Bahu yang Tak Pernah Lelah dan Menopang Berbagai Pengorbanan

Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Aura Arlianda Yulizar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak sekali di dunia ini sosok ibu yang sangat menyayangi anaknya. Seorang ibu yang melahirkan anak hingga 9 bulan, dan ketika kita lahir ke dunia ruangan rumah sakit penuh dengan tangisan bahagia dan mempunyai keluarga yang harmonis. Pengalaman inilah yang tergambar dalam cerpen "Ibu" karya Zulfah Nur Alimah.
Karya ini tidak hanya sekedar menjadi cerita, tetapi untuk menuangkan gambaran yang dirasakan seorang ibu ketika sudah berumah tangga. Kelelahan, dan juga pengorbanan untuk seorang keluarga. Pasti kita semua pernah dengar kalimat "Aku rela berkorban untuk anakku", kata yang penuh dengan makna.
Lewat pendekatan teori objektif yang dirumuskan M.H. Abrams, bahwa karya sastra sebagai struktur yang utuh. Fokus teori ini murni pada struktur internal karya mengenai bagaimana tema dibangun lewat plot, tokoh, dan penokohan yang saling menopang sebagai satu kesatuan yang berdiri sendiri (autonomous).
Perempuan yang Menguap dalam Rutinitas
Tema cerpen ini adalah hilangnya identitas diri perempuan ketika sudah mempunyai keluarga. Sejak awal, penulis menanamkan motif tokoh yang pelupa atau kelupaan sebagai gejala yang terus berulang, hal ini tentunya menjadi ciri penting dalam kehidupan tokoh utama. Kondisi tersebut tidak hanya digambarkan sebagai kebiasaan sehari-hari, tetapi juga sebagai tanda perubahan yang terjadi pada dirinya setelah menjalani peran sebagai ibu. Berbagai peristiwa sederhana, seperti salah meletakkan barang atau tertukarnya perlengkapan anak, memperlihatkan bagaimana perhatian dan energi tokoh sepenuhnya tersita oleh urusan rumah tangga. Dalam kajian sastra, M.H. Abrams (1999: 95-96) ia menjelaskan bahwa tema adalah landasan utama sebuah fiksi, di mana " the central, or controlling, generalizations... are said to be the theme or thesis of a work" (generalisasi yang sentral, atau yang mengendalikan... dikatakan sebagai tema atau tesis dari sebuah karya).
Tiga Cermin yang Saling Memantul
Tokoh utama dalam cerpen ini tidak diberikan nama secara khusus. Pilihan tersebut merupakan strategi penokohan yang berkaitan erat dengan tema utama cerita, yaitu hilangnya identitas diri. Karakter tokoh dibangun melalui metode tidak langsung (showing), sehingga pembaca memahami kondisi psikologisnya melalui tindakan dan pengalaman sehari-hari yang ia alami. Berbagai peristiwa seperti sering lupa meletakkan barang, kesulitan mengingat sesuatu, atau melakukan kesalahan dalam mengurus anak menjadi sarana untuk menggambarkan kelelahan sekaligus keterasingan dirinya dari identitas yang pernah dimiliki.
Pengarang juga menghadirkan kontras yang jelas antara kehidupan tokoh utama pada masa lalu dan masa kini. Fakhruddin Saleh di gambarkan sebagai masalalu yang tidak dipilih oleh tokoh, ia merupakan seseorang tahfidz, taat beragama, berwawasan yang luas, sangat cerdas, dan komitmennya terhadap nilai-nilai agama.
Sementara itu, tokoh Sinta memiliki peran yang relatif singkat, tetapi sangat penting dalam perkembangan cerita. Penokohannya dibangun melalui gambaran penampilan yang menunjukkan kehidupan yang mapan dan penuh kepercayaan diri, sehingga membentuk kontras yang kuat dengan kondisi tokoh utama. Sinta tidak berfungsi sebagai tokoh antagonis, melainkan sebagai pemicu munculnya kesadaran tokoh utama terhadap dirinya sendiri. Abrams (1999: 32) mendefinisikan tokoh (characters) sebagai "persons represented in a dramatic or narrative work, who are interpreted by the reader as being endowed with particular moral, intellectual, and emotional qualities..." (orang-orang yang direpresentasikan dalam karya dramatis atau naratif, yang ditafsirkan oleh pembaca memiliki kualitas moral, intelektual, dan emosional tertentu berdasarkan simpulan dari apa yang mereka katakan dan lakukan).
“Mengapa kamu tidak bekerja? Mengajar misalnya? Di kampus dulu kamu termasuk mahasiswi yang menonjol”
Dari kutipan diatas tokoh mengalami sedikit penyesalan oleh omongan orang, tokoh berfikir bahwa setelah ia memiliki anak ia tidak dapat bahagia dengan dirinya sendiri karena perannya sebagai seorang perempuan telah hilang. Kelupaan….
Kekuatan cerpen ini terletak pada kemampuannya mengangkat persoalan besar melalui detail-detail kecil kehidupan sehari-hari. Tidak ada konflik yang dramatis atau peristiwa yang luar biasa. Pembaca justru diajak merasakan kepenatan tokoh melalui pekerjaan domestik yang berulang, tangisan anak, rumah yang berantakan, hingga pencarian barang-barang yang terus hilang. Semua itu membentuk gambaran tentang bagaimana seseorang dapat kehilangan dirinya secara perlahan tanpa benar-benar menyadarinya.
Secara keseluruhan, cerpen "Ibu" mengkritik sosial terhadap konstruksi peran perempuan dalam keluarga. Pengarang tidak menolak peran keibuan, tetapi menunjukkan bahwa perempuan tetap membutuhkan ruang untuk mempertahankan identitas, aspirasi, dan aktualisasi dirinya. Melalui konflik batin tokoh utama, cerpen ini mengajak pembaca untuk memahami bahwa pengabdian kepada keluarga tidak seharusnya menghilangkan kesempatan seseorang untuk tetap mengenali dan mengembangkan dirinya sebagai individu.
Kesimpulan : Kasih Cinta Seorang Ibu
Bagian akhir cerita menjadi semakin menyentuh ketika tokoh utama kembali berhadapan dengan kenyataan bahwa dirinya kemungkinan sedang mengandung anak keempat. Di tengah kesadaran akan identitas yang telah lama terkubur, ia justru menghadapi siklus kehidupan yang tampaknya akan kembali mengikatnya pada rutinitas yang sama.
Melalui "Ibu", penulis tidak sedang merendahkan peran keibuan. Sebaliknya, cerpen ini mengajak pembaca untuk melihat sisi lain dari pengalaman menjadi ibu, yaitu pergulatan mempertahankan identitas diri di tengah tuntutan keluarga. Cerpen ini juga mengajarkan para anak-anak untuk menghormati dan menyayangi ibu di seluruh dunia, tidak boleh durhaka karena anak lah yang menjadi penguat seorang ibu diseluruh dunia. Cerpen ini juga menjadi pengingat bahwa di balik sebutan "ibu", terdapat seorang manusia yang juga memiliki mimpi, cita-cita, dan kebutuhan untuk tetap mengenali dirinya sendiri. Dan dari cerpen ini kita semua harus belajar, bahwa kita harus mensyukuri apa yang telah menjadi takdir kita, dan jangan merasa menyesal dengan apa yang kita pilih dan punya.
Daftar Pustaka
Abrams, M. H. (1999). A Glossary of Literarry Terms (7th.ed.). Heinle & Heinle
Alimah, Zulfah Nur. (2026). “Ibu”. Kompas.id.
