Konten dari Pengguna

Antibiotik Disalahgunakan: Dunia Kesehatan Hadapi Ancaman Serius

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aura Salsabila Maryam tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

                       Ilustrasi Obat Antibiotik (sumber : https://www.pexels.com/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Obat Antibiotik (sumber : https://www.pexels.com/)

Antibiotik adalah jenis obat yang digunakan untuk mengobati serta mencegah infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Mereka membunuh dan mencegah bakteri berkembang biak dalam tubuh. (Makkasau, N., dkk, 2022). Obat ini telah digunakan untuk menyelamatkan berjuta nyawa dari infeksi bakteri. Antibiotik dinilai sangat efektif bagi banyak masyarakat sehingga penggunaan antibiotik ini tidak dapat dikontrol. Kondisi ini memicu terjadinya resistensi antibiotik, yaitu kemampuan mikroorganisme untuk bertahan terhadap zat antimikroba yang sebelumnya mampu menghambat pertumbuhan atau membunuhnya secara efektif. (Kurnianto, M. A., & Syahbanu, F. 2023). Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba melaporkan pada tahun 2013, 2016 dan 2019 bahwa tingkat resistensi bakteri di Indonesia terus meningkat. Bakteri resisten itu meningkat dari 40% hingga 60% pada tahun 2019. (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2011). Fakta ini menunjukkan bahwa resistensi antibiotik di Indonesia merupakan masalah serius yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Tanpa upaya pengendalian yang kuat, angka ini berpotensi terus meningkat dan mengancam efektivitas pengobatan berbagai penyakit infeksi. Resisten antibiotik menyebabkan infeksi menjadi lebih sulit untuk diobati, memerlukan waktu penyembuhan yang lebih lama, dan meningkatkan komplikasi serius termasuk kematian.

PENYEBAB RESISTENSI ANTIBIOTIK

Meningkatnya angka resisten bakteri di Indonesia dipengaruhi oleh beragam faktor. Salah satunya yaitu penyalahgunaan antibiotik. Banyak masyarakat di Indonesia yang tidak mengerti cara penggunaan antibiotik dengan benar. Mereka berpikir bahwa semua penyakit dapat diobati oleh antibiotik. Adapun penggunaan antibiotik yang berlebihan atau tidak tepat, misalnya: antibiotik digunakan untuk infeksi virus, tidak menyelesaikan pengobatan sesuai resep, minimnya pemahaman masyarakat mengenai cara penggunaan antibiotik yang benar, serta kebiasaan mengonsumsi antibiotik tanpa anjuran atau resep dari dokter. Banyak sekali toko-toko yang menjual antibiotik tanpa izin sah, hal ini dikatakan illegal karena antibiotik termasuk ke dalam obat golongan keras dan perlu resep dokter, pembeli harus mengetahui cara penggunaan antibiotik tersebut. Selain itu, antibiotik harus tetap diminum meskipun penyakitnya sudah hilang karena ketika tubuh merasa lebih baik, tidak semua bakteri yang menyebabkan infeksi telah dibunuh sepenuhnya. Akibatnya, infeksi dapat kambuh kembali dan bakteri menjadi lebih kuat, menyebabkan resistensi antibiotik. (Mahbub, K. dkk, 2023)

DAMPAK RESISTENSI ANTIBIOTIK

Menurut World Health Organization (WHO), sebanyak 700.000 orang meninggal setiap tahun karena resistensi antimikroba sampai tahun 2014. Dengan munculnya dan menyebarnya infeksi yang dikarenakan oleh mikroorganisme yang resisten, diperkirakan pada tahun 2050 jumlah kematian karena resistensi antimikroba akan melebihi jumlah kematian karena kanker. (WHO, 2015 dalam septiana E. dkk, 2025). Dampak dari resistensi antibiotik ini menjadi ancaman dalam dunia kesehatan yang cukup serius. Resistensi antibiotik dapat menyebabkan pengobatan yang tidak berhasil, jumlah kasus di rumah sakit yang meningkat, perawatan yang lambat, biaya perawatan yang tinggi, morbidilitas (angka kesakitan), dan mortalitas (angka kematian). Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat mengakibatkan masalah serius yang membahayakan kesehatan generasi muda. Pemakaian antibiotik secara berlebihan dapat berdampak pada pertumbuhan generasi muda dan pada akhirnya dapat membahayakan kehidupan individu karena kurangnya pengetahuan, sikap yang tidak hati-hati, serta pemahaman yang salah mengenai penggunaan antibiotik. (Shaleha, R. R. dkk. 2025).

KASUS ANTIBIOTIK DAN CARA MENGATASINYA

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Primasari, F. S., Puspitasari, I., & Nuryastuti, T. 2022) menunjukkan bahwa bakteri gram negatif yang resisten terhadap karbapenem cukup banyak dan jumlahnya berubah setiap bulan. Isolat bakteri Acinetobacter baumannii menunjukkan resistensi paling tinggi, diikuti oleh Pseudomonas aeruginosa dan Enterobacterales (46,43%-23,33%, 0,73%-8,24%). Hal ini menunjukkan jumlah bakteri yang kebal terhadap antibiotik jenis karbapenem terus berubah dan semakin banyak dari waktu ke waktu. Selain itu, kasus lain dari penelitian yang dilakukan (Mardiah, M. 2017). menunjukkan resistensi Staphylococcus aureus terhadap beberapa jenis antibiotik, seperti metisilin, penisilin, tetrasiklin, eritromisin, gentamisin, dan doksisiklin. Hal ini menunjukkan bahwa Staphylococcus aureus memiliki kemampuan bertahan terhadap berbagai antibiotik yang umum digunakan, sehingga menyebabkan infeksi yang sulit diobati.

Resistensi antibiotik merupakan masalah serius yang tidak boleh dihiraukan dan diperlukan upaya untuk mengurangi hal ini. Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi dan mencegah resistensi antibiotik diataranya, yaitu:

1. Menekan penggunaan yang tidak dibutuhkan, baik dalam tindakan pencegahan maupun pengobatan. (Dwiprahasto, I. 2005)

2. Edukasi kepada masyarakat tentang cara penggunaan antibiotik dengan bijak, karena banyak masyarakat yang masih tidak tahu cara penggunaan antibiotik sehingga mendorong peningkatan resistensi obat antibiotik. (Mahbub, K. dkk, 2023).

3. Membeli antibiotik di apotek dengan menggunakan resep dokter. Antibiotik termasuk dalam penggolongan obat keras, sehingga pasien harus mengetahui cara penggunaan dan dosis obat yang tepat agar dapat mencegah resistensi. (Simamora, S., dkk, 2020).

Dengan demikian upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengurangi resistensi antibiotik yang telah menjadi ancaman dalam dunia kesehatan. Masalah ini tidak dapat diselesaikan dengan satu pihak saja, tetapi semua kalangan, seperti pemerintah, industri farmasi, peneliti, tenaga medis, dan masyarakat umum harus ikut serta dalam upaya pencegahan ini. Tanpa tindakan pencegahan ini, dunia akan kembali ke awal sebelum ditemukannya antibiotik, di mana infeksi yang ringan sekalipun dapat berakibat fatal.