Konten dari Pengguna

Pesimis dan Sikap Negatif

Aunur Rofiq

Aunur Rofiq

Penasihat PKP (Partai Keadilan dan Persatuan)

·waktu baca 7 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aunur Rofiq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi orang pesimis. Foto: Jihan Nafiaa Zahri/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi orang pesimis. Foto: Jihan Nafiaa Zahri/Shutterstock

Dalam ajaran Islam, sikap pesimis dan negatif sangat dilarang karena dianggap sebagai bentuk berprasangka buruk (suudzon) kepada Allah SWT. Sikap ini bertentangan dengan perintah untuk selalu optimis (tafa'ul) dan bertawakal, serta dapat melemahkan keimanan dan menghambat potensi diri.

Pesimisme merupakan dosa prasangka buruk dan berputus asa dari rahmat Allah, serta merasa masa depan akan selalu suram adalah bentuk suudzon kepada Allah. Allah SWT berfirman dalam QS. Az-Zumar ayat 53 untuk tidak berputus asa dari rahmat-Nya.

Tanda Lemahnya Iman. Sikap mudah menyerah dan negatif diidentikkan dengan hilangnya harapan kepada pertolongan Allah. Sebaliknya, Muslim diperintahkan untuk selalu yakin akan adanya kemudahan setelah kesulitan (QS. Al-Insyirah ayat 5-6).

Menyerupai Sifat Tercela

Dalam QS. Yusuf ayat 87, ditegaskan bahwa sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah SWT melainkan kaum yang kafir.

Bentuk Sikap Negatif yang Dilarang

A. Putus Asa (Al-Ya'su)

Kehilangan harapan saat menghadapi ujian, baik dalam hal rezeki, kehidupan, maupun ibadah.

Putus asa atau al-ya'su (الْيَأْسُ) adalah penyakit hati yang sangat dilarang. Kehilangan harapan kepada Allah SWT saat menghadapi ujian dianggap sebagai dosa besar karena mencerminkan keraguan terhadap rahmat, kasih sayang, dan kekuasaan-Nya.

B. Merasa Tidak Mampu. Menolak berikhtiar karena merasa sudah pasti gagal sebelum mencoba

Menurut ajaran Islam, sikap merasa tidak mampu dan menolak berikhtiar karena merasa pasti gagal disebut sebagai al-ajz (kelemahan/rasa putus asa) dan suudzon (berburuk sangka). Islam memandang sikap ini sangat dilarang karena bertentangan dengan konsep tawakal dan ikhtiar.

C.Berburuk Sangka pada Manusia dan Keadaan

Selalu melihat celah buruk pada orang lain (suudzon) atau menyalahkan takdir tanpa melakukan evaluasi diri.

D. Larangan Berburuk Sangka (Suudzon) kepada Sesama

Agama Islam sangat menjaga kehormatan dan persaudaraan antarsesama muslim. Oleh karena itu, Allah SWT melarang umat-Nya untuk menebak-nebak keburukan atau mencari-cari kesalahan orang lain. Termasuk tidak suka pada pengkritik ( sifatnya baik untuk membangun ).

Dalil Al-Quran dalam Surah al-Hujurat ayat 12 yang terjemahannya
,” Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain..."

Dalil Hadits:
Rasulullah SAW juga memperingatkan bahaya ucapan dan sangkaan buruk melalui sabdanya,”Jauhilah oleh kalian prasangka karena prasangka adalah perkataan yang paling dusta." (HR. Bukhari dan Muslim).

E. Larangan Menyalahkan Takdir Tanpa Evaluasi Diri

Menyalahkan keadaan atau takdir atas kegagalan atau musibah yang menimpa, tanpa dibarengi dengan introspeksi diri, adalah bentuk keluhan yang bertentangan dengan konsep tawakal dan ikhtiar dalam Islam.

Dalil Al-Quran (Evaluasi Diri)


Allah SWT memerintahkan manusia untuk melihat kesalahan pada diri sendiri dan bertanggung jawab atas perbuatannya sebelum menyalahkan orang lain, yang terjemahannya,”Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia..." (QS. Ar-Rum ayat 41).

Dalil Hadits (Menyalahkan Takdir)

Terkait menyikapi musibah dengan benar, Rasulullah SAW mengajarkan untuk berikhtiar dan tidak tunduk pada penyesalan yang berlebihan,” Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan, 'Seandainya aku berbuat demikian dan demikian.' Akan tetapi katakanlah, 'Allah telah menakdirkannya dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.' Karena sesungguhnya perkataan 'seandainya' akan membukakan pintu amalan setan." (HR. Muslim).

Dalam pandangan Islam, ketika seseorang tertimpa musibah atau mendapati hal yang tidak disukai, ia dianjurkan untuk:

1. Berbaik sangka (Khusnudzan) kepada Allah SWT dan manusia.

2. Muhasabah (Evaluasi diri) atas dosa atau kesalahan masa lalu yang mungkin menjadi penyebab keadaan buruk tersebut.

3. Menerima takdir (Ridha) dengan ikhlas setelah melakukan usaha yang maksimal.

Adapun metode pengobatan untuk mengalahkan sikap negatif dan pesimisme:

Pertama, iman kepada takdir. Lihat Surah Hud ayat 123. Kedua, selalu melihat nikmat Allah SWT. di sekitar kita, dan merenungkan keindahannya. Ketiga, berpegang pada sesuatu yang diinginkan dan fokus. Keempat, jangan meniru sifat orang musyrik lihat Surah ash-Shaff ayat 2. Kelima, beriman terhadap kasih sayang-Nya dan mempunyai pandangan.

Semoga kita semua dan para elite negeri ini tidak termasuk golongan orang-orang pesimis dan bersifat negatif.

Pesimis dan Sikap Negatif

Dalam ajaran Islam, sikap pesimis dan negatif sangat dilarang karena dianggap sebagai bentuk berprasangka buruk (suudzon) kepada Allah SWT. Sikap ini bertentangan dengan perintah untuk selalu optimis (tafa'ul) dan bertawakal, serta dapat melemahkan keimanan dan menghambat potensi diri.

Pandangan Islam tentang Pesimisme

Merupakan Dosa Prasangka Buruk.Berputus asa dari rahmat Allah dan merasa masa depan akan selalu suram adalah bentuk suudzon kepada Allah. Allah SWT berfirman dalam QS. Az-Zumar ayat 53 untuk tidak berputus asa dari rahmat-Nya.

Tanda Lemahnya Iman. Sikap mudah menyerah dan negatif diidentikkan dengan hilangnya harapan kepada pertolongan Allah. Sebaliknya, Muslim diperintahkan untuk selalu yakin akan adanya kemudahan setelah kesulitan (QS. Al-Insyirah ayat 5-6).

Menyerupai Sifat Tercela. Dalam QS. Yusuf ayat 87, ditegaskan bahwa sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah SWT. melainkan kaum yang kafir.

Bentuk Sikap Negatif yang Dilarang

A. Putus Asa (Al-Ya'su)

Kehilangan harapan saat menghadapi ujian, baik dalam hal rezeki, kehidupan, maupun ibadah.

Putus asa atau al-ya'su (الْيَأْسُ) adalah penyakit hati yang sangat dilarang. Kehilangan harapan kepada Allah SWT saat menghadapi ujian dianggap sebagai dosa besar karena mencerminkan keraguan terhadap rahmat, kasih sayang, dan kekuasaan-Nya.

B. Merasa Tidak Mampu. Menolak berikhtiar karena merasa sudah pasti gagal sebelum mencoba.

Menurut ajaran Islam, sikap merasa tidak mampu dan menolak berikhtiar karena merasa pasti gagal disebut sebagai al-ajz (kelemahan/rasa putus asa) dan suudzon (berburuk sangka). Islam memandang sikap ini sangat dilarang karena bertentangan dengan konsep tawakal dan ikhtiar.

C. Berburuk Sangka pada Manusia dan Keadaan. Selalu melihat celah buruk pada orang lain (suudzan) atau menyalahkan takdir tanpa melakukan evaluasi diri.

D. Larangan Berburuk Sangka (Suudzan) kepada Sesama.

Agama Islam sangat menjaga kehormatan dan persaudaraan antarsesama muslim. Oleh karena itu, Allah SWT melarang umat-Nya untuk menebak-nebak keburukan atau mencari-cari kesalahan orang lain. Termasuk tidak suka pada pengkritik ( sifatnya baik untuk membangun ).

Dalil Al-Quran dalam Surah al-Hujurat ayat 12 yang terjemahannya
,” Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain..."

Dalil Hadits:
Rasulullah SAW juga memperingatkan bahaya ucapan dan sangkaan buruk melalui sabdanya,”Jauhilah oleh kalian prasangka karena prasangka adalah perkataan yang paling dusta." (HR. Bukhari dan Muslim).

E. Larangan Menyalahkan Takdir Tanpa Evaluasi Diri. Menyalahkan keadaan atau takdir atas kegagalan atau musibah yang menimpa, tanpa dibarengi dengan introspeksi diri, adalah bentuk keluhan yang bertentangan dengan konsep tawakal dan ikhtiar dalam Islam.

Dalil Al-Quran (Evaluasi Diri). 
Allah SWT memerintahkan manusia untuk melihat kesalahan pada diri sendiri dan bertanggung jawab atas perbuatannya sebelum menyalahkan orang lain, yang terjemahannya,”Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia..." (QS. Ar-Rum ayat 41).

Dalil Hadits (Menyalahkan Takdir). 
Terkait menyikapi musibah dengan benar, Rasulullah SAW mengajarkan untuk berikhtiar dan tidak tunduk pada penyesalan yang berlebihan,” Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan, 'Seandainya aku berbuat demikian dan demikian.' Akan tetapi katakanlah, 'Allah telah menakdirkannya dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.' Karena sesungguhnya perkataan 'seandainya' akan membukakan pintu amalan setan." (HR. Muslim).

Dalam pandangan Islam, ketika seseorang tertimpa musibah atau mendapati hal yang tidak disukai, ia dianjurkan untuk:

1. Berbaik sangka (Khusnudzan) kepada Allah SWT dan manusia.

2. Muhasabah (Evaluasi diri) atas dosa atau kesalahan masa lalu yang mungkin menjadi penyebab keadaan buruk tersebut.

3. Menerima takdir (Ridha) dengan ikhlas setelah melakukan usaha yang maksimal.

Adapun metode pengobatan untuk mengalahkan sikap negatif dan pesimisme:

Pertama, iman kepada takdir. Lihat Surah Hud ayat 123. Kedua, selalu melihat nikmat Allah SWT. di sekitar kita, dan merenungkan keindahannya. Ketiga, berpegang pada sesuatu yang diinginkan dan fokus. Keempat, jangan meniru sifat orang musyrik lihat Surah ash-Shaff ayat 2. Kelima, beriman terhadap kasih sayang-Nya dan mempunyai pandangan.

Semoga kita semua dan para elite negeri ini tidak termasuk golongan orang-orang pesimis dan bersifat negatif.