Konten dari Pengguna

FOMO dan Kesehatan Mental: Ketika Media Sosial Diam-Diam Melelahkan Jiwa

aureli suyatno putri

aureli suyatno putri

Berprofesi sebagai Mahasiswa, sedang menempuh pendidikan S1, Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari aureli suyatno putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: https://www.istockphoto.com/id/foto/konsep-burnout-syndrome-business-woman-merasa-tidak-nyaman-bekerja-yang-disebabkan-gm1371866602-441120325?searchscope=image%2Cfilm
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: https://www.istockphoto.com/id/foto/konsep-burnout-syndrome-business-woman-merasa-tidak-nyaman-bekerja-yang-disebabkan-gm1371866602-441120325?searchscope=image%2Cfilm

Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, terutama pada generasi muda. Media sosial kini menjadi bagian yang hampir tidak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari. Informasi dapat diakses dengan cepat, komunikasi menjadi lebih mudah, dan berbagai tren dapat diketahui hanya dalam hitungan detik. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul fenomena baru yang semakin banyak memengaruhi kesehatan mental masyarakat, yaitu Fear of Missing Out atau FOMO.

FOMO merupakan kondisi ketika seseorang merasa takut tertinggal informasi, tren, pengalaman, atau pencapaian orang lain (Afiyah, Kurniawan, Ramdani, & Zuhri, 2025). Perasaan ini membuat individu terus-menerus memeriksa media sosial agar tetap merasa terhubung dengan lingkungan sekitarnya. Tanpa disadari, kebiasaan tersebut dapat memicu kecemasan, stres, merasa tidak bahagia, bahkan menurunkan rasa percaya diri (Wijaya et al., 2025).

Fenomena FOMO saat ini sangat sering ditemukan pada mahasiswa dan remaja usia produktif. Banyak individu merasa hidupnya kurang menarik ketika melihat orang lain terlihat lebih sukses, lebih bahagia, lebih produktif, atau memiliki kehidupan sosial yang lebih baik di media sosial (Susanti, Dianto, & Triyono, 2023; Yusra & Napitupulu, 2022)). Padahal, sebagian besar konten digital hanya menampilkan sisi terbaik kehidupan seseorang dan tidak sepenuhnya menggambarkan realitas yang sebenarnya.

Dalam perspektif kesehatan, paparan media sosial yang berlebihan dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang. Otak manusia secara alami cenderung melakukan perbandingan sosial. Ketika seseorang terus membandingkan dirinya dengan standar kehidupan orang lain di internet, maka perasaan tidak cukup, tidak berhasil, dan tidak berharga dapat muncul secara perlahan (Ayuanda et al., 2025). Kondisi ini berisiko menyebabkan gangguan kesehatan mental seperti overthinking, kecemasan sosial, insomnia, hingga burnout emosional.

Kesehatan dipandang sebagai keadaan sejahtera secara fisik, mental, sosial, dan spiritual. Artinya, kesehatan mental memiliki posisi yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Seseorang yang terlihat sehat secara tubuh belum tentu memiliki kondisi psikologis yang baik. Oleh sebab itu, fenomena FOMO perlu dipahami sebagai salah satu masalah kesehatan modern yang perlu mendapat perhatian lebih serius.

Menariknya, di tengah tingginya tekanan digital, masyarakat mulai kembali mencari ketenangan melalui pendekatan spiritual. Spiritualitas menjadi salah satu cara yang dianggap mampu membantu individu menghadapi kecemasan akibat kehidupan digital yang serba cepat. Spiritualitas mengajarkan manusia untuk lebih fokus pada rasa syukur, penerimaan diri, dan makna hidup daripada terus membandingkan diri dengan orang lain.

Dalam kehidupan spiritual, manusia diajarkan bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh jumlah pengikut, pencapaian yang dipamerkan, ataupun validasi sosial di internet. Ketika seseorang memiliki hubungan spiritual yang baik dengan Tuhan, maka ia cenderung lebih mampu menerima dirinya sendiri dan tidak mudah terpengaruh oleh tekanan sosial.

Aktivitas sederhana seperti berdoa, berdzikir, membaca kitab suci, membatasi penggunaan media sosial, serta meluangkan waktu untuk refleksi diri dapat membantu menjaga kesehatan mental (Maulida, Hidayati & Triyana, 2026). Spiritualitas memberikan ruang bagi manusia untuk berhenti sejenak dari kebisingan digital dan kembali mengenali dirinya secara lebih utuh.

Selain itu, konsep digital well being mulai menjadi perhatian dalam dunia kesehatan modern. Digital well being merupakan upaya menjaga kesehatan mental dengan mengatur penggunaan teknologi secara sehat, seperti membatasi waktu bermain media sosial, menghindari konsumsi konten negatif, dan memberi waktu istirahat bagi otak dari paparan informasi yang berlebihan.

Pada akhirnya, media sosial bukanlah sesuatu yang sepenuhnya buruk. Teknologi tetap memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Namun, penggunaan yang tidak seimbang dapat membuat seseorang kehilangan ketenangan dirinya sendiri. Di tengah dunia digital yang terus bergerak cepat, manusia tetap membutuhkan ruang untuk beristirahat, menerima diri, dan memperkuat spiritualitas agar kesehatan mental tetap terjaga.