Konten dari Pengguna

Antara Keluarga Sama Ayah, Ini Arah Kita atau Arahmu?

Sitta Ananda Rizqy

Sitta Ananda Rizqy

Mahasiswa UIN Jakarta

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sitta Ananda Rizqy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber poto potret situ gintung
zoom-in-whitePerbesar
sumber poto potret situ gintung

Ayah sering terlihat seperti kompas dalam rumah, diam-diam menentukan arah tanpa banyak bertanya ke penumpangnya. Kita semua bergerak, mengikuti jalur yang beliau anggap paling aman.Tapi kadang saya bertanya-tanya, ini arah kita... atau arah ayah saja?

Dari kecil, saya di ajarkan bahwa keluarga adalah temapat dimana semua keputusan di buat bersama. Tapi realitanya, keputusan besar sering datang dari satu arah, yaitu ayah. Entah itu soal pindah rumah, sekolah anak, bahkan bagaimana cara menghadapi konflik keluarga. Ayah adalah otoritas yang tidak selalu terbuka untuk diskusi.

Di balik niat baik ayah yang ingin menjaga dan melindungi, ada pola lama yang belum tentu relevan. Dunia berubah, nilai berubah, tapi cara pandang bisa tertinggal. Generasi kami tumbuh dengan dialog, bukan hanya perintah. Kami butuh didengar, bukan hanya diarahkan.

Saya tidak menyalahkan ayah. Ia tumbuh di era yang keras, dimana laki-laki di tuntut kuat, tidak boleh ragu. Tapi di zaman ini, jadi ayah bukan hanya soal pemimpin. Ini soal jadi pendengar, jadi teman diskusi, bahkan kadang jadi murid anak-anakmu sendiri.

Pertanyaan ini bukan tentang menentang ayah. ini tentang mengundangnya duduk bersama, membicarakan arah. Apakah ini arah yang kita semua mau? Atau hanya arah yang beliau yakini benar?

Karena Keluarga yang sehat bukan soal siapa yang paling tahu. Tapi siapa yang paling mau saling memahami.

sumber poto mesjid al-falah pamulang