dalil Hadis.

Gambaran detail mengenai penarikan paksa ini termaktub dalam Hadis Riwayat Ahmad (No. 18534) dari sahabat Al-Bara' bin 'Azib, di mana Rasulullah SAW, bersabda mengenai kematian orang yang buruk:

"Malaikat maut duduk di dekat kepalanya lalu berkata, 'Wahai jiwa yang buruk, keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan Allah!' Maka ruhnya berpencar ke seluruh jasadnya, lalu Malaikat Maut mencabutnya secara paksa sebagaimana dicabutnya as-sufud (besi pengait daging yang bercabang banyak) dari kain wol yang basah (sehingga merobek dan memutuskan urat serta saraf)."

B. Ujian Terakhir: Momen penentu (khusnul khotimah atau su'ul khotimah) bagi seorang manusia. Dalam tradisi Islam, ujian terakhir atau momen sakaratul maut adalah waktu paling krusial bagi seorang manusia. Momen ini menentukan apakah seseorang wafat dalam keadaan baik (khusnul khotimah) atau buruk (su'ul khotimah), yang menjadi cerminan dari seluruh lembaran hidupnya.

C. Fase Menyakitkan: Rasa sakit fisik luar biasa yang bahkan dialami oleh para nabi. Fase Menyakitkan merujuk pada penderitaan fisik luar biasa yang dialami seseorang saat menghadapi ujian penyakit berat atau proses pencabutan nyawa (sakaratul maut). Dalam teologi Islam, fakta bahwa para nabi—manusia yang paling dicintai Allah—juga mengalami rasa sakit yang dahsyat ini mengandung makna mendalam dan didukung oleh dalil-dalil sahih.

Makna Fase Menyakitkan bagi Para Nabi,

Berdasarkan penjelasan para ulama seperti Imam Al-Qurthubi, rasa sakit luar biasa yang ditimpakan kepada para nabi memiliki beberapa makna penting:

Meninggikan Derajat: Rasa sakit ini bukan azab atau tanda kehinaan, melainkan sarana untuk menyempurnakan pahala dan mengangkat derajat mereka ke tingkat tertinggi di surga.

Edukasi bagi Umat: Menjadi bukti nyata bagi manusia tentang beratnya hakikat kematian dan penyakit, sehingga umat tidak meremehkan fase tersebut.

Penegas Sifat Kemanusiaan: Menunjukkan bahwa para nabi adalah manusia biasa (basyar) yang bisa merasakan sakit, sekaligus membantah kaum yang menuhankan utusan Allah.

Suri Teladan Kesabaran: Menjadi contoh tertinggi bagi umat dalam menghadapi musibah fisik dengan rida, zikir, dan keteguhan iman.

Dalil-Dalil Sahih.

1. Ujian Para Nabi adalah yang Paling Berat

Rasulullah SAW. menegaskan bahwa kelompok manusia yang menerima penderitaan dan cobaan paling berat di dunia adalah para nabi,” Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian yang setingkat dengan mereka, lalu yang setingkat dengan mereka."

(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

2. Rasulullah SAW. Merasakan Sakit Dua Kali Lipat.

Saat menderita sakit menjelang wafatnya, tubuh Rasulullah \(\rho \) mengeluarkan panas yang sangat tinggi. Sahabat Abdullah bin Mas'ud menjenguk dan terkejut melihat kondisi beliau.,” Aku pernah menjenguk Nabi SAW. ketika sakit, sepertinya beliau sedang merasakan rasa sakit yang parah. Maka aku berkata: 'Sepertinya Anda sedang merasakan rasa sakit yang amat berat'. Nabi menjawab: 'Iya benar, aku sakit sebagaimana rasa sakit dua orang dari kalian (dua kali lipat)'."

(HR. Bukhari dan Muslim)

3. Kepedihan Sakaratul Maut

Ketika ajal menjemput, Rasulullah (/rho) berulang kali memasukkan tangannya ke dalam wadah berisi air untuk mengusap wajahnya yang menahan perih. Beliau bersabda,” Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Sesungguhnya kematian itu memiliki masa sekarat (rasa sakit yang mendalam)."

(HR. Bukhari).

Melihat penderitaan tersebut, putri beliau, Fatimah berkata, "Alangkah berat penderitaan ayahku." Rasulullah SAW. lalu menenangkannya dengan berkata, "Tidak ada penderitaan lagi atas ayahmu setelah hari ini."

4. Pengalaman Sakaratul Maut Nabi Musa.

Dalam sebuah riwayat, Allah SWT. bertanya kepada Nabi Musa setelah ruhnya dicabut tentang bagaimana ia merasakan kematian. Nabi Musa menjawab dengan dua perumpamaan fisik yang sangat mengerikan,” Aku mendapatkan diriku bagaikan burung pipit yang digoreng di atas kuali penggorengan. Tidaklah dia mati lalu bisa istirahat, dan tidak pula dia selamat lalu bisa terbang."

Serta dalam riwayat lain: "Aku merasakan diri ini bagaikan kambing hidup yang sedang dikuliti oleh tukang jagal."

(Riwayat dalam Kitab Kematian/Tafsir)

D. Terbukanya Gaib: Fase di mana mata batin manusia terbuka untuk melihat malaikat dan calon tempat tinggalnya (surga atau neraka). Terbukanya Gaib (atau tersingkapnya tabir gaib/alkasyaf) pada fase ini merujuk pada sakaratul maut, yaitu momen menjelang kematian ketika ruh akan berpisah dari jasad.

Secara mendalam, berikut adalah makna dari fase tersebut:

1. Transformasi Penglihatan (Yakin yang Mutlak).

Tersingkapnya Tabir: Sifat materi dunia tidak lagi menghalangi pandangan manusia.

Perubahan Dimensi: Manusia berpindah secara kesadaran dari alam syahadah (nyata) ke alam malakut (gaib).

Ketetapan Al-Qur'an: Kondisi ini digambarkan dalam QS. Qaf ayat 22, di mana penglihatan manusia menjadi sangat tajam (hadid) karena tirai penutupnya telah diangkat.

2. Kehadiran Makhluk Samawi.

Malaikat Maut: Manusia melihat asisten Malaikat Maut dan Malaikat Izrail dalam wujud yang asli.

Ekspresi Wajah: Wujud malaikat yang datang mencerminkan amal perbuatan manusia semasa hidup (wajah yang putih bersinar atau wajah yang menakutkan).

3. Kepastian Destinasi Akhir (Basyarah atau Penyesalan)

Pratinjau Tempat Tinggal: Allah menunjukkan kedudukan akhir manusia di akhirat, apakah di surga atau di neraka.

Gembira vs Putus Asa: Jiwa yang saleh akan merasa tenang karena melihat indahnya surga, sedangkan jiwa yang ingkar akan histeris ketakutan melihat neraka.

Pintu Tobat Tertutup: Fase ini adalah batas akhir diterimanya tobat, karena keimanan saat gaib sudah menjadi nyata tidak lagi bernilai pahala ujian.

Dalil-Dalil Al-Qur'an.

Surah Qaf Ayat 19:"Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu kamu berusaha melarikan diri darinya."

Surah Al-An'am Ayat 93:"...Alangkah ngerinya sekiranya engkau melihat pada waktu orang-orang zalim berada dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata), 'Keluarkanlah nyawamu!'..."

Surah Al-Qiyamah Ayat 26-29:"Sekali-kali jangan! Apabila (nafas) telah sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya), 'Siapakah yang dapat menyembuhkan?' Dan dia yakin bahwa itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertautlah betis (kiri) dengan betis (kanan)."

Dalil-Dalil Hadits.

Rasa Sakit Maut: Nabi Muhammad SAW bersabda saat menjelang wafatnya sambil mencelupkan tangan ke air:"Lailaha illallah, sesungguhnya setiap kematian itu ada sakaratnya (rasa sakitnya)." (HR. Bukhari)

Kondisi Ruh Orang Beriman: Hadits panjang riwayat Al-Bara bin Azib menjelaskan bahwa ruh orang mukmin dicabut dengan lembut seperti mengalirnya air dari mulut kendi.

Kondisi Ruh Orang Kafir: Sebaliknya, ruh orang kafir/durhaka dicabut dengan paksa seperti menarik duri besi dari kain wol yang basah (merobek jasad). (HR. Ahmad).

Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang beriman.