Terhimpit di Tengah Sesaknya KRL Green Line: Tak Ada Pilihan Lain

Setiap Senin hingga Jumat, Marudut Lumban Raja (27) harus bangun pukul empat pagi. Saat langit masih gelap gulita, ia sudah bersiap memulai perjalanan panjang dengan KRL dari rumahnya di Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, menuju tempat kerjanya di kawasan Mangga Dua, Jakarta Utara.
Rutinitas itu sudah dijalaninya sejak akhir Agustus 2026, ketika ia memutuskan untuk mengambil kredit pemilikan rumah (KPR) dan pindah ke Gunung Sindur.
Untuk berangkat kerja, Marudut mengandalkan commuter line. Dari rumah, ia naik sepeda motor menuju Stasiun Rawa Buntu dan biasanya tiba sekitar pukul 05.55 WIB. Dari sana, ia naik kereta menuju Stasiun Tanah Abang, lalu melanjutkan perjalanan ke Stasiun Rajawali yang berada dekat tempat kerjanya.
Dari awal, ia sudah tahu bahwa ia harus melalui perjalanan yang panjang untuk sampai ke tempat kerja. Ia pun sudah paham betul bawah lokasi rumahnya tak memiliki akses sarana transportasi lain selain KRL.
"Kalau selama ini fine-fine aja masih bisa di-okeinlah," ujar Marudut kepada kumparan pada Senin (12/10).
Ia juga membeberkan alasannya memilih rumah di Gunung Sindur. Baginya, harga rumah di daerah sana masih terjangkau dan lebih dekat ke stasiun kereta dibandingkan dengan perumahan di daerah suburban lain seperti Bojong Gede, Citayam, dan Cilebut.
"Harga rumahnya masih oke di sana. Jadi makanya kita ambil ke daerah sana. Kalau daerah Jakarta ini, harga rumah udah tinggi-tinggi banget. Makanya berani ngambil ke arah sana, ke arah Tangerang Selatan," katanya.
Menurut pengalamannya, KRL Green Line arah Tanah Abang masih cenderung aman jika naik dari Rawa Buntu. Lain cerita dari Stasiun Jurangmangu, KRL semakin padat hingga penumpang terjepit.
"Yang belakangnya jadi sampai kejepit ke pintulah. Karena badannya semuanya," ujarnya.
Ia juga bercerita bahwa saat jam berangkat kerja, ia tak pernah mendapatkan tempat duduk di dalam kereta. Ia baru bisa duduk di perjalanan dari Stasiun Tanah Abang ke Stasiun Rajawali.
Tak hanya Marudut, cerita lain juga datang dari Karin Aliffa (24). Saat kumparan menjajal langsung keramaian KRL Green Line pada Senin (12/10) sekitar pukul 6 pagi di Stasiun Rawa Buntu, kami melihat Karin tak kunjung beranjak dari tempat duduk selama sekitar 20 menit, padahal sudah ada dua kereta yang lewat.
Ternyata, menurut pengakuan Karin, perempuan warga Pamulang ini memilih untuk menunggu sampai kereta tak begitu padat, sehingga ia bisa berdiri dengan lebih leluasa.
"Biasanya saya nunggu orang naik dulu, baru saya lihat saya bisa berdiri atau nggak. Kalau misalnya saya enggak ada kesempatan untuk berdiri, maksudnya kosong gitu buat saya berdiri secara benar gitu ya, enggak ada berdesakan, ya saya enggak mau. Tapi kalau misalnya ada, baru saya naik," ungkap Karin.
Ia mengaku tak ada jam pasti kapan dia harus naik kereta. Jam masuk kantornya pukul setengah sembilan, namun ia bilang bahwa ia tiba di kantor paling terlambat pukul sembilan.
Beda dengan Marudut, Karin tak transit di Stasiun Tanah Abang. Ia memilih memakai ojek online dari stasiun ke kantornya di daerah Kemayoran, Jakarta Pusat.
Okupansi KRL Green Line 160%, Rangkaian Cuma 10 Gerbong
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Bobby Rasyidin menyampaikan bahwa Commuter Line Jabodetabek melebihi kapasitas. Hal itu terjadi di Green Line, Red Line, dan Blue Line.
Overcapacity terparah terjadi di Green Line. Okupansi KRL di lintas ini mencapai 160 persen, mengungguli Red Line sebesar 130 persen dan Blue Line sebesar 120 persen. Okupansi di sini merupakan kemampuan satu gerbong KRL seluas 60 meter persegi (20 meter kali 3 meter) untuk menampung penumpang.
"Yang Rangkasbitung itu okupansinya sekarang lebih dari 100 persen, 160 persen. Yang ke Bekasi itu 120 persen. Kemudian yang Bogor itu 130 persen. Jadi kalau standarnya itu tadi 1 banding 6 [6 orang per meter persegi]. Nah, Bogor dan Bekasi itu masih sekitar 1 banding 7 [7 orang per meter persegi]. Sementara kalau yang Rangkasbitung ini 1 banding 12 [12 orang per meter persegi]," terangnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama DPR RI, Rabu (23/9).
Bobby tak menampik bahwa overcapacity tersebut tak lepas dari persoalan headway atau jarak waktu antar rangkaian kereta di Green Line yang berkisar 10 hingga 15 menit. Ia turut menyampaikan solusi untuk persoalan ini, salah satunya soal penambahan daya listrik.
"Karena persinyalannya masih persinyalan zaman baheula. Jadi sinyalnya tertutup. Nah ini yang rencana program kami, kami tingkatkan. Jadi persinyalannya itu nanti kita bikin terbuka, block terbuka. Jadi headway-nya itu nanti bisa tetap sampai 5 menit. Listriknya kita tambah," ungkap Bobby.
Bobby menargetkan prasarana Green Line beres pada 2028. "Insya Allah, prasarana kita bereskan sampai 2028 ya. Terutama yang di rangkas Green Line, dan kita penambahan juga bisa disetujui jadi kita tambal dulu," tambahnya.
Tak hanya itu, perlu diketahui bahwa pengguna KRL Green Line mengalami kenaikan paling besar jika dibandingkan dengan Red Line dan Blue Line. Kenaikannya hingga 79,03 persen dalam periode 2022 hingga 2025. Sementara itu, Red Line kenaikannya mencapai 51,89 persen. Adapun Blue Line mencapai 54,40 persen.
Di tengah peningkatan pengguna, hingga saat ini, Green Line masih dilayani rangkaian (trainset) 10 gerbong dengan jumlah rangkaian yang berdinas hanya 19 rangkaian. Sementara Red Line dilayani 37 rangkaian dengan 8 hingga 12 gerbong dan Blue Line dilayani 26 rangkaian dengan 10 hingga 12 gerbong.
Sementara KAI Commuter sudah menargetkan rangkaian KRL dengan formasi 12 gerbong atau SF12 dapat beroperasi di lintas Green Line paling lambat semester I 2027. Pengoperasian rangkaian yang lebih panjang ini disiapkan untuk menambah kapasitas angkut KRL di lintas Rangkasbitung yang selama ini menghadapi kepadatan penumpang.
"Yang sekarang ini kita siapkan KAI dengan KCI terkait dengan prioritasnya adalah ke Green Line. Jadi yang prioritas adalah kita meng-upgrade gardu, sama menambah beberapa gardu baru sehingga bisa dijalankan SF12," kata Dirut KAI Commuter Mochamad Purnomosidi usai Press Conference Commuter Run 2026 di Commuterline Hall, Stasiun Juanda, Senin (24/8).
