Keseimbangan

Penasihat PKP (Partai Keadilan dan Persatuan)
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Aunur Rofiq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Keseimbangan dalam Islam (tawazun) adalah prinsip fundamental yang menyelaraskan urusan duniawi dan ukhrawi, jasmani dan rohani, serta hak individu dan sosial. Islam melarang ekstremisme, mendorong ummatan wasathan (umat pertengahan) yang moderat, serta memastikan kehidupan yang serasi antara ibadah, bekerja, dan menjaga lingkungan.
Keseimbangan ini menyikapi suatu keadaan. Hal ini sebagaimana firman-Nya dalam Surah al-Hadid ayat 23 yang terjemahannya,” Yang demikian itu kami tetapkan) agar kamu tidak bersedih terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
Maknanya: Pada ayat ini Allah SWT. menyatakan bahwa semua peristiwa itu ditetapkan sebelum terjadinya, agar manusia bersabar menerima cobaan-Nya. Cobaan Allah SWT. itu adakalanya berupa kesengsaraan dan malapetaka, adakalanya berupa kesenangan dan kegembiraan. Karena itu janganlah terlalu bersedih hati menerima kesengsaraan dan malapetaka yang menimpa diri, sebaliknya jangan pula terlalu bersenang hati dan bergembira menerima sesuatu yang menyenangkan hati.
Sikap yang paling baik ialah sabar dalam menerima bencana dan malapetaka yang menimpa serta bersyukur kepada Allah SWT atas setiap menerima nikmat yang dianugerahkan-Nya. Ayat ini bukan untuk melarang kaum Muslimin bergembira dan bersedih hati, tetapi maksudnya ialah melarang kaum Muslimin bergembira dan bersedih hati dengan berlebih-lebihan. ‘Ikrimah berkata, “Tidak ada seorang pun melainkan ia dalam keadaan sedih dan gembira, tetapi hendaklah ia menjadikan kegembiraan itu sebagai tanda bersyukur kepada Allah SWT. dan kesedihan itu sebagai tanda bersabar.”
Pada akhir ayat ini ditegaskan, bahwa orang yang terlalu bergembira menerima sesuatu yang menyenangkan hatinya dan terlalu bersedih hati menerima bencana yang menimpanya adalah orang yang pada dirinya terdapat tanda-tanda tabkhīl dan angkuh, seakan-akan ia hanya memikirkan kepentingan dirinya saja. Allah SWT. menyatakan bahwa Dia tidak menyukai orang-orang yang mempunyai sifat-sifat bakhil dan angkuh.
Berikut ini adalah keutamaan keseimbangan dalam Islam:
1. Mencapai Kebahagiaan Hakiki Dunia dan Akhirat
Islam tidak memerintahkan umatnya untuk hanya fokus beribadah di masjid, juga tidak membolehkan hanya mengejar materi. Keseimbangan membuat seorang Muslim dapat menikmati kehidupan dunia yang baik sambil tetap menabung amal untuk keabadian akhirat.
Prinsip: Mencari dunia seakan hidup selamanya, dan mencari akhirat seakan mati besok.
Kebahagiaan hakiki dalam Islam adalah tercapainya ketenangan jiwa (sakinah) dan ketaatan kepada Allah, yang bersumber dari iman, amal saleh, dan ridha-Nya, sehingga membawa kebahagiaan di dunia serta keselamatan abadi di akhirat. Kuncinya adalah menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat, menjadikan dunia sebagai jembatan, bukan tujuan utam99a.
2. Terciptanya Kehidupan yang Adil dan Harmonis
Konsep mizan (neraca/keseimbangan) yang ditetapkan Allah mencakup keadilan dalam menempatkan segala sesuatu. Ini mendidik individu untuk adil terhadap Allah, diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.
Dasar Al-Quran
Perintah Berlaku Adil (QS. Al-Ma'idah ayat 8). Menegaskan pentingnya menegakkan keadilan kepada siapa pun, bahkan kepada kelompok yang tidak disukai, sebagai wujud ketakwaan.
Keadilan dan Kebaikan (QS. An-Nahl ayat 90). Perintah langsung dari Allah untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan dalam bermasyarakat.
Dasar Hadis
Kasih Sayang dan Keadilan (HR. Bukhari). Hadis yang menekankan bahwa perlakuan adil dan penuh kasih sayang kepada sesama adalah cermin iman.
Pemimpin yang Adil (HR. Muslim). Janji surga bagi pemimpin atau penguasa yang adil dalam memerintah.
3. Mencegah Perilaku Ekstrem (Ghuluw)
Islam adalah agama yang komprehensif dan tidak menyukai berlebihan, bahkan dalam ibadah. Keseimbangan menjaga seorang Muslim agar tidak menjadi fanatik yang merusak, atau terlalu santai sehingga melupakan kewajiban.
Mencegah ghuluw (sikap ekstrem/berlebihan) dalam Islam dilakukan dengan berpegang pada prinsip wasathiyah (moderat), mempelajari agama dari sumber sahih, serta mengikuti petunjuk Al-Quran dan Sunah tanpa melampaui batas. Islam melarang keras ekstremisme dalam ibadah, akidah, maupun perilaku sehari-hari karena dapat membinasakan umat, menyebabkan kefasikan, dan menyimpang dari jalan yang lurus
4. Menjaga Kesehatan Rohani, Akal, dan Fisik
Keutamaan ini berfokus pada pemenuhan hak setiap komponen diri:
Roh: Membutuhkan ibadah agar tenang.
Akal: Membutuhkan ilmu dan literasi.
Jasad: Membutuhkan makanan dan istirahat.
Dalil: Rasulullah SAW bersabda bahwa badan, mata, dan istri masing-masing memiliki hak yang harus ditunaikan.
5. Mewujudkan Ummatan Wasathan (Umat Moderat)
Islam membentuk pribadi yang wasathiyah (tengah-tengah), yaitu umat yang adil dan seimbang dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Hal ini menjadikan Islam sebagai rahmatan lil 'alamin.
6. Menjaga Kelestarian Alam
Keseimbangan juga mencakup hubungan manusia dengan lingkungan. Manusia diperintahkan untuk tidak berbuat kerusakan di bumi dan menjaga ekosistem sebagai bentuk syukur.
Contoh Penerapan Keseimbangan:
Bekerja mencari nafkah halal (dunia) diniatkan untuk ibadah (akhirat).
Menjaga kesehatan fisik (olahraga/makan sehat) untuk mendukung kekhusyukan ibadah.
Dengan menerapkan keseimbangan, kehidupan seorang Muslim menjadi teratur, produktif, dan lebih tenang. Semoga kita semua memahami dan menerapkan dalam kehidupan.
