Hubungan

Penasihat PKP (Partai Keadilan dan Persatuan)
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Aunur Rofiq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam psikoterapi telah ditemukan hubungan yang paling berpengaruh terhadap kesehatan mental seseorang adalah: hubungan dengan Ibu atau pasangan hidup. Jika seseorang mampu meningkatkan kualitas kedua hubungan ini, maka makin stabil dan bahagia hidupnya. Peningkatan tersebut dapat dilakukan dengan meminimalkan perselisihan yang muncul akibat kesalahpahaman.
Dalam perspektif Islam, menjaga hubungan dengan ibu dan pasangan hidup (istri/suami) adalah dua amanah besar yang memiliki kedudukan sangat tinggi. Keduanya merupakan jalan utama menuju surga, namun membutuhkan porsi dan cara sikap yang berbeda agar tetap seimbang, stabil, dan bahagia.
Berikut ini adalah panduan praktis berdasarkan prinsip Islam untuk menjaga harmoni di antara keduanya:
I. Hubungan dengan Ibu: Bakti Tanpa Batas (Birrul Walidain)
Birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua), khususnya kepada Ibu, merupakan salah satu kewajiban paling agung dalam Islam yang menempati posisi setelah tauhid. Hubungan anak dengan Ibu dalam Islam digambarkan sebagai bentuk bakti yang sangat utama, bahkan mendahului bakti kepada Ayah dalam hal kedekatan dan perlakuan baik.
Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai hubungan dengan Ibu dalam perspektif Islam beserta dalil-dalil shahihnya.
1. Kedudukan Ibu Tiga Kali Lebih Utama dari Ayah
Islam memberikan penghormatan kepada Ibu tiga kali lebih besar daripada Ayah dalam hal pelayanan dan kebaikan. Hal ini disebabkan oleh besarnya kepayahan yang dialami Ibu selama mengandung, melahirkan, dan menyusui.
Dalil Hadits: 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, seseorang datang kepada Rasulullah SAW. dan bertanya:
"Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?" Beliau menjawab: "Ibumu." Orang itu bertanya lagi: "Kemudian siapa?" Beliau menjawab: "Ibumu." Orang itu bertanya lagi: "Kemudian siapa?" Beliau menjawab: "Ibumu." Orang itu bertanya lagi: "Kemudian siapa?" Beliau menjawab: "Kemudian ayahmu." (HR. Bukhari dan Muslim).
2. Gandengan Perintah Tauhid dan Berbakti
Di dalam Al-Qur'an, Allah SWT berulang kali menggandengkan perintah untuk mengesakan-Nya (Tauhid) dengan perintah untuk berbuat baik kepada orang tua. Ini menunjukkan betapa sakralnya kedudukan orang tua, terutama Ibu yang disebutkan secara spesifik kepayahannya.
Dalil Al-Qur'an (QS. Luqman: 14):
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu."
3. Berbakti kepada Ibu adalah Kunci Surga
Keridaan Allah SWT terletak pada keridaan orang tua. Bahkan, dalam beberapa riwayat, berbakti kepada Ibu secara langsung disebut sebagai jalan pintas atau kunci menuju surga.
Dalil Hadits:
Ketika Mu'awiyah bin Jahimah al-Salami datang kepada Nabi SAW. untuk meminta izin ikut berjihad, Nabi SAW. bertanya apakah ibunya masih hidup. Ketika dijawab masih, Nabi SAW, bersabda:
"Pergilah dan dampingilah dia, karena sesungguhnya surga itu berada di bawah kedua kakinya." (HR. An-Nasa'i dan Ibnu Majah).
4. Batasan Bakti Tanpa Batas
Istilah "bakti tanpa batas" berlaku dalam hal kasih sayang, ketaatan, nafkah, dan kesabaran dalam merawat mereka. Namun, Islam memberikan satu batasan mutlak: tidak boleh taat jika orang tua memerintahkan kemaksiatan atau syirik.
Meskipun anak wajib menolak perintah maksiat tersebut, anak tetap wajib memperlakukan mereka dengan sopan dan baik di dunia.
Dalil Al-Quran (QS. Luqman: 15):
"Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik..."
Bentuk Nyata Birrul Walidain kepada Ibu
Bertutur Kata Lembut: Melarang keras mengucapkan kata "ah" atau membentak (QS. Al-Isra: 23).
Menaati Perintahnya: Selama perintah tersebut tidak melanggar syariat agama.
Memberikan Nafkah: Membantu mencukupi kebutuhan finansial dan fisik Ibu, terutama di usia senjanya.
Mendoakannya: Selalu memohon ampunan untuknya, baik saat beliau masih hidup maupun setelah wafat.
Ibu adalah sosok yang paling berhak mendapatkan penghormatan dan kasih sayang terbaik Anda di dunia.
Prioritas Utama (Bagi Laki-laki): Seorang anak laki-laki tetap wajib berbakti dan menomorsatukan ibunya bahkan setelah menikah, selama perintah ibunya tidak bermaksiat kepada Allah SWT.
II. Hubungan dengan Pasangan Hidup: Ketenteraman Jiwa (Sakinah, Mawaddah, Warahmah)
Pernikahan dalam Islam dibangun di atas komitmen untuk saling melengkapi, melindungi, dan membahagiakan.
Menunaikan Hak dan Kewajiban: Suami wajib memberikan nafkah lahir batin dan memperlakukan istri dengan baik (mu'asyarah bil ma'ruf). Istri wajib menaati suami dalam kebaikan dan menjaga kehormatan rumah tangga.
Menjadi Pakaian yang Saling Melindungi: Sesuai QS. Al-Baqarah: 187, pasangan adalah "pakaian" bagi satu sama lain—berfungsi menutup aib, memberi kehangatan, dan menjaga kehormatan.
Komunikasi Penuh Kasih Sayang: Mencontoh Rasulullah SAW yang selalu memanggil istrinya dengan panggilan mesra, membantu pekerjaan rumah tangga, dan tidak pernah memukul atau menghina.
III. Cara Menyeimbangkan Keduanya agar Stabil.
Konflik sering terjadi ketika batasan antara peran sebagai "anak" dan "pasangan" menjadi kabur. Islam mengajarkan keadilan ('adl) dalam menempatkan sesuatu:
Pahami Porsi Keadilan
Adil tidak berarti memberikan jumlah waktu atau materi yang sama persis, melainkan memberikan hak masing-masing sesuai tempatnya. Jangan korbankan nafkah istri demi ibu, dan jangan telantarkan ibu demi menuruti keinginan istri.
Gunakan Komunikasi yang Bijak
Jika terjadi perbedaan pendapat antara ibu dan pasangan, posisikan diri Anda sebagai jembatan/penengah, bukan sebagai hakim yang langsung menyalahkan salah satu pihak.
Jaga Rahasia Rumah Tangga
Hindari menceritakan kekurangan atau masalah internal rumah tangga Anda bersama pasangan kepada ibu, kecuali jika benar-benar membutuhkan nasihat medis/hukum yang mendesak. Hal ini untuk mencegah munculnya prasangka.
Libatkan Allah SWT Bersama-sama
Saling mendoakan, melakukan ibadah bersama, dan meluruskan niat bahwa menyayangi ibu serta pasangan adalah bagian dari ibadah kepada Allah SWT.
Berikut ini adalah dalil-dalil sahih yang mendasari hal-hal tersebut:
1. Dalil Meluruskan Niat (Mencintai Keluarga karena Allah SWT)
Segala sesuatu, termasuk mencintai, memberi nafkah, dan menyayangi ibu serta pasangan, akan bernilai pahala yang besar jika diniatkan sebagai ibadah.
Hadis Riwayat Bukhari & Muslim:
"Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan."
Hadis Riwayat Bukhari (tentang memberi nafkah/kasih sayang ke keluarga):
"Jika seorang muslim memberikan nafkah kepada keluarganya dengan mengharap pahala dari Allah, maka nafkah tersebut bernilai sedekah baginya."
2. Dalil Beribadah Bersama dan Saling Mendoakan Pasangan
Suami istri yang saling mendukung dalam ketaatan dan beribadah bersama sangat dicintai oleh Allah SWT.
Al-Quran Surah Al-Furqan Ayat 74 (Doa untuk pasangan dan keturunan):
"Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa'."
Hadis Riwayat Abu Dawud & An-Nasa'i (Beribadah bersama):
"Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun di malam hari lalu shalat (tahajud) dan membangunkan istrinya. Jika istrinya enggan, ia memercikkan air ke wajahnya. Dan semoga Allah merahmati seorang istri yang bangun di malam hari lalu shalat dan membangunkan suaminya..."
3. Dalil Menyayangi dan Berbakti kepada Ibu
Menyayangi dan berbakti kepada ibu adalah salah satu perintah paling utama dalam Islam setelah tauhid.
Al-Quran Surah Al-Isra Ayat 23:
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya..."Hadis Riwayat Bukhari & Muslim (Ibu adalah yang paling berhak disayangi): Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, "Siapakah orang yang paling berhak aku roroti dengan baik?" Rasulullah menjawab, "Ibumu." Orang itu bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Rasulullah menjawab, "Ibumu." Orang itu bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Rasulullah menjawab, "Ibumu."Orang itu bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Rasulullah menjawab, "Kemudian ayahmu."
Kesimpulan
Ketika Anda meluruskan niat bahwa menyayangi ibu dan pasangan adalah bentuk kepatuhan kepada perintah Allah, maka setiap canda tawa, nafkah, bantuan, dan doa yang Anda panjatkan bersama mereka akan berubah menjadi aliran pahala di sisi Allah SWT.
Semoga dengan menjaga atau meningkatkan hubungan dengan Ibunda maupun pasangan akan mendatangkan ketentran dan kebahagiaan.
