Yogyakarta dan Keistimewaannya

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Tulisan dari Aura Salsabila El Adny tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Arus perkembangan zaman yang melindas semua peradaban dan kebudayaan ternyata tidak membuat Kota Yogyakarta keriput terbawa umur ditinggal zaman. Sebaliknya kota ini malah menjadi destinasi wisata utama untuk turis asing dan domestik. Wajar jika menjadi tujuan karena Jogja memiliki bermacam julukan yang masih pantas mengiringi nama kebanggannya, antaralain; Kota Pelajar, Kota Budaya, Kota Wisata, Kota Seni, dan Kota Gudeg dan lainnya.
Derasnya arus globalisasi, nampaknya tidak membuat Jogja ditinggalkan. Bahkan yang meninggalkan Jogja akan tetap ingin kembali ke Jogja layaknya pilihan Jogja Kembali. Rupanya rekam jejak Ngajogjakarta tetap kuat melekat pada siapapun.
Banyak perpaduan khas dan unik ‘gaya Jogja’ sebagai ciri khas dan tradisional kota ini yang tidak hilang. Pantasnya memang dinikmati. Karena faktor inilah Jogja menjadi kota tujuan wisata yang banyak dibangun sarana dan fasilitas layanan pengunjung. Ditambah adanya pemikat makna Jogja dengan variasi kuliner dan aksesoris yang luar biasa tumbuh dan berkembang menjadi sentra-sentra pengembangan peradaban dan kebudayaan yang khas dan unik.
“Yang bikin saya bangga sama kota ini, walaupun sudah tua umurnya dan banyak wisatawan yang datang, tapi tradisionalnya tidak dihilangkan sama sekali,” ujar Sarwo Sudarmo seorang kusir andong saat ditemui di kawasan Malioboro (27/10).
Penuturan Sarwo Sudarmo cukup untuk mengetahui alasan mengapa Jogja tidak pernah sepi pengunjung. Masyarakat asli sini tidak perlu bersusah payah mengikuti trend kekinian, justru mereka yang akan memperkenalkan budayanya kepada wisatawan.
Sarwo Sudarmo merupakan salah satu kusir andong yang telah berpengalaman selama tiga puluh tahun di kawasan Malioboro. Memilih pekerjaan sebagai kusir andong lantas tidak membuat Sarwo berkecil hati. “Disini, bawa kuda saja sudah dihargai,” jelas Sarwo. Rasa saling menghormati dan menghargai masyarakat Jogja membuat Sarwo nyaman dengan pekerjaannya.
Meski belum pernah menghirup udara kota lain, tidak membuat Sarwo Sudarmo menyesal begitu saja. Hanya dengan melihat perubahan Jogja dari masa ke masa membuatnya enggan beralih ke kota lain. Baginya, Jogja yang dulu terlihat nyaman sedangkan Jogja yang sekarang terlihat ramai dan menyenangkan. Ditambah masyarakat yang pandai menggabungkan keharmonisan unsur tradisional dan modern.
Unsur tradisional dan modern dapat kita lihat jelas di Malioboro. Sampai saat ini, Malioboro masih menjadi kawasan yang wajib dikunjungi ketika berada di Jogja.
Walaupun padat dengan wisatawan ataupun penduduk asli, pengunjung masih tetap memaksa diri untuk berkelana menulusuri jalan ini. “Soalnya engga lengkap aja kalau ke Jogja, tapi engga ke Malioboro,” tambah Vivi salah satu wisatawan dari Malang.
Suasana Malioboro pada malam hari menjadi favorit masyarakat jika dilihat dari kualitas pengunjung. Kaum muda maupun tua membaur menjadi satu tanpa tahu dari mana asal masing-masing. Keharmonisan tersebut terasa sempurna dengan pelengkap pedagang-pedagang kecil yang membentuk barisan simetris yang indah.
Terlepas dari julukannya yang istimewa, nyatanya Jogja mampu memelihara nili-nilai budaya dan kearifan lokal, tidak silalu dengan gemerlap globalisasi tapi tetap menjadi tujuan wisata yang nyaman dan toleran.
