Konten dari Pengguna

Lahan Rusak

Aunur Rofiq

Aunur Rofiq

Penasihat PKP (Partai Keadilan dan Persatuan)

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aunur Rofiq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi lahan pertanian. Foto: Dok. Kementan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi lahan pertanian. Foto: Dok. Kementan

Mayoritas Tanah Rusak (Data 2022-2025) menurut informasi yang disampaikan dalam berita LPDP Kemenkeu, 70% tanah pertanian di Indonesia sudah "sakit" atau rusak, yang disebabkan oleh penggunaan pupuk kimia yang tinggi.

Hampir 82% lahan di Indonesia, atau sekitar 157 juta hektare, tergolong sebagai lahan marginal (kurang subur) dengan produktivitas rendah akibat kendala fisik, kimia, dan biologis tanah.

Lahan pertanian yang sudah terdegradasi berat dan tergolong lahan kritis luasnya mencapai sekitar 48,3 juta hektare atau sekitar 25,1% dari luas wilayah Indonesia.

Pada tahun 2023, dilaporkan sekitar 2% dari 7 juta hektare lahan pertanian utama di Indonesia sudah terdegradasi parah, terutama di Pulau Jawa.

Selain kesuburan yang menurun, Indonesia kehilangan sekitar 110.000 hektare lahan pertanian produktif setiap tahunnya akibat konversi ke sektor non-pertanian.

Penyebab Utama:

  1. Penggunaan pupuk kimia secara berlebihan yang merusak mikroorganisme tanah.

  2. Kurangnya penggunaan bahan organik (pupuk kandang/kompos).

  3. Alih fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman atau industri.

Upaya pemerintah melalui Kementerian Pertanian saat ini gencar mempromosikan kembali penggunaan pupuk organik untuk memulihkan kesehatan tanah.

Pupuk hayati yang cocok untuk menyuburkan tanah adalah yang mengandung mikroorganisme aktif seperti Rhizobium, Trichoderma, Bacillus, atau mikoriza yang membantu memperbaiki struktur tanah dan mengikat unsur hara. Produk populer seperti Pupuk Dinosaurus (cair/bio-organik) atau Fumyza (powder) sangat efektif meningkatkan kesuburan tanah marginal dan memicu pertumbuhan.

Berikut ini adalah beberapa pilihan pupuk hayati dan pembenah tanah yang cocok:

  • Pupuk Hayati Cair/Bio-organik: Contohnya Pupuk Dinosaurus, efektif meningkatkan kesuburan, memperbaiki struktur tanah, dan meningkatkan produktivitas.

  • Pupuk Hayati Powder (Tepung): Fumyza cocok untuk lahan kering, marginal, dan kekurangan fosfor, dengan aplikasi yang mudah.

  • Mikroba Fungsional: Trichoderma sangat baik untuk menekan penyakit tular tanah, sementara Azotobacter membantu mengikat nitrogen.

  • Pupuk Organik Padat/Kompos: Menggunakan kompos atau pupuk kandang yang diperkaya mikroba adalah cara terbaik memperbaiki struktur tanah.

Tips Pemilihan:

  • Tanah Liat: Butuh pupuk kompos atau arang untuk menambah oksigen.

  • Tanah Pasir: Butuh tambahan kompos dan bahan organik yang banyak.

  • Tanah Kering/Marginal: Gunakan pupuk hayati yang mengandung fungi mikoriza untuk membantu penyerapan air dan unsur hara.

Penggunaan pupuk hayati disarankan bersamaan dengan bahan organik seperti kompos (pupuk kandang) agar mikroba dapat berkembang biak dengan baik.

Asam humat dan biochar adalah dua jenis pembenah tanah (soil conditioner) organik yang sangat efektif meningkatkan kesuburan tanah, baik secara fisik, kimia, maupun biologi. Keduanya sering digunakan bersamaan untuk hasil maksimal, terutama pada lahan yang lelah, tandus, atau tanah pasir.

Berikut ini adalah rincian fungsi masing-masing dan kombinasinya:

1. Fungsi Asam Humat (Humic Acid)

Asam humat adalah hasil akhir dekomposisi bahan organik yang kaya karbon dan berfungsi meningkatkan kesuburan tanah secara cepat.

Memperbaiki Sifat Kimia: Meningkatkan Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah, sehingga tanah lebih mampu mengikat dan menahan nutrisi agar tidak tercuci oleh hujan, serta membantu menetralkan pH tanah (menurunkan keasaman/aluminium tanah).

Memperbaiki Sifat Fisik: Menggemburkan tanah, meningkatkan kemampuan tanah menahan air (water holding capacity), serta mengurangi risiko erosi.

Merangsang Biologi Tanah: Menjadi sumber makanan bagi mikroorganisme baik di dalam tanah dan memacu pertumbuhan akar tanaman.

Meningkatkan Efisiensi Pupuk: Mengikat sisa-sisa pupuk kimia (residu) agar dapat digunakan kembali oleh tanaman, sehingga menghemat penggunaan pupuk.

2. Fungsi Biochar

Biochar adalah arang hasil pirolisis (pembakaran tanpa oksigen) biomassa yang memiliki pori-pori tinggi dan sangat stabil di dalam tanah.

Rumah Mikroba: Pori-pori biochar menjadi tempat tinggal bagi mikroba tanah yang menguntungkan, sehingga populasi mikroba meningkat.

Retensi Air dan Hara: Struktur berpori biochar mampu menyimpan air dan unsur hara (terutama di tanah pasir), mencegah hara hilang ke lapisan tanah dalam.

Meningkatkan pH Tanah: Umumnya, biochar bersifat basa, sehingga efektif menaikkan pH pada tanah asam, berbeda dengan asam humat yang cenderung menstabilkan/menetralkan.

Karbon Stabil: Biochar bertahan ratusan tahun di tanah, meningkatkan kandungan karbon organik secara permanen.

3. Kombinasi Asam Humat dan Biochar

Penggunaan bersamaan kedua bahan ini memberikan efek sinergis ("rumah" + "makanan"):

Biochar menyediakan struktur fisik (rumah) yang tahan lama.

Asam Humat mengisi pori-pori biochar dan menyediakan nutrisi (makanan) untuk mikroba.

Hasil: Tanah menjadi lebih gembur, nutrisi terjaga, mikroba aktif, dan tanaman lebih tahan stres.

Akankah nanti tahun 2030 kita masih bisa berswasembada pangan? Tentu kita akan ikuti perbaikan lahan yang telah rusak.