Konten dari Pengguna

Perdamaian Merupakan Upaya Menjaga Bumi

Aunur Rofiq

Aunur Rofiq

Penasihat PKP (Partai Keadilan dan Persatuan)

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aunur Rofiq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kedamaian di bumi jika tanpa perang. Foto: Unspalsh
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kedamaian di bumi jika tanpa perang. Foto: Unspalsh

Manusia adalah pemimpin di muka bumi ini. Islam mengajarkan sebagaimana dalam Surah al-Baqarah ayat 30 yang terjemahannya,

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Maknanya: setelah pada ayat-ayat terdahulu Allah SWT menjelaskan adanya kelompok manusia yang ingkar atau kafir kepada-Nya. Maka pada ayat ini Allah SWT menjelaskan asal muasal manusia sehingga menjadi kafir: yaitu kejadian pada masa Nabi Adam. Dan ingatlah, satu kisah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat,

“Aku hendak menjadikan khalifah, yakni manusia yang akan menjadi pemimpin dan penguasa, di bumi.”

Khalifah itu akan terus berganti dari satu generasi ke generasi sampai hari kiamat nanti dalam rangka melestarikan bumi ini dan melaksanakan titah Allah yang berupa amanah atau tugas-tugas keagamaan.

Para malaikat dengan serentak mengajukan pertanyaan kepada Allah SWT, untuk mengetahui lebih jauh tentang maksud-Nya. Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang memiliki kehendak atau ikhtiar dalam melakukan satu pekerjaan sehingga berpotensi merusak dan menumpahkan darah di sana dengan saling membunuh, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?”

Ilustrasi perang. Foto: REUTERS/Dado Ruvic

Malaikat menganggap bahwa diri merekalah yang patut untuk menjadi khalifah karena mereka adalah hamba Allah yang sangat patuh, selalu bertasbih, memuji Allah, dan menyucikan-Nya dari sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya. Menanggapi pertanyaan malaikat tersebut, Allah berfirman,

“Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Penciptaan manusia adalah rencana besar Allah di dunia ini. Allah Maha Tahu bahwa pada diri manusia terdapat hal-hal negatif sebagaimana yang dikhawatirkan oleh malaikat, tetapi aspek positifnya jauh lebih banyak. Dari sini bisa diambil pelajaran bahwa sebuah rencana besar yang mempunyai kemaslahatan yang besar jangan sampai gagal hanya karena kekhawatiran adanya unsur negatif yang lebih kecil pada rencana besar tersebut.

Adapun seseorang yang merasa kuat, sehingga hampir mengidentikkan diri sebagai yang paling berkuasa, akhirnya ia merasa karena dirinya seseorang menjadi (pada posisi saat ini). Perasaan seperti ini, yang menjadikan ia merusak tatanan kehidupan dunia. Kekuatan yang dimiliki akan dikerahkan sepenuhnya untuk sesuatu yang menjadi keinginannya, ia lupa bahwa dirinya akan mati (kisah Fir’aun yang mati tenggelam di laut dan jasadnya masih utuh sebagai pelajaran bagi generasi berikutnya yang berpikir).

Seseorang seperti ini sudah bukan sombong dan takabur, namun sudah mendekati atau seakan menyaingi Sang Pencipta. Tentu hal ini akan berbuah kemurkaan-Nya. Larangan menyekutukan Allah (syirik) terdapat di banyak ayat dalam Al-Qur'an, di antaranya yang paling utama adalah:

"Janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

Nasihat Luqman kepada anaknya dalam Surah Luqman Ayat 13

Surah An-Nisa' Ayat 48 & 116. Penegasan bahwa Allah SWT. tidak akan mengampuni dosa syirik. Surah Al-Baqarah Ayat 22: larangan menjadikan tandingan bagi Allah SWT. Adapun maknanya adalah Sesungguhnya Dialah yang dengan kekuasaan-Nya menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu sehingga layak dan nyaman untuk dihuni, dan menjadikan di atas kamu langit dan benda-benda yang ada padanya sebagai atap, atau sebagai bangunan yang cermat, indah, dan kukuh.

Dan Dialah yang menurunkan sebagian dari air, yaitu air hujan, dari langit yang menjadi sumber kehidupan. Lalu Dia hasilkan dengan air itu sebagian dari buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah yang telah menciptakan sedemikian rupa dan telah memberimu rezeki, padahal kamu dengan fitrah kesucian yang ada dalam diri mengetahui bahwa Allah tidak ada yang menyerupai-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan tidak ada yang memberi rezeki selain-Nya, maka janganlah kamu menyimpang dari fitrah itu.

Surah An-Nisa' Ayat 36. Perintah menyembah Allah SWT. dan larangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Maknanya adalah Dan sembahlah Allah Tuhan yang menciptakan kamu dan pasangan kamu, dan janganlah kamu sekali-kali mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah dengan sungguh-sungguh kepada kedua orang tua, juga kepada karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh walaupun tetangga itu nonmuslim, teman sejawat, ibnu sabil, yakni orang dalam perjalanan bukan maksiat yang kehabisan bekal, dan hamba sahaya yang kamu miliki.

Sungguh, Allah SWT tidak menyukai dan tidak melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada orang yang sombong dan membanggakan diri di hadapan orang lain. Tentu seseorang yang memaksakan kehendak dan memulai untuk berperang, tentu akan merusak kehidupan di bumi dan tindakan ini dilaknat oleh-Nya.

Asap mengepul setelah serangan Israel di Nabatieh, Lebanon, Kamis (16/4/2026). Foto: Stringer/REUTERS

Ayat-ayat tersebut menegaskan syirik sebagai dosa terbesar. Berdasarkan prinsip-prinsip Islam, berikut ini adalah ciri-ciri seseorang yang ingin menandingi kekuasaan-Nya :

Merasa Dirinya Paling Berkuasa & Sombong (Kibr):

Orang tersebut merasa tidak membutuhkan Tuhan, menganggap dirinya superior, dan merendahkan orang lain. Ini mirip dengan sifat Firaun yang berkata "Akulah tuhanmu yang paling tinggi".

Mengubah atau Menolak Hukum Allah SWT

Mereka membuat peraturan atau hukum sendiri yang bertentangan dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah, lalu memaksa orang lain mengikutinya.

Zalim dan Sewenang-wenang

Menggunakan kekuasaan untuk menindas rakyat, bertindak tidak adil, dan tidak amanah. Mereka menjadikan jabatan sebagai alat untuk memiliki kekayaan negeri, bukan melayani.

Menyesatkan Umat (Fitnah)

Melakukan segala cara untuk menjauhkan manusia dari ajaran Allah, termasuk menggunakan harta dan media untuk memutarbalikkan fakta.

Ingkar Janji dan Tidak Amanah

Pemimpin yang tidak menepati janji dan menyia-nyiakan amanah dianggap tidak layak dan berpotensi zalim.

Mencari Kekuasaan untuk Kemuliaan Diri

Islam tidak menganjurkan mencari jabatan demi kekuasaan itu sendiri. Seseorang yang bernafsu mengejar jabatan untuk kemuliaan diri (bukan melayani) cenderung akan melampaui batas.

Ciri-ciri ini seringkali melekat pada sosok pemimpin yang zalim, yang menurut Islam akan mendatangkan kehancuran dan azab.