Bermain Puzzle Bersama Pasien Anak: Cerita Magang di Rumah Sakit Jiwa

Mahasiswa Universitas Brawijaya, Jurusan Psikologi
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Aurelia Dhea Aryanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa sangka, kepingan puzzle yang biasa kita temukan di rak mainan anak-anak bisa menjadi jembatan kebahagiaan bagi pasien dengan gangguan kesehatan mental? Inilah yang saya pelajari selama menjalani magang di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur Provinsi Jawa Timur bahwa kegiatan yang sederhana pun bisa memberikan dampak yang luar biasa bagi mereka yang sedang dalam proses pemulihan.

Mengenal Rumah Sakit Jiwa Menur dari Dalam
Sebagai mahasiswa semester 6 jurusan Psikologi Universitas Brawijaya, saya mendapat kesempatan luar biasa untuk magang di RSJ Menur, salah satu rumah sakit jiwa terkemuka di Jawa Timur. Selama magang, saya ditempatkan secara bergantian (rolling) di tiga ruangan berbeda: Ruang Psikotest, Ruang Rehabilitasi, dan Ruang Lili.
Masing-masing ruangan memberi saya perspektif yang sangat berbeda tentang dunia kesehatan jiwa.
Di Ruang Psikotest, saya mendampingi psikolog dalam memberikan instruksi alat tes kepada klien yang datang. Pengalaman ini membuka mata saya tentang betapa pentingnya cara penyampaian instruksi yang tepat, jelas, dan empatik agar klien bisa memberikan respons yang akurat. Keterampilan ini tidak bisa sekadar dibaca dari buku saja tetapi ia harus dirasakan langsung di lapangan.
Di Ruang Rehabilitasi, beragam kegiatan terstruktur membantu pasien membangun kembali fungsi sosial dan kemandirian mereka. Di ruang ini saya belajar bahwa pemulihan bukan hanya soal kondisi klinis, tetapi juga tentang mengembalikan semangat seseorang untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Sementara itu, di Ruang Lili, dunia terasa lebih berwarna sekaligus lebih menyentuh hati.
Ruang Lili: Tempat Anak-Anak Berjuang dengan Senyum
Ruang Lili adalah ruang rawat inap khusus anak-anak dan remaja. Di sinilah saya paling banyak belajar, bukan hanya tentang psikologi, tetapi tentang kemanusiaan.
Setiap pagi, pasien diajak jalan-jalan untuk menghirup udara segar dan merangsang sistem sensoris mereka. Lalu dilanjutkan dengan senam pagi, yang tidak sekadar menjaga kebugaran fisik, tetapi juga membantu mengatur ritme biologis tubuh, meningkatkan suasana hati melalui pelepasan endorfin, serta membangun rutinitas yang menstabilkan kondisi psikologis pasien (Biddle & Asare, 2011).
Ada pula Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) dan psikoedukasi yang dirancang khusus sesuai kebutuhan perkembangan anak dan remaja. Psikoedukasi diketahui efektif dalam meningkatkan pemahaman pasien dan keluarga mengenai kondisi kesehatan jiwa sekaligus mendukung proses pemulihan. Semua kegiatan ini berjalan beriringan untuk membantu pasien melewati hari-harinya dengan lebih bermakna.
Namun ada yang paling membekas dari pengalaman saya di ruang ini. Pasien-pasien Ruang Lili bukan sekadar "anak-anak dengan masalah mental", mereka adalah individu kecil yang datang dengan luka masing-masing: trauma yang belum tuntas, lingkungan yang mungkin tidak mendukung, dan beban emosional yang jauh melampaui usianya. Melihat mereka menjalani hari dengan segala perjuangannya membuat saya semakin yakin bahwa pendekatan yang hangat, menyenangkan, dan penuh penerimaan adalah kunci dalam mendampingi mereka.
Dari keyakinan itulah sebuah ide lahir.
"Kepingan Kompak"
Saya merancang sebuah program yang saya beri nama "Kepingan Kompak: Program Permainan Puzzle sebagai Media Rekreasi untuk Meningkatkan Keterampilan Sosial dan Kerja Sama Tim". Gagasannya sederhana, membawa puzzle ke hadapan pasien Ruang Lili dan menjadikannya ruang untuk berinteraksi, tertawa, dan merasakan kebersamaan.
Tujuan utama program ini adalah memberikan media rekreasi yang menyenangkan sekaligus mendorong tumbuhnya keterampilan sosial dan kerja sama tim secara alami dan organik. Adapun manfaat kognitif dan motorik seperti peningkatan konsentrasi, problem solving, dan koordinasi tangan menjadi bonus yang turut didapat dari proses bermain itu sendiri (Connolly et al., 2012; Hirsh-Pasek et al., 2009).
Sebelum Bermain: Psikoedukasi Singkat
Sebelum permainan dimulai, saya mengawali sesi dengan psikoedukasi singkat kepada para pasien. Materi ini saya rancang dengan bahasa yang ringan dan ramah anak memperkenalkan apa itu kerja sama tim, mengapa bermain bersama itu menyenangkan, dan bagaimana caranya saling mendukung teman satu tim. Tujuannya bukan menggurui, melainkan membangun semangat dan antusiasme sebelum kegiatan dimulai.
Saat Bermain: Dua Tim, Satu Tujuan
Setelah psikoedukasi, sesi bermain pun dimulai. Pasien dibagi menjadi dua tim, dan masing-masing tim berlomba menyelesaikan puzzle mereka lebih dulu. Puzzle yang digunakan dipilih secara cermat dan disesuaikan dengan rentang usia serta kemampuan perkembangan pasien yang hadir, cukup menantang untuk membuat mereka bersemangat, tetapi tidak terlalu sulit hingga membuat frustrasi.
Format lomba yang ringan ini secara alami mendorong anak-anak untuk berkomunikasi, berbagi strategi, dan saling menyemangati satu sama lain. Mereka belajar bahwa menyelesaikan sesuatu bersama jauh lebih menyenangkan daripada sendiri dan bahwa kalah pun bisa diterima dengan lapang dada ketika suasananya penuh kegembiraan (Johnson et al., 2014; Slavin, 2014).
Apa yang Terjadi di Lapangan?
Momen saat "Kepingan Kompak" berlangsung adalah momen yang sulit saya lupakan.
Anak-anak yang sebelumnya terlihat pendiam dan menarik diri mulai bersuara. Mereka memberikan arahan kepada teman satu timnya, tertawa ketika salah meletakkan kepingan, dan bersorak kecil ketika satu bagian puzzle berhasil tersambung. Ada yang begitu serius mengamati gambar di kotak puzzle sambil mengerutkan dahi, ada pula yang berdiri dan memimpin dengan percaya diri menunjuk-nunjuk bagian mana yang menurutnya harus dipasang lebih dulu.
Yang paling mengharukan adalah melihat bagaimana mereka saling menunggu. Ketika satu anggota tim kesulitan menemukan kepingan yang cocok, teman-temannya tidak langsung mengambil alih, mereka memberi petunjuk, mendekat, dan membantu bersama-sama. Tanpa disadari, nilai-nilai kerja sama itu muncul dengan sendirinya, bukan karena diajarkan, melainkan karena dirasakan (Bandura, 1997).
Di sinilah saya menyaksikan sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam kegiatan formal sehari-hari: keceriaan yang jujur. Sejenak, mereka bukan pasien yang sedang dalam proses pemulihan. Mereka hanyalah anak-anak yang sedang bermain.
Refleksi: Belajar dari Kepingan-Kepingan Kecil
Magang di RSJ Menur Surabaya mengajarkan saya bahwa psikologi bukan hanya tentang teori dan tes, ia adalah tentang hadir bagi orang lain. Tentang menciptakan ruang yang aman, menyenangkan, dan penuh penerimaan bagi mereka yang sedang berjuang.
"Kepingan Kompak" mungkin hanya sebuah program kecil. Tapi bagi saya, ia mewakili keyakinan bahwa bermain adalah bahasa universal, bahasa yang dimengerti semua orang tanpa terkecuali. Dan ketika anak-anak bermain bersama, di sana tumbuh kepercayaan, keberanian, dan koneksi yang nyata (Ginsburg, 2007).
RSJ Menur, dengan seluruh tenaga profesional dan fasilitas yang dimilikinya, adalah tempat yang luar biasa untuk belajar sekaligus berkontribusi. Saya berharap "Kepingan Kompak" bisa memberikan warna tersendiri bagi pasien-pasien Ruang Lili dan semoga, senyum mereka saat kepingan puzzle itu akhirnya tersambung bisa terus terbawa jauh, melampaui dinding rumah sakit.
