Separator TJ Koridor 9 Ditabrak Mobil-Truk 24 Kali Sejak Agustus 2026, Kok Bisa?

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Macet akibat truk tabrak separator koridor 9 di Cawang Ciliwung, Senin (19/10/2026). Foto: Dok. Transjakarta
zoom-in-whitePerbesar
Macet akibat truk tabrak separator koridor 9 di Cawang Ciliwung, Senin (19/10/2026). Foto: Dok. Transjakarta

Kabar soal kendaraan menabrak separator di jalur TransJakarta (TJ) koridor 9 makin sering terdengar. Yang terbaru, ada truk menabrak separator busway di Jalan Letjen S. Parman, Slipi, Jakarta Barat pada Rabu (21/10) pagi. Tabrakan ini menyebabkan gangguan di koridor yang melayani rute Pinang Ranti sampai Pluit ini.

Kejadian serupa juga terjadi dua hari sebelumnya pada Senin (19/10). truk menabrak separator sebelum Halte Ciliwung hingga beberapa rute termasuk koridor 9 mengalami pengalihan rute.

Gangguan di koridor 9 bak jadi makanan sehari-hari penggunanya. Di media sosial, bahkan ada celetukan bahwa justru aneh bila tak ada kabar buruk dari koridor yang membentang sepanjang 28,4 km ini.

Koridor 9 ini adalah koridor terpanjang dan paling ramai kedua setelah koridor 1 (Blok M - Kota). Jumlah penumpangnya mencapai sekitar 2 juta tiap bulannya.

Berikut daftar jumlah pengguna TJ berdasarkan koridor:

Table Embed

Menampilkan 10 data dari 14 data

No
Rute
Koridor BRT
Agustus
Juli
Juni
1
Blok M – Kota
1
2.374.645
2.573.820
2.211.451
2
Pinang Ranti – Pluit
9
1.974.121
2.188.864
2.039.076
3
Ciledug – Tegal Mampang
13
1.394.203
1.542.820
1.433.899
4
Lebak Bulus – Pasar Baru
8
1.269.750
1.350.663
1.274.386
5
Pulo Gadung – Monas
2
1.099.603
1.183.180
1.124.459
6
Kampung Melayu – Ancol
5
1.002.464
1.074.219
1.039.395
7
Ragunan – Galunggung
6
996.554
1.121.654
1.046.724
8
Kalideres – Monas
3
916.511
1.009.819
975.333
9
Kampung Melayu – Kampung Rambutan
7
858.871
918.403
893.340
10
PGC – Tanjung Priok
10
766.499
823.014
787.483

1 - 10 dari 14 baris

Waktu Tempuh TJ Membengkak 4 Kali Lipat Jika Ada Kecelakaan

Salah satu pengguna yang memanfaatkan koridor 9 setiap hari, Sea, mengaku bahwa jalur koridor 9 memang langganan terkena gangguan, terutama akibat kendaraan menabrak separator. Menurut pengalamannya, kejadian paling sering terjadi di sekitar Halte Ciliwung.

Suasana saat gangguan di koridor 9 TransJakarta dari dalam bus. Foto: Dok. Istimewa

"Persis deket halte TJ Ciliwung emang langganan crash, entah enggak pernah dievaluasi atau gimana, jadi kejadian terus kecelakaan di sana. Menurut aku, emang jalanannya sempit dan kurang penanda kalau di sana ada separator," terang Sea saat dihubungi kumparan, Rabu (21/10). Sea sebelumnya menumpahkan kekesalannya di Thread.

Sea mengaku bahwa perjalanannya bisa empat kali lebih lama apabila ada kecelakaan.

"Karena lebih sering di daerah Ciliwung dan Cikoko. Jadi perkiraan dari Cawang Sentral udah macet, yang biasanya ke Cikoko cuma 10 menitan bisa jadi 35-45 menitan," tambah Sea.

Ia memperkirakan bahwa ia sudah jadi korban keterlambatan TJ akibat tabrakan kendaraan dengan separator sebanyak 4-5 kali dalam setahun.

Pengalaman Sea tersebut sejalan dengan data yang dihimpun kumparan. Berdasarkan pantauan di akun resmi TransJakarta di X, kasus gangguan operasional koridor 9 terkait separator angkanya meningkat, yang awalnya hanya 4 kejadian pada Agustus 2026 menjadi 11 kejadian pada September 2026.

embed from external kumparan

Sementara hingga 21 Oktober 2026, tercatat sudah ada 9 kejadian kendaraan menabrak separator.

Lokasi kejadian yang dialami Sea pun sejalan data yang kami himpun. Data menunjukkan bahwa gangguan terkait separator paling sering terjadi di sekitar Halte Ciliwung. Ada 8 kejadian sepanjang Agustus hingga 21 Oktober 2026.

Beberapa halte lain juga mengalami hal yang sama, namun tak sesering Halte Ciliwung. Masing-masing ada dua kejadian di sekitar Halte Gerbang Pemuda, Denpasar, Tanjung Duren, Kemanggisan, Petamburan, dan Kota Bambu.

Ada pula masing-masing satu kejadian di sekitar Halte Widya Chandra Telkomsel, Jembatan Tiga, dan Tebet Eco Park.

embed from external kumparan

Pengguna Mobil Keluhkan Warna hingga Letak Separator

Banyaknya kejadian di sekitar Halte Ciliwung turut diamini pengguna mobil pribadi. Salah satu pengguna jalan di jalur koridor 9, Intan Puspita, mengeluhkan separator tidak terlihat karena warnanya.

"Separatornya sih warnanya kebanyakan abu-abu gitu, enggak terang. Jadi kalo dini hari nyetir dan agak ngantuk bisa jadi enggak liat ada separator," terang Intan saat dihubungi kumparan, Rabu (21/10).

"Enggak ada tanda mau ada separator. Buat yang enggak hafal jalan sih emang wajar banget nabrak. Apalagi rata-rata nabraknya dini hari, orang udah turun fokusnya," tambahnya.

Ilustrasi jalur transjakarta. Foto: Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO

Tak hanya itu, Intan juga terganggu dengan penempatan separator yang 'bolong-bolong' sepanjang jalur koridor 9. Tak semua jalan ada separator bus TJ.

"Enggak full gitu. Tetap ada celah-celah, bolong-bolongnya. Bener tricky, ditambahkan warnanya," ungkap Intan.

Berdasarkan pengalaman Intan, kecelakaan cukup sering terjadi, terlebih di hari kerja. Ia bisa terjebak di jalan hingga dua jam.

Pengguna kendaraan pribadi terbukti jadi yang paling sering terlibat kecelakaan menabrak separator koridor 9. Ada 12 kejadian yang melibatkan kendaraan pribadi sepanjang Agustus hingga 21 Oktober 2026. Lalu disusul oleh truk sebanyak 8 kejadian.

Kendaraan lain yang terlibat kecelakaan ada mobil box sebanyak dua kejadian. Ada pula bus AKAP dan taksi online masing-masing satu kejadian.

embed from external kumparan

Pengamat: Separator Longkap Jadi Penyebab

Pengamat Transportasi INSTRANS, Deddy Herlambang, menilai penyebab utama kecelakaan adalah separator yang tidak sepenuhnya melintang sepanjang jalur. Hingga saat ini, kata Deddy, separator yang utuh hanya ada di jalur koridor 1 dan 6.

"Koridor 9 itu sepanjang 28 km, itu tidak tidak terpangari oleh separator. Karena situ, Koridor 9 ini malah sedikit ya, malah sekitar 50% yang terpagari separator. Jadi, pengguna masyarakat umum dipikir mix ya, campur," terangnya saat dihubungi kumparan, Rabu (21/10).

"Jadi, ketika mungkin pengemudinya ngantuk atau tidak melihat ke depan, ternyata di depan ada separator. Sehingga ditabrak," tambahnya.

Menurut Deddy, kecelakaan terkait separator cenderung terjadi saat jalanan sepi.

Pengamat transportasi Deddy Herlambang. Foto: Aji Cakti/ANTARA

"Justru kalau jalurnya padat, mereka itu pelan. Kendaraan akan pelan. Justru ketika tidak padat, masyarakat akan cepat, akan ngebut, itu menjadi masalah," tegasnya.

Baginya, satu-satunya cara untuk mencegah kejadian serupa adalah dengan memasang separator penuh di sepanjang jalur koridor 9. Menurutnya, pemasangan tanda sebelum separator tak begitu berpengaruh.

"Kalau mau, dipasang separator semua. Kalau rambu-rambu percuma, ditabrak terus. Apalagi kalau malam di atas sembilan," ungkapnya.

"BRT is rapid transit, tidak ada jalur campur. Kalau non-BRT campur. Kalau yang benar-benar BRT ya harus steril jalur BRT-nya," tambahnya.

Terkait dengan saran itu, Deddy menilai opsi tersebut mungkin saja dilakukan. Namun, ada risiko penyempitan atau bottleneck di beberapa ruas jalan.

Rambu Lalu Lintas Perlu Beri Gambaran 'What's Next?'

Dosen Psikologi Universitas Indonesia (UI) Dicky Pelupessy beranggapan bahwa pencegahan kecelakaan terkait separator TJ dapat diminimalisasi dengan adanya rambu lalu lintas yang memadai. Dicky merupakan pakar psikologi di bidang intervensi sosial.

Ketua Laboratorium Intervensi Sosial dan Krisis Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Dicky Pelupessy. Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

Ia menjelaskan bahwa rambu lalu lintas sejatinya harus membantu pengguna jalan dalam menilai dan menentukan tindakan (judgment and decision making) yang harus dilakukan saat berkendara.

"Rambu-rambu itu intinya memberikan informasi kepada kita supaya kemudian kita bisa memberikan penilaian yang tepat atau penilaian yang cukup. Sehingga kemudian pengambilan keputusan kita itu tepat. Jadi nih mekanisme psikologi itu kaitan ke sana," terang Dicky saat dihubungi kumparan, Kamis (22/10).

Kata Dicky, berdasarkan studi Psikologi terkait intervensi sosial, terbukti bahwa rambu yang sifatnya non-statis dapat lebih membantu dalam proses judgment and decision making pengguna jalan. Jadi, rambu memberikan gambaran apa yang akan terjadi.

"Rambu-rambu yang ada selama ini yang kebanyakan dipasang itu apa? Ternyata modelnya kita sebut saja model statis. Dia hanya memberikan informasi yang tidak membuat orang bisa membayangkan apa yang akan terjadi," ungkapnya.

Tanda lalu lintas. Foto: Shutterstock

"Yang dia bayangkan itu apa yang akan terjadi berikutnya. What next? Nah, berarti kalau ada rambu-rambu itu, orang melihat apa yang akan (terjadi) katakanlah 1, 2, 3 detik setelahnya" tambahnya.

Ia memberikan contoh rambu statis seperti rambu tanda keberadaan binatang liar rawan tertabrak dan tanda bahaya tebing longsor dengan gambaran kerikil jatuh.

Menurut Dicky, rambu semacam ini juga dapat diterapkan untuk mencegah kasus tabrakan separator TJ.

"Kalau ibaratnya dia gak konsen, ya nanti nabrak separator, terus apa yang akan terjadi, itu bisa dicoba sih menurut saya. Jadi juga ada informasi di pinggir jalan itu dalam bentuk what's next," ungkapnya.

Ia tak menampik bahwa ada cara intervensi dengan pendidikan tertib berkendara, namun itu sifatnya jangka panjang. Baginya, ketika sudah di jalan, rambu lalu lintaslah yang berperan lebih banyak.