Hindari Teman yang Menyesatkan

Penasihat PKP (Partai Keadilan dan Persatuan)
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Aunur Rofiq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sahabat dalam Islam bukan sekadar teman biasa, melainkan ikatan persaudaraan yang tulus (ukhuwah) berdasarkan iman untuk saling menasihati dalam kebenaran, ketaatan kepada Allah, dan membawa kebaikan hingga ke surga. Sahabat sejati adalah mereka yang mendukung saat suka dan duka, serta jujur menegur kesalahan.
Ciri-ciri teman yang menyesatkan:
A. Perbuatan Maksiat Dianggap Hal yang Biasa
Perbuatan maksiat tidak pernah dianggap biasa atau wajar, melainkan merupakan pelanggaran terhadap perintah Allah SWT yang berdosa. Fenomena maksiat yang dianggap biasa sering terjadi akibat normalisasi sosial, hilangnya rasa malu, atau seringnya perbuatan tersebut dilakukan secara terang-terangan (mujâhirîn).
Jenis-Jenis Maksiat yang Dianggap Biasa
Maksiat Mata: Memandang aurat, memata-matai, dan memandang lawan jenis yang bukan mahram.
Maksiat Lisan: Berdusta, menggunjing (ghibah), dan memfitnah.
Maksiat Sosial/Perbuatan: Riba, zina, dan tidak menutup aurat.
Maksiat Hati: Sombong, iri, dan dengki.
Hadis tentang Meremehkan Dosa (Melihat Dosa seperti Lalat)
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW. menjelaskan perbedaan cara pandang orang beriman dan orang munafik terhadap dosa. Orang mukmin merasa dosa seperti gunung yang akan menimpanya, sedangkan orang yang terbiasa maksiat meremehkannya.
"Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seakan-akan ia duduk di bawah gunung dan takut gunung itu akan runtuh menimpanya. Sedangkan orang yang fajir (maksiat/jahat) melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di depan hidungnya."
H.R. Bukhari
B. Mengolok-olok Ibadah
Mengolok-olok ibadah, syariat, atau simbol-simbol agama (baik secara sadar, serius, maupun bercanda) hukumnya adalah haram mutlak dan termasuk dosa besar. Tindakan ini dikategorikan sebagai perbuatan kekufuran yang dapat membatalkan keislaman seseorang (riddah/murtad), sebagaimana ditegaskan oleh para ulama.
Dalil utama mengenai larangan ini terdapat dalam QS. At-Taubah ayat 65-66, "Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, 'Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.' Katakanlah, 'Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?' Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman..."
Ayat ini turun ketika ada sekelompok orang yang mengolok-olok para pembaca Al-Qur'an (sahabat Nabi) sebagai orang yang rakus dan pengecut, lalu mereka beralasan hanya bercanda.
C. Suka Ghibah dan Fitnah
Perbuatan ghibah(menggunjing) dan fitnah (tuduhan palsu) adalah perilaku yang sangat dicela, termasuk dalam dosa besar, dan dilarang keras oleh Allah SWT serta Rasulullah SAW. Keduanya dapat merusak ukhuwah Islamiyyah (persaudaraan Islam) dan merupakan manifestasi dari penyakit hati.
Ghibah (Menggunjing)
Ghibah didefinisikan sebagai membicarakan orang lain mengenai sesuatu yang jika orang tersebut mendengarnya, ia tidak menyukainya, meskipun yang dibicarakan itu benar.
Dalil (Al-Qur'an): Allah SWT menyamakan pelaku ghibah dengan orang yang memakan daging saudaranya sendiri yang sudah mati.
"Dan janganlah mencari-cari keburukan orang lain dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya..."
QS. Al-Hujurat ayat 12
Dosa Ghibah. Ghibah dianggap dosa besar yang sering disepelekan, bahkan dalam satu hadits disebutkan azabnya cukup berat di neraka.
Fitnah (Tuduhan Palsu/Namimah)
Fitnah lebih kejam dari ghibah karena yang dibicarakan adalah hal yang tidak benar (kebohongan) untuk merusak nama baik seseorang.
"Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata."
QS. Al-Ahzab ayat 58
Bahaya fitnah. Fitnah disebut lebih dahsyat daripada pembunuhan karena dampaknya merusak kehormatan, memicu permusuhan, dan kekacauan sosial.
Jika kedua perbuatan ini telah jelas dilakukan, maka jauhilah orang yang melakukan. Tidak menjadi teman akan lebih baik karena teman seperti ini akan membawa kita menuju keburukan.
D. Menjadikan Dunia Segalanya
Menjadikan dunia sebagai "segalanya"—tujuan utama, puncak kebahagiaan, dan fokus hidup tanpa mempedulikan akhirat—adalah perilaku yang sangat dilarang dan dianggap sebagai kerugian besar. Islam mengajarkan keseimbangan, di mana dunia hanya dijadikan sarana (ladang amal) untuk mencapai kebahagiaan sejati di akhirat.
Dalil-Dalil dari Al-Qur'an dan Hadis:
Dunia Hanyalah Permainan dan Senda Gurau.
Allah SWT menegaskan bahwa dunia hanyalah kesenangan sementara dan menipu.
"Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan..."
QS. Al-Hadid ayat 20
B. Ancaman Terhadap Pencari Dunia (Hadis)
Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya."
HR. Ibnu Majah
Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang salah dalam memilih teman. Khususnya para elite penguasa jika negara bersekutu tidak memilih negara yang mempunyai ciri-ciri tersebut di atas.
