Kenapa Bencana Datang Silih Berganti?

Penasihat PKP (Partai Keadilan dan Persatuan)
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Aunur Rofiq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini bencana alam di berbagai negara seolah datang silih berganti. Bencana alam merupakan suatu kejadian alam yang ekstrem tapi waktu tidak bisa diprediksi atau terjadi secara tiba-tiba, contohnya seperti tsunami, banjir, gempa, air bahn tanah longsor, dan lainnya.
Namun di balik terjadinya bencana alam, mungkin banyak menimbulkan banyak pertanyaan--apakah ini ulah manusia atau memang alam yang memberikan peringatan?
Di Islam, alasan terjadinya bencana alam terdapat dan tertulis di dalam Al-Quran. Berikut ini adalah alasan kenapa bencana air bah datang:
1. Hukuman atas Kufur dan Pembangkangan (Kisah Nabi Nuh AS)
Dalam Al-Quran, air bah besar pada zaman Nabi Nuh AS terjadi sebagai azab atau hukuman Allah kepada kaum yang kafir, menyembah berhala, dan terus-menerus mendustakan serta mengolok-olok ajakan Nabi Nuh selama ratusan tahun. Air bah tersebut menenggelamkan segala yang hidup, kecuali Nabi Nuh dan para pengikutnya yang berada di dalam bahtera.
Berikut ini dasar (dalil) nya adalah:
Surah Nuh (Surah ke-71): Surah ini secara khusus menceritakan dakwah Nabi Nuh, pembangkangan kaumnya, dan hukuman yang ditimpakan.
Surah Hud (Ayat 25-49): Menceritakan detail pembuatan bahtera, pembangkangan anak dan istri Nuh, serta azab banjir.
Surah Al-Mu'minun (Ayat 23-30): Menceritakan penolakan kaum Nuh dan perintah membuat bahtera.
Surah Al-Qamar (Ayat 9-15): Menjelaskan kedustaan kaum Nuh dan banjir sebagai hukuman.
Surah Asy-Syu'ara (Ayat 105-120): Kisah Nabi Nuh dan azab yang menimpa mereka.
Surah Al-A'raf (Ayat 59-64): Penolakan kaum Nuh dan kehancuran mereka.
2. Peringatan (Tazkirah) untuk Kembali kepada Allah SWT
Bencana air bah/banjir adalah peringatan agar manusia sadar dan kembali ke jalan yang benar. Ini adalah bentuk teguran atas kelalaian manusia, dosa-dosa yang dilakukan, serta kesadaran bahwa kuasa Allah jauh di atas segala kekuatan manusia.
Hal ini sebagaimana firman-Nya dalam Surah az-Zumar ayat 54-55 yang terjemahannya,” Kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak akan ditolong. Ikutilah sebaik-baik apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu (Al-Quran) sebelum azab datang kepadamu secara mendadak, sedangkan kamu tidak menyadarinya.”
Maknanya: Dan ingatkan juga kepada mereka, wahai Nabi Muhammad, “Kembalilah kamu kepada Tuhanmu Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan berserah dirilah selalu kepada-Nya dengan tulus sepenuh hati, sebelum datang azab kepadamu, yang kemudian membuat kamu tidak dapat ditolong lagi.”
Dan katakanlah kepada mereka, “Ikutilah dengan sebaik-baiknya apa yang telah diturunkan kepadamu, yakni Al-Quran, dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu secara mendadak apabila kamu tidak mau mengikuti petunjuk yang terdapat di dalamnya, sedang kamu tidak menyadarinya sehingga kamu tidak bersiap diri menghadapinya.”
3. Dampak Perbuatan Manusia (Fasad)
Bencana sering kali dan silih berganti merupakan konsekuensi logis dari perbuatan tangan manusia sendiri, baik kerusakan perilaku maupun kerusakan lingkungan. Allah berfirman dalam QS. Ar-Rum: 41 bahwa kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka.
Makna ar-Rum ayat 41 adalah:
Bila pada ayat-ayat sebelumnya Allah SWT. menjelaskan sifat buruk orang musyrik Makkah yang menuhankan hawa nafsu, melalui ayat ini Allah SWT. menegaskan bahwa kerusakan di bumi adalah akibat mempertuhankan hawa nafsu. Telah tampak kerusakan di darat dan di laut, baik kota maupun desa, disebabkan karena perbuatan tangan manusia yang dikendalikan oleh hawa nafsu dan jauh dari tuntunan fitrah. Allah SWT. menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan buruk mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar dengan menjaga kesesuaian perilakunya dengan fitrahnya.
4. Ujian untuk Meningkatkan Derajat
Musibah berupa banjir juga menjadi ujian (ujian keteguhan iman) bagi orang-orang beriman. Allah SWT. ingin menguji siapa yang bersabar dan tetap taat, yang pada akhirnya akan menggugurkan dosa-dosa mereka.
Berikut ini adalah surah-surah dan ayat-ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang ujian untuk meningkatkan derajat:
Surah Al-Baqarah Ayat 155-157 menegaskan bahwa Allah akan menguji manusia dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Allah memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, di mana ujian tersebut meningkatkan derajat mereka menjadi golongan yang mendapat keberkahan, rahmat, dan petunjuk.
Surah Al-Anbiya Ayat 35 :
Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan." Ayat ini menjelaskan bahwa ujian bisa berupa kesenangan maupun kesulitan.
Surah Al-Mulk Ayat 2:
menyatakan bahwa Allah menciptakan hidup dan mati untuk menguji siapa yang paling baik amalnya. Ujian ini bertujuan meningkatkan kualitas keimanan.
Surah Al-Baqarah Ayat 214 :
Menjelaskan bahwa ujian berat juga menimpa orang-orang sebelum umat Nabi Muhammad SAW, seperti kesulitan fisik dan ketakutan, untuk menguji kesabaran dan meningkatkan kualitas iman mereka.
Surah Asy-Syu'ara Ayat 30 :
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." Ujian dalam bentuk musibah ini seringkali merupakan cara Allah menghapus dosa dan menaikkan derajat.
Surah Al-Mujadalah Ayat 11 :
Meskipun fokus pada ilmu, ayat ini menegaskan bahwa Allah mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat. Ujian dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya adalah salah satu jalan peningkat derajat.
Surah Al-Insyirah Ayat 5-6 :
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." Ayat ini memotivasi bahwa di balik setiap ujian yang meningkatkan derajat, terdapat kemudahan yang Allah janjikan.
Inti Ujian:
Ujian dalam Al-Quran bukan bentuk hukuman, melainkan cara Allah menaikkan derajat seorang hamba yang beriman, asalkan dihadapi dengan sabar dan ikhlas.
5. Pergeseran Nilai (Lalai dari Bersyukur)
Bencana bisa datang ketika manusia terlalu sibuk dengan duniawi, menyalahgunakan harta/kekuasaan, dan lupa bersyukur atas nikmat Allah (kufur nikmat).
Surah Ghafir (ayat 61):
Menyatakan bahwa meskipun Allah SWT. memberikan banyak karunia, sebagian besar manusia tidak bersyukur.
"...Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur."
Semoga tulisan ini menjadikan sadar dan memahami khususnya para elite penguasa.
