Sopan Menurut Kita, Ambigu Menurut Mereka: Ketika Sungkan Bertemu To the Point

Mahasiswi Universitas Airlangga
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Aurelia Shallom Ayustyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Coba ingat-ingat, berapa kali minggu ini kamu menjawab "iya" atau "nanti dulu" padahal sebenarnya ingin bilang "tidak"? Kebanyakan dari kita mungkin kesulitan menghitungnya. Bagi banyak orang Indonesia, menolak secara langsung terasa seperti menutup pintu di depan wajah orang. Kebiasaan itu terasa wajar sampai suatu hari kita berhadapan dengan orang yang tumbuh dengan aturan berbeda. Saya mengalaminya semester lalu, lewat sebuah pesan singkat di grup WhatsApp.
Saya kebagian menulis analisis data dalam sebuah tugas kelompok. Teman sekelompok saya, sebut saja Lukas, mahasiswa pertukaran dari Jerman, bertanya lewat grup, "Can you finish your part by Thursday?" Saya tahu pekerjaan saya sedang menumpuk. Namun menjawab "tidak" di depan seluruh anggota grup terasa tidak enak. Maka saya mengetik, "Aku usahakan ya." Kamis malam, bagian saya belum selesai. Lukas mengirim pesan singkat: "You said you would try. Why didn't you tell me it was not possible?" Nadanya datar, tanpa basa-basi. Reaksi pertama saya, jujur saja, tersinggung. Saya merasa ditagih dengan kasar. Baru belakangan saya sadar bahwa Lukas juga kecewa. Baginya, "aku usahakan" berarti pekerjaan itu akan selesai.
Ketika Menjaga Perasaan Jadi Prioritas
Kejadian ini membuat saya penasaran, mengapa salah paham seperti ini terasa begitu umum. Dalam kajian komunikasi lintas budaya, ada konsep "muka" (face), yaitu citra diri yang ingin dijaga seseorang di hadapan orang lain. Ting-Toomey dan Kurogi (1998) menyebut perilaku komunikasi yang dipakai untuk menjaga, menantang, atau mendukung citra diri sendiri maupun lawan bicara sebagai facework.
Dengan kacamata itu, "aku usahakan" adalah facework versi saya. Saya ingin Lukas tidak merasa ditolak, dan pada saat yang sama saya tidak ingin terlihat tidak mampu. Di telinga saya, kalimat itu sudah cukup sopan dan cukup jelas. Di telinga Lukas, kalimat itu hanyalah janji yang belum ditepati.
Hou (2023) menjelaskan bahwa menurut teori negosiasi muka, orang dari budaya kolektivistik cenderung memilih strategi menghindar ketika situasi berpotensi menimbulkan gesekan, misalnya diam, mengalah, atau berpura-pura. Namun penelitiannya terhadap dua mahasiswa asal Tiongkok di Australia menunjukkan gambaran yang lebih rumit. Salah satu partisipan memilih diam dalam dua peristiwa berbeda, tetapi alasannya tidak sama. Pada peristiwa pertama ia menjaga citra dirinya, sedangkan pada peristiwa kedua ia ingin menghindari masalah lebih besar demi pekerjaannya. Partisipan lainnya justru bersikap tegas ketika merasa karakternya disalahpahami. Artinya, gaya komunikasi tidak langsung tidak bisa dijelaskan hanya dengan satu kata, yaitu budaya. Situasi, posisi, dan kepentingan tiap orang ikut menentukan.
Kejelasan sebagai Bentuk Penghargaan
Setelah suasana reda, saya memberanikan diri bertanya langsung kepada Lukas. Ia menjelaskan bahwa ia tidak bermaksud menyudutkan. Menurutnya, jawaban "tidak bisa" sejak awal justru lebih membantu karena kelompok masih punya waktu untuk membagi ulang tugas. Dengan "aku usahakan", ia tidak punya dasar untuk merencanakan apa pun.
Penjelasan itu mengubah cara saya melihat sikapnya. Di kepala saya, orang yang to the point itu kurang peka. Bagi Lukas, kejelasan adalah cara menghargai waktu orang lain. Kami sama-sama berniat baik, tetapi memakai "aturan main" yang berbeda untuk menilai satu sama lain.
Bertemu di Tengah
Sejak itu kami menyepakati beberapa aturan sederhana. Kalau tidak sanggup, kami cukup mengatakan "belum bisa" dan menawarkan alternatif, misalnya, "Aku baru selesai Jumat siang, apakah masih memungkinkan?" Kalimat itu tetap santun, tetapi memberi informasi yang bisa dipakai untuk merencanakan pekerjaan. Lukas juga mulai membuka komentarnya dengan menyebut bagian yang sudah baik. Saya sendiri belajar menerima kritik "bagian ini kurang jelas" sebagai komentar tentang tulisan, bukan tentang diri saya.
Pengalaman kecil ini sejalan dengan gagasan kompetensi antarbudaya. Ting-Toomey dan Kurogi (1998) merumuskannya sebagai perpaduan pengetahuan budaya, kesadaran penuh, dan keterampilan komunikasi yang luwes dalam menghadapi situasi yang menyentuh jati diri. Hou (2023) menambahkan catatan penting. Dalam salah satu kasus yang ia teliti, seorang mahasiswa sudah menjelaskan bahwa kesalahannya berasal dari latar budaya, tetapi atasannya tetap meminta ia berubah. Menurut Hou, kompetensi ini harus bersifat timbal balik. Jika hanya satu pihak yang terus menyesuaikan diri, salah paham akan terus berulang.
Kampus kita semakin beragam, dan pertemanan lintas negara akan makin sering terjadi. Sebelum menilai teman sebagai kasar atau tidak bisa dipercaya, ada baiknya kita bertanya dulu, "Apa maksudmu sebenarnya?" Pertanyaan sederhana itu hanya butuh beberapa detik, tetapi bisa menghemat banyak kesalahpahaman.
Bagi sesama mahasiswa Indonesia, berkata "belum bisa" dengan jelas bukanlah tanda tidak sopan. Bagi teman internasional, kehangatan dalam menyampaikan pesan tidak mengurangi kejujuran. Kita tidak perlu menjadi orang lain untuk saling memahami. Kita hanya perlu bersedia belajar membaca cara orang lain berbicara.
________________________________________
Daftar Pustaka
Hou, M. (2023). Face and identity in intercultural conflict management. Journal of Intercultural Communication, 23(2), 88–96. https://doi.org/10.36923/jicc.v23i2.55
Ting-Toomey, S., & Kurogi, A. (1998). Facework competence in intercultural conflict: An updated face-negotiation theory. International Journal of Intercultural Relations, 22(2), 187–225. https://doi.org/10.1016/S0147-1767(98)00004-2
