Kerinduan Menjadi Mencintai-Nya

Penasihat PKP (Partai Keadilan dan Persatuan)
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Aunur Rofiq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam tasawuf, kerinduan (syauq) adalah buah dari cinta sejati (mahabbah) kepada Allah SWT. Ia merupakan gejolak emosi dan jiwa yang membakar, mendorong seorang hamba untuk melepas keterikatan duniawi dan sangat ingin berjumpa serta menatap Wajah-Nya di akhirat kelak.
Menurut Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin, kerinduan tidak akan pernah muncul tanpa adanya cinta. Rindu adalah kelanjutan logis saat hati telah mencintai Zat yang dicintainya. Dalam perspektif Islam, khususnya merujuk pada pemikiran Imam Al-Ghazali dalam kitab masterpiece-nya, Ihya' Ulumuddin, buah dari mahabbah (cinta kepada Allah) salah satunya adalah lahirnya rasa syauq (kerinduan) yang mendalam.
Rasa rindu bersifat alami dan tidak bisa dikendalikan oleh kehendak biasa; ia menarik jiwa secara kuat menuju Asalnya. Dalam khazanah tasawuf dan filsafat Islam—seperti yang diuraikan oleh Imam Al-Ghazali dan Jalaluddin Rumi—sifat rindu yang qahri (memaksa/tidak terkendali) dan menarik jiwa kembali ke Asalnya (Allah SWT) bersandar pada dalil Al-Quran tentang fitrah asal-usul jiwa manusia, serta Hadis Qudsi mengenai kerinduan Allah kepada hamba-Nya dan sebaliknya.
Berikut ini adalah dalil-dalil utama yang mendasari konsep tersebut:
1. Dalil Al-Quran tentang Perjanjian Asali Jiwa (Mithaq).
Secara hakiki, kerinduan jiwa muncul karena jiwa manusia pernah berada di hadirat Allah SWT sebelum ditiupkan ke dalam jasad fisik di dunia. Jiwa ditarik secara paksa (qahri) menuju Asalnya karena ia mengenali "Rumah" aslinya.
QS. Al-A'raf: 172:
”Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), 'Bukankah Aku ini Tuhanmu?' Mereka menjawab, 'Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.'..."
Jiwa manusia memiliki memori spiritual pra-eksistensi di alam ruh. Kerinduan yang bersifat qahri (tak terbendung) timbul akibat dorongan alami sang jiwa yang gelisah dan ingin pulang ke habitat asalnya yang damai di sisi Sang Pencipta.
2. Dalil Hadis Qudsi tentang Kerinduan Bertemu Allah
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa rindu (syauq) adalah konsekuensi logis dari cinta (mahabbah). Sifat memaksanya rindu ini dikuatkan oleh hadis yang menyatakan bahwa kerinduan jiwa untuk bertemu Tuhan akan dibalas dengan kerinduan-Nya yang lebih besar.
Hadis Qudsi (Riwayat Al-Bukhari),”….Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sedepa... dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku mendatangi-Nya dengan berlari."
Sufi seperti Ibn Arabi memandang kerinduan bukan kelemahan, melainkan kemuliaan ruh yang merindukan Asal-Usulnya (Allah SWT). Dalam pandangan Ibn 'Arabi dan tradisi tasawuf, kerinduan (syauq) terhadap Sang Pencipta bukanlah sebuah bentuk kelemahan emosional atau kekurangan psikologis. Sebaliknya, kerinduan adalah tanda kemuliaan ruh yang sadar akan asal-usulnya dan rindu untuk kembali pulang kepada Allah SWT.
Rindu itu menyakitkan karena ada jarak, namun terasa nikmat karena diiringi harapan akan pertemuan (liqa'). Ungkapan "kegelisahan yang menenangkan" dalam konteks rindu (syauq) dan pertemuan (liqa') berakar kuat dalam tradisi spiritual Islam (tasawuf). Di dalam Al-Quran dan Hadis, konsep rindu yang menyakitkan namun membawa harapan akan pertemuan ini didasarkan pada beberapa dalil berikut:
1. Dalil Al-Quran: Penawar Rindu adalah Pertemuan
Allah SWT berfirman mengenai kepastian datangnya hari pertemuan bagi mereka yang berharap dan merindukan-Nya,” Barangsiapa berharap bertemu dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu pasti datang. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui." (QS. Al-Ankabut ayat 5).
Ayat ini menjadi penghibur dan penenang bagi jiwa yang gelisah karena rindu. Allah menegaskan bahwa rasa sakitnya penantian itu sifatnya sementara, karena ajal (waktu pertemuan yang dijanjikan) pasti akan tiba.
2. Dalil Hadis: Kerinduan yang Timbal Balik
Rasa rindu (syauq) yang diiringi harapan akan pertemuan (liqa') tercermin dalam hadis sahih tentang bagaimana Allah mencintai hamba yang merindukan pertemuan dengan-Nya.
Barang siapa yang mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah pun mencintai pertemuan dengannya. Dan barangsiapa yang membenci pertemuan dengan Allah, maka Allah pun membenci pertemuan dengannya." (HR. Bukhari & Muslim)
Rasa gelisah akibat rindu berubah menjadi "nikmat" (kegelisahan yang menenangkan) karena adanya keyakinan (harapan) bahwa Sang Kekasih (Allah) juga rindu dan mencintai momen pertemuan tersebut.
Dalil dan Landasan Kerinduan
Hadits/Atsar tentang kerinduan kepada Allah SWT, diriwayatkan dalam sebuah atsar bahwa Allah SWT berfirman:
"Ingatlah, sesungguhnya orang-orang yang saleh telah lama rindu untuk berjumpa dengan-Ku, dan Aku lebih rindu lagi kepada mereka."
Semangat pertemuan dengan Allah (QS. Al-Ankabut: 5):
"Barang siapa yang mengharap perjumpaan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang ditetapkan) Allah itu pasti datang. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Rasulullah SAW sering memanjatkan doa yang menunjukkan kerinduan mendalam kepada Sang Pencipta:
"Dan aku memohon kepada-Mu kelezatan memandang wajah-Mu, serta kerinduan untuk berjumpa dengan-Mu tanpa marabahaya yang memudaratkan dan fitnah yang menyesatkan." (HR. An-Nasa'i).
Dikisahkan seseorang berjalan merangkak dari Samarqand ke Makkah Al-Mukarramah selama 10 tahun. Ada yang bertanya,” Atas keadaanmu yang lemah dan perjalanan jauh yang kau tempuh ini ?.”
Kemudian jawabnya,” Kerinduanku terhadap tempat yang aku tuju membuat jauhnya perjalanan ini menjadi dekat. Adapun keadaanku yang lemah ini, Allah SWT yang akan membawaku, aku menempuh perjalanan ini dengan kekuatan yang Dia berikan. Apakah engkau heran terhadap seorang hamba yang lemah yang diberikan kekuatan oleh Allah SWT. Yang Mahalembut?”
Itulah kerinduan seseorang, jadikanlah ini menjadi mencintai-Nya.
