Ini Akibat Ketika Anjing Mengalami Overdosis

Aurelia Melda Sumanto
Mahasiswi Binus University
Konten dari Pengguna
26 Desember 2022 19:42 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Aurelia Melda Sumanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Chilla saat tubuhnya mulai lemas. Sumber: difoto oleh penulis.
zoom-in-whitePerbesar
Chilla saat tubuhnya mulai lemas. Sumber: difoto oleh penulis.

Hewan peliharaan bisa mengalami overdosis.

ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Apakah Anda pernah bertanya apa yang akan terjadi pada anjing saat diberikan obat dengan dosis yang melebihi dosis seharusnya? Apakah hal itu pernah terjadi pada anjing Anda? Dokter hewan selalu tahu dosis yang tepat untuk diberikan pada hewan jenis tertentu. Namun, apa yang akan terjadi jika obat yang diberikan melebihi dosis yang seharusnya?
ADVERTISEMENT

Awal Mula Memelihara Anjing

Cerita ini dimulai sekitar tiga tahun lalu, di mana keluarga saya memelihara anjing kecil untuk pertama kalinya. Kami menamainya Chilla. Chilla memiliki bulu yang lebat dengan warna cokelat gelap. Muka Chilla mirip sekali dengan musang karena warna bulunya. Chilla adalah anjing ras Pomeranian yang energetik dan aktif sekali. Ia suka bermain dan berlari hingga capai dan akhirnya tertidur pulas.
Chilla saat masih berumur 2 bulan. Difoto oleh penulis.
Bulu lebat yang tidak kering setelah mandi bisa menyebabkan munculnya jamur pada tubuh. Kita tidak asing lagi dengan penyakit jamur yang bisa tumbuh di tubuh binatang termasuk anjing. Jamur pada tubuh anjing menyebabkan anjing merasa gatal dan menimbulkan iritasi pada tubuhnya.

Mulai Suatu Permasalahan

Chilla sudah lama belum mandi maka kami titip Chilla ke salon untuk mandi. Setelah selesai, kami membawa Chilla balik ke rumah. Pada awalnya, tidak ada yang aneh dengan Chilla. Namun, beberapa hari kemudian, Chilla mulai merasa bahwa badannya gatal-gatal dan selalu menggaruk bagian bawah leher. Kami tidak terlalu curiga dengan hal itu, tetapi Chilla makin sering menggaruk leher dan tidak bisa berhenti. Saat kami mengecek apa yang ada di bawah leher, kami kaget bahwa kami menemukan beberapa jamur. Tidak hanya itu, jamur yang nakal tidak hanya di bawah leher, tetapi juga ada di sela-sela kaki.
ADVERTISEMENT
Karena panik, kami langsung cepat-cepat pergi ke dokter hewan terdekat dan meminta pengobatan yang paling baik untuk penyakit jamur. Kebetulan, hari itu adalah hari di mana Chilla seharusnya mendapatkan vaksin kedua. Kami tidak yakin apakah anjing yang sedang sakit jamur bisa diberi vaksin kedua. Karena itu, orang tua saya menanyakan kepada dokter hewan tersebut kapan sebaiknya anjing diberikan vaksin jika sedang sakit.
Sambil memberikan obat jamur kepada anjing saya, sang dokter hewan mengatakan bahwa sekarang adalah waktu yang tepat untuk memberikan vaksin. Dengan kata lain, walaupun terkena jamur, Chilla masih boleh diberikan vaksin.
Orang tua saya terheran-heran. Apakah benar anjing saat sakit boleh diberikan vaksin? Namun, karena ini adalah pertama kalinya kami memelihara anjing, kami kurang yakin dengan jawabannya. Akhirnya, kami mengikuti saran dokter karena kami percaya dengan dokter. Setelah diberikan vaksin, anjing saya tetap berperilaku seperti biasanya. Namun, setelah sampai rumah Chilla mulai merasa lemas, tidak ada energi, dan mengantuk. Saya dan orang tua saya berpikir bahwa ini normal karena merupakan efek samping diberi vaksin.
ADVERTISEMENT
Kami terlalu cepat untuk merasa aman.

Tragedi Menimpa Kami

Keesokan harinya, anjing saya mulai kejang-kejang dan mengeluarkan air liur yang berbusa. Anjing saya juga mulai lari-lari dalam lingkar serta gonggong seperti sedang panik. Saya dan orang tua saya menjadi khawatir dan langsung cepat-cepat untuk bersiap-siap karena ingin membawanya kepada dokter hewan yang berbeda. Namun, pada saat ingin membawa ke rumah sakit, disitulah anjing saya mulai kejang-kejang lagi dan buang air kecil serta buang ari besar yang tidak terkontrol.
Di rumah sakit hewan, dokter mengatakan bahwa anjing saya harus dirawat di rumah sakit tersebut. Kami setuju. Dengan dirawat di rumah sakit, kami berharap dan terus berdoa kepada Tuhan bahwa kami ingin Chilla sembuh dan balik menjadi aktif seperti dahulu. Keluarga saya dan saya jenguk anjing saya di rumah sakit hewan tersebut setiap hari. Kami selalu menemaninya dan mengajak ngobrol dengannya. Kami selalu elus pala Chilla dan berkata, “Chilla, kamu akan sembuh. Kamu pasti akan sembuh dan bermain dengan kami lagi.”
ADVERTISEMENT
Namun, keadaan Chilla makin parah.
Chilla ingin makan, tetapi tidak bisa makan. Chilla ingin minum, tetapi tidak bisa minum. Chilla ingin goyang buntutnya ketika bertemu dengan kami, tetapi tidak bisa. Chilla ingin tidur, tetapi tidak bisa menutup mata. Lemas dan tidak ada energi. Air mata Chilla menghalangi penglihatannya.
Chilla menghela napas terakhirnya setelah empat hari dirawat di rumah sakit. Segala cara untuk menyembuhkan anjing saya gagal. Para dokter juga mengatakan bahwa mereka tidak pernah melihat anjing lain dalam keadaan seperti Chilla. Hal ini adalah hal yang baru untuk mereka.
Ketika mengecek keadaan tubuh anjing saya, dokter berkata bahwa tidak ada jamur di tubuh Chilla. Segala bagian pada tubuh Chilla bersih dan tidak ada jamur yang terlihat. Namun, dokter curiga dengan hal ini dan langsung mengambil darah Chilla untuk melihat hasil tes darah. Setelah hasilnya keluar, hasil tes darah menunjukkan bahwa jumlah sel darah putih dan sel darah merah dalam tubuh Chilla sangat kurang dari yang seharusnya.
ADVERTISEMENT

Hindari Overdose

Jadi, apa yang sebenarnya membunuh Chilla?
Pada awalnya, kami mengira bahwa vaksin yang diberikan saat Chilla sedang sakit adalah alasan mengapa anjing saya mati. Ternyata bukan itu alasannya. Sebelum diberikan vaksin, dokter memberikan obat jamur kepada Chilla. Namun, obat jamur yang diberikan kepada Chilla melebihi dosis yang seharusnya diberikan kepada anjing kecil. Jadi, Chilla adalah korban overdosis.
Bagi para pemilik hewan pemeliharaan termasuk saya, kita harus berhati-hati saat memberikan obat kepada hewan kesayangan kita. Kita tidak ingin overdosis menjadi alasan mengapa hewan peliharaan kita sakit. Namun, jangan membuat ini menjadi alasan mengapa Anda takut untuk memberi obat kepada hewan peliharaan Anda. Kita harus tetap mengawasi dosis obat yang diberikan pada hewan peliharaan kita.
ADVERTISEMENT