Kala Layar Menyihir, Kita Percaya Tanpa Bertanya

Halo saya Aura Syaziya Aulia, Mahasiswa Universitas Pamulang, Fakultas Ilmu Komunikasi, Pribadi yang memiliki jiwa semangat yang tinggi dan kreativitas yang besar, suka menulis dan pandai memilah informasi.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari aurasyaziya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di zaman ini, kita tidak hanya menonton layar,kita hidup di dalamnya.
Setiap pagi, sebelum cahaya mentari menyentuh kulit, sinar ponsel sudah lebih dulu menyapa mata. Pikiran kita dibentuk bukan oleh pengalaman langsung, melainkan oleh narasi yang berseliweran tanpa jeda, diatur algoritma, dihias grafik, digiring opini.
Layar telah menjadi nabi baru, menyampaikan firman-firman berbentuk berita cepat, opini viral, dan tren instan. Dalam gelombang itu, kita mempercayai apa pun yang tampil menarik. Tak sempat bertanya, apalagi ragu. Kebenaran diukur dari seberapa sering ia dibagikan, bukan dari seberapa dalam ia dikaji.
Kita menelan kata-kata tanpa mengunyahnya. Kita mengangguk pada berita tanpa tahu dari mana ia datang. Nalar perlahan memudar, digantikan rasa nyaman karena merasa tahu. Padahal, sering kali yang kita tahu hanyalah permukaan, bahkan mungkin manipulasi.
Media massa, dalam wujudnya yang mutakhir, bukan lagi sekadar cermin dunia, tapi jendela yang dipilihkan. Ia menyunting realitas, mengedit persepsi, dan menuntun opini. Di situlah sihirnya bekerja tak terlihat, tapi memengaruhi.
Kita menjadi penonton sekaligus produk. Menyerap nilai yang ditanamkan tanpa sadar. Mencintai apa yang ditawarkan, membenci apa yang diarahkan untuk dibenci. Dan yang lebih menyakitkan: kita merasa itu semua adalah pilihan kita sendiri.
Tidakkah kita bertanya, mengapa kita percaya? Tidakkah kita berhenti sejenak, menantang narasi dan menggali makna? Layar bukan musuh. Tapi kepercayaan yang buta adalah bahaya. Dalam arus deras informasi, bertanya adalah bentuk perlawanan terakhir kita sebagai manusia berpikir.
Karena ketika sihir layar terlalu dalam merasuk, dunia bukan lagi kita yang pilih. Dunia adalah apa yang mereka tampilkan. Dan kita? Hanya penonton setia, yang perlahan melupakan cara menatap dengan hati.
Penutup
Namun, yang paling mengkhawatirkan bukanlah layar itu sendiri, melainkan keheningan kita. Kita yang dulu gemar bertanya kini memilih diam, karena takut tertinggal oleh arus atau dibenci karena berbeda suara. Di dunia yang menghargai kecepatan, keraguan dianggap lambat, dan keraguan—yang dulu bagian dari berpikir—dianggap gangguan. Maka kita belajar untuk tidak mempertanyakan, hanya mengikuti. Kita menjadi sunyi, bukan karena tidak tahu, tapi karena terlalu banyak suara yang menuntut persetujuan. Di situlah tragedinya: kita kehilangan keberanian untuk melawan narasi demi mencari kebenaran.
