Konten dari Pengguna

Majulah Tanpa Menyingkirkan dan Naiklah Tanpa Menjatuhkan.

Aunur Rofiq

Aunur Rofiq

Penasihat PKP (Partai Keadilan dan Persatuan)

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aunur Rofiq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Al Quran. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Al Quran. Foto: Shutterstock

Makna "majulah tanpa menyingkirkan dan naiklah tanpa menjatuhkan" dalam Islam adalah meraih kesuksesan dengan cara yang jujur, adil, dan tidak merugikan orang lain. Prinsip ini mengajarkan bahwa kemuliaan sejati didapat melalui kerja keras yang bersih serta akhlak yang mulia tanpa harus mengorbankan atau merendahkan sesama manusia.

Landasan Ajaran Islam.

A. Kasih Sayang dan Persaudaraan: Islam melarang perbuatan zalim dan merugikan orang lain demi kepentingan pribadi. Dalam ajaran Islam, perbuatan zalim dan merugikan orang lain sangat dilarang. Allah SWT melarang kezaliman bagi diri-Nya dan mengharamkannya antarsesama manusia. Salah satu dalil utamanya terdapat dalam Hadis Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: "Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku telah mengharamkan kezaliman itu di antara kalian, maka janganlah kalian saling berlaku zalim."

Dalil Al-Qur'an.

Surat Al-Baqarah ayat 279: Larangan memakan riba yang merugikan orang lain ("Janganlah kamu menzalimi dan tidak pula dizalimi").

Surat Al-Hujurat ayat 11: Larangan saling mengolok-olok antarsesama kaum beriman ("Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain...").

Surat An-Nisa ayat 29: Larangan memakan harta sesama secara batil atau tidak sah.

Dalil Hadis Nabi SAW.

Larangan Merugikan: Sabda Nabi SAW, "Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh pula membahayakan orang lain" (HR. Ibnu Majah dan Ahmad).

Hak Sesama Muslim: Sabda Nabi SAW, "Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Ia tidak boleh mendzaliminya dan tidak pula menyerahkannya kepada musuh" (HR. Bukhari dan Muslim).

B. Menjaga Kehormatan: Setiap Muslim wajib menjaga harga diri saudaranya dan tidak boleh saling menjatuhkan. Menjaga kehormatan artinya setiap Muslim wajib melindungi harga diri, nama baik, dan kehormatan sesama saudara seiman. Anda tidak boleh saling menjatuhkan, menghina, atau merendahkan orang lain. Tindakan ini menciptakan ikatan yang kuat dan damai di dalam masyarakat.

Alasan Utama Menjaga Kehormatan.

Larangan Menghina: Allah SWT. melarang suatu kaum mengolok-olok kaum lain karena bisa jadi yang diolok lebih baik.

Larangan Berburuk Sangka: Anda tidak boleh mencari-cari kesalahan atau curiga berlebihan kepada sesama Muslim.

Larangan Bergosip: Membicarakan kejelekan saudara sendiri sama dengan memakan daging saudaranya yang sudah mati.

Menjaga Persaudaraan: Sikap saling menghargai membuat hubungan antarmanusia menjadi rukun dan harmonis.

C. Kerja Keras yang Halal: Meraih posisi tinggi harus dengan prestasi dan usaha yang diridhai Allah SWT, bukan dengan intrik. Meraih posisi tinggi atau rezeki harus dengan cara yang halal, prestasi, dan usaha jujur yang diridhai Allah SWT, bukan dengan intrik, kecurangan, atau sogokan. Islam melarang cara kotor dan memerintahkan kita untuk bersaing dalam kebaikan secara jujur.

Dalil Al-Qur'an.

Surat Al-Baqarah Ayat 188:"Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu urusan harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui."

Surat Al-Ma'idah Ayat 2:"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran."

Surat Al-Muthaffifin Ayat 26:"Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba."

Dalil Hadits.

Hadits Riwayat Tirmidzi:"Barang siapa yang curang, maka ia bukan golongan kami." (HR. Tirmidzi). Kecurangan dalam bentuk intrik atau menjatuhkan orang lain demi jabatan adalah bentuk kelicikan yang dibenci dalam Islam.

Hadits Riwayat Ahmad:"Sesungguhnya Allah SWT itu suci dan tidak menerima kecuali yang suci." Hal ini menegaskan bahwa jabatan atau hasil yang didapat dari cara kotor tidak akan membawa berkah.

Prinsip Usaha yang Diridhai.

Kejujuran: Bekerja dan berprestasi tanpa merugikan orang lain.

Amanah: Menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab jika dipercaya.

Tawakal: Menyerahkan hasil akhir kepada Allah setelah berusaha maksimal dengan cara yang bersih

Nilai-Nilai Utama.

1.Amanah dan Kejujuran: Berkompetisi secara sehat tanpa kecurangan. Amanah dan kejujuran dalam berkompetisi berarti bersaing secara jujur, sportif, dan tanpa kecurangan. Hal ini didasarkan pada perintah Allah SWT untuk berbuat benar serta menjauhi segala bentuk kebohongan dan khianat dalam setiap tindakan dan perlombaan kehidupan.

Makna Amanah dan Kejujuran dalam Kompetisi.

Amanah (Kepercayaan): Menjaga kepercayaan yang diberikan dengan melakukan yang terbaik secara adil.

Kejujuran (Shiddiq): Bertindak sesuai kenyataan tanpa memanipulasi hasil atau proses.

Sportivitas: Menerima kemenangan dengan rendah hati dan kekalahan dengan lapang dada.

Larangan Curang: Menghindari segala cara kotor untuk menjatuhkan orang lain.

Dalil tentang Kejujuran dan Amanah.

Surat Al-Ma'idah Ayat 2:
Allah SWT berfirman agar manusia saling menolong dalam kebaikan dan takwa, serta tidak berbuat dosa dan permusuhan.

Surat Al-Ahzab Ayat 70:
Perintah untuk bertakwa kepada Allah dan selalu berkata yang benar (qaulan sadida).

Hadits Riwayat Muslim:
Nabi Muhammad SAW bersabda, "Barang siapa yang menipu, maka dia bukan dari golongan kami." (HR. Muslim).

2.Rendah Hati (Tawadhu): Tidak sombong saat naik ke posisi yang lebih tinggi. Rendah hati atau tawadhu adalah sikap tidak sombong saat seseorang berada di posisi tinggi, kaya, atau sukses. Sikap ini membuat seseorang tetap menyadari bahwa semua pencapaian adalah titipan Tuhan dan tidak memandang remeh orang lain.

3.Saling Mendukung (Ta'awun): Membantu orang lain untuk maju bersama-sama dalam kebaikan. Dalil tentang saling mendukung (ta'awun) dalam kebaikan terdapat dalam Al-Qur'an Surah Al-Ma'idah ayat 2, yang memerintahkan kita untuk tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa, serta melarang tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.

Bunyi Dalil (QS. Al-Ma'idah ayat 2),”

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.

Semoga kita semua berakhlak “maju tanpa menyingkirkan dan naik tanpa menjatuhkan.”