Mengenal Schadenfreude dan Glück Schmerz: Paket Ekspresi Emosi Negatif Manusia

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Aurelia Serena tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seringkali sudah telinga kita mendengar sarkasme ala ala tetangga, “Orang itu senang sekali melihat orang susah” atau sebaliknya “Dia pasti kecewa saat melihat orang lain bahagia” dengan buntutnya yang menyangkut pautkan iri, kurang simpati dan sebagainya. Sampai ada dukungan dalam sebuah pameo yang menyuarakan “senang kalau orang lain susah dan susah kalau orang lain senang”. Lantas benarkah ada emosi seperti yang ada pada sindiran itu? Dan apakah hal ini bisa dianggap normal untuk dirasakan manusia?
Setiap individu pasti mempunyai setidaknya beberapa sisi gelap dalam dirinya, dan selalu ada potensi untuk mengekspresikannya sebagai wujud dari emosi negatif.
Salah duanya adalah Schadenfreude dan Glück Schmerz yang merupakan dua emosi berbeda, tapi keduanya sama sama merupakan ekspresi emosional yang negatif. Dengan istilah yang sepertinya jarang terdengar, sebenarnya penerapan kedua emosi ini sangat sering dijumpai dan dirasakan oleh manusia.
Apa itu Schadenfreude dan Glück Schmerz?
Kata Schadenfreude dan Glück schmerz sama sama berasal dari bahasa Jerman. Schadenfreude terbentuk dari kata schaden “merugikan” dan freude “kegembiraan”, yang berarti perasaan puas saat melihat orang lain dalam keadaan kesusahan, sedangkan Glück schmerz juga terbentuk dari dua kata yaitu gluck “beruntung” dan schmerz “penderitaan, yang artinya menderita diatas kebahagiaan orang lain.
Baik schadenfreude maupun gluckshmerz mudah sekali ditemukan pada kehidupan sehari hari, entah itu di dunia nyata ataupun di dunia maya. Contoh kasusnya, ada sepasang adik kakak, suatu hari si kakak melakukan kesalahan dan dimarahi oleh ibunya kemudian ia dihukum, lalu ada perasaan gembira dalam hati adiknya saat melihat kakaknya dimarahi, maka perasaaan gembira itulah yang dinamakan schadenfreude. Untuk gluckschmerz, dimisalkan ketika ada anak tetangga yang tiba tiba usaha nya sukses hingga tajir melintir, dan tanpa sadar kita merasa jengkel karenanya, saat itulah emosi gluckschmerz ini muncul.
Faktor psikologi
Dari riset yang dilakukan oleh Syahid & Akbar (2020), mereka mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi munculnya kedua emosi ini ditinjau dari sisi psikologisnya, yang antara lain: evaluasi yang dihasilkan individu terhadap dirinya sendiri (self esteem), adanya iri hati juga kecemburuan (envy), muncul kebencian (resentment), hubungan yang terjadi dalam suatu kelompok, tidak mengenal rasa belas kasihan hingga muncul kepuasan saat menyakiti seseorang (sadistic), rendahnya empati, penilaian keprofesionalan diri (self evaluation), saat kemalangan orang lain dianggap layak untuk menimpa orang tersebut (misfortune), demografi, dan yang terakhir adalah harga diri yang dimiliki suatu individu (self image).
Lalu kapan saja seorang individu berpotensi merasakan emosi ini?
Utamanya adalah saat melihat orang lain sengsara atau mendapat keberuntungan, namun selain itu, gejala emosi ini bisa keluar pada saat:
Dimana seseorang merasa keharusan adanya suatu keadilan dalam lingkupnya, seperti ketika ada individu yang melanggar peraturan maka akan timbul anggapan bahwa individu tersebut memang pantas mendapat ganjaran
Menjadi respon akibat kecewa akan kegagalan, yang menjadikan kemalangan orang lain menjadi menarik dan keberhasilan orang lain menjadi bentuk ukuran kekalahannya
Adanya persaingan di tengah masyarakat, sehingga emosi ini menjadi reaksi terhadap apa yang dihasilkan saingannya
Terlalu memikirkan kesuksesan atau kemalangan orang lain dan membandingkan dengan dirinya sendiri
Ada rasa tidak suka pada seseorang atau suatu kelompok, lalu menjadikan kehidupan orang tersebut sebagai parameter hidupnya
Hadirnya kecemburuan atas kesuksesan orang lain (Schadenfreude), hingga jika orang yang dicemburui itu mendapat kemalangan maka akan muncul emosi gluck schmerz
Dari kemungkinan keluarnya gejala schadenfreude dan gluck schmerz, Apakah kedua emosi ini bisa dianggap normal?
Menurut peneliti konsep schadenfreude Mina Cikara, emosi ini merupakan hal yang normal dan manusiawi untuk dirasakan semua orang. Jadi ketika merasakan salah satu dari kedua emosi ini tidak bisa dianggap sebagai gangguan kejiwaan, karena sebabnya bisa dijelaskan secara ilmiah.
Tapi kedua emosi ini jika terlalu sering dirasakan bisa juga berkembang menjadi sesuatu yang lebih berbahaya.
Seperti pada sebuah penelitian dari Emory University yang menyatakan jika terlalu sering atau mudah merasakan suka saat orang lain susah, bisa menunjukkan adanya kecenderungan psikopatik, yang menghalalkan segala cara, dengan tanpa rasa menyesal membuat orang lain mendapat kemalangan. Atau dalam kasus gluck schmerz jika terlalu sering bisa timbul gejala depresi karena terlalu sibuk memikirkan kesuksesan dan keberhasilan orang lain, sehingga nantinya ia akan mudah meratapi kemalangannya sendiri. Terutama apabila mengalami kedua emosi ini secara berlebihan menjadi salah satu penyebab ketidakbahagiaan dan berkurangnya rasa tenang dalam kehidupan.
Solusi agar tidak berlebihan dalam merasakan Schadenfreude dan Gluck schmerz
Sebelum kedua emosi ini berdampak dan berubah menjadi kebutuhan, perlu adanya pembiasaan mengelola emosi negatif yang bisa dilakukan dengan menambah rasa syukur, memposisikan perasaan empati kepada sesama, menghargai kehidupan pribadi dan juga orang lain, kurangi membandingkan diri dengan orang lain, jangan terlalu menjadikan sosmed sebagai parameter diri, gali potensi dalam diri serta jangan biarkan perasaan iri terus mengunci diri. Jika mulai lelah atau suntuk, bisa menghilangkan iri hati dengan menghabiskan waktu untuk self healing agar dapat mengusir emosi buruk yang disebabkan pikiran negatif.
Referensi
Cikara, M., Botvinick, M. M., & Fiske, S. T. (2011). Us Versus Them: Social Identity Shapes Neural Responses to Intergroup Competition and Harm. Psychological Science, 22(3), 306–313. https://doi.org/10.1177/0956797610397667
Hoogland, C.E., Ryan Schurtz, D., Cooper, C.M. et al. (2015). The joy of pain and the pain of joy: In-group identification predicts schadenfreude and gluckschmerz following rival groups’ fortunes. Motiv Emot, 39, 260–281. https://doi.org/10.1007/s11031-014-9447-9
Pandey, F. (n.d.). Schadenfreude adalah penyebab manusia bahagia melihat kemalangan dan penderitaan orang lain. https://www.fhandypandey.com/schadenfreude-adalah-penyebab-manusia-bahagia-melihat-kemalangan-dan-penderitaan-orang-lain-1938/
Smith, R. H., & van Dijk, W. W. (2018). Schadenfreude and gluckschmerz. Emotion Review, 10(4), 293-304.
Syahid, A., Ghozali, A., Safanah, D., Febriyani, L. S., Sholehah, L. M., Munip, M., & Khotimah, M. (2021). MENGENAL SCHADENFREUDE & GLÜCKSSCHMERZ. Haja Mandiri.
