Konten dari Pengguna

Reaksi Terhadap Film Obsession: Memahami Victim Blaming

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aurellia Angelie Shalum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Source: Blumhouse on YouTube
zoom-in-whitePerbesar
Source: Blumhouse on YouTube

What’s so bad about being with me?”

Film Obsession pertama kali tayang pada 15 Mei 2026 di Amerika Serikat dan kemudian masuk ke Indonesia pada 26 Juni 2026. Film ini bercerita mengenai sosok Baron, atau yang kerap disapa Bear, yang bekerja di dalam sebuah toko rekaman musik yang memiliki keterikatan dengan sosok Nikki, rekan kerjanya. Suatu ketika, Nikki tiba-tiba mengabari Bear bahwa dirinya memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya karena ingin mengejar mimpinya. Hal ini membuat Bear terpukul sekaligus khawatir karena ia takkan bertemu Nikki setiap hari seperti biasanya dan dihadapkan pada risiko tak bisa mengungkapkan perasaannya selamanya. Sebagai sosok yang introvert, Bear tak berani mengungkapkan isi hatinya kepada Nikki. Dengan penuh rasa menyesal, Bear mengambil cenderamata “One Wish Willow” yang ia beli sebelumnya dan membuat permohonan agar Nikki bisa mencintainya lebih dari siapa pun di dunia ini. Tetapi hal yang tak ia sangka malah terjadi: Nikki berubah menjadi sosok yang terobsesi padanya sampai pada fase yang tak sehat dan mengerikan.

Film ini cukup banyak mengundang reaksi warganet. Banyak warganet yang merasa iba kepada Nikki. Pasalnya, Nikki “dipaksa” oleh Bear untuk mencintainya. Bahkan, Bear telah menghancurkan hidup Nikki dengan membuat Nikki dirasuk oleh sosok yang berpura-pura menjadi dirinya dan terobsesi dengan Bear. Di akhir cerita, Nikki digambarkan telah lepas dari sihir “One Wish Willow” milik Bear, tetapi kemungkinan besar harus menghadapi sanksi legal imbas “tindakannya” di bawah pengaruh sihir yang telah membunuh kedua koleganya, Sarah dan Ian. Di dalam film ini digambarkan seolah-olah Nikki-lah sosok antagonis dari film ini, tetapi nyatanya Bear-lah yang terobsesi dengan Nikki sampai berani mengambil tindakan di luar nalar untuk membuat Nikki mencintainya. Bahkan dalam satu adegan, Nikki yang asli telah memohon kepada Bear untuk membunuhnya karena telah tersiksa oleh sihir Bear, tetapi Bear hanya membalasnya dengan “Seburuk itukah bersamaku?”. Ini yang disadari oleh banyak warganet yang membuat film ini semakin bermakna.

Film Obsession adalah salah satu bukti nyata betapa mengerikannya ketika seseorang terobsesi. Bukan betapa mengerikannya Nikki terobsesi dengan Bear, tetapi sebaliknya. Bagaimana Bear membiarkan serentetan kejadian mengerikan yang dilakukan oleh Nikki, bahkan mengorbankan Nikki, hanya untuk memenuhi hasrat pribadinya. Nikki sedari awal adalah korban, bukan pelaku. Ia tak pernah menginginkan maupun menyukai Bear. Tapi karena keegoisan seorang laki-laki, hidupnya hancur. Mirisnya, sebagian orang tetap beranggapan bahwa Nikki punya andil; ia juga salah, bahkan mengatakan bahwa Nikki yang terobsesi adalah dirinya yang sebenarnya. Pertanyaannya, di mana salahnya Nikki?

Perilaku menyalahkan korban, selayaknya orang-orang yang menjadikan Nikki sebagai pelaku, disebut sebagai victim blaming. Pihak korban, terutama perempuan, selalu dipertanyakan meskipun telah dinyatakan sebagai korban. Alih-alih membantu, victim blaming justru akan menekan korban, bahkan menghilangkan makna korban itu sendiri, seolah-olah korban juga memiliki andil dan sudah selayaknya mendapatkan tindakan tersebut. Padahal, secara khusus di Indonesia, sudah ada landasan hukum yang mengatur mengenai victim blaming, yaitu Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (Harahap dan Safiq 2026, 263). Walaupun begitu, implementasinya masih belum sepenuhnya maksimal. Mungkin tindakan hukum bisa diatur, tetapi tidak dengan tindakan dalam masyarakat.

Victim blaming juga bisa hadir tak hanya dalam bentuk menyalahkan korban secara gamblang. Hanya dengan meragukan kesaksian korban sampai ke pengutamaan bukti fisik (luka fisik) pada korban yang lebih dipentingkan dan tak menghiraukan bukti psikologis korban juga termasuk dalam tindak victim blaming. Dalam ilmu viktimologi, tindakan tersebut termasuk dalam kekerasan sekunder (Harahap dan Safiq 2026, 265).

Menyalahkan korban sebenarnya bukanlah hal baru dan bukan hanya tindakan yang terjadi di lingkup kekerasan seksual terhadap wanita, tetapi juga terhadap kaum marjinal lainnya. Fenomena ini sebenarnya dapat dilihat dari salah satu catatan sejarah, yaitu Kodeks Hammurabi. Di dalam serangkaian aturannya, terdapat banyak poin-poin yang mengarah pada tindakan menyalahkan korban. Sebagai contoh, pada poin 142-143 di mana ditetapkan bahwa jika suami dan istri bertengkar dan istri menyatakan “kita sudah tidak cocok”, maka alasan tersebut harus diselidiki. Jika istri terbukti benar, maka ia bisa mengambil maharnya dan kembali ke rumah keluarganya. Tetapi jika ia terbukti salah, maka ia harus dilempar ke sungai (The Avalon Project: Code of Hammurabi, n.d.).

Istilah “blaming the victim” pertama kali dipopulerkan oleh William Ryan di dalam bukunya pada tahun 1971. Dalam tulisannya, Ryan secara aktif mengkritik pemerintah Amerika Serikat yang secara konstan menyalahkan masyarakat atas kemiskinan yang dihadapinya dibandingkan dengan memperbaiki sistem yang telah menjadikan mereka miskin. Ryan menyebutkan bahwa tindakan ini digunakan untuk menormalisasi adanya ketimpangan sosial, menjauhkan sebuah masalah dari isu sistem, dan melepaskan sebuah isu dari tanggung jawab institusi (Psychological Scales t.t.).

Uniknya, sebelum istilah tersebut dipopulerkan oleh Ryan, sebenarnya cabang ilmu kriminologi telah memiliki cabang ilmu yang dianggap membenarkan narasi victim blaming. Pada pendekatan ilmu viktimologi, ilmuwan pada era awal banyak berfokus pada korban. Hal ini dinilai membuat fokus dalam sebuah permasalahan yang seharusnya mengkaji mengenai pelaku justru lebih fokus pada korban. Fenomena ini akhirnya mengundang gerakan feminis. Ditambah, ilmu kriminologi banyak dipelopori oleh laki-laki yang dianggap sebagai bentuk bias terhadap perempuan, yang memperbesar kemungkinan adanya tindak victim blaming. Selain itu, pendekatan kuantitatif pada studi kriminologi, salah satunya dalam survei kejahatan di Inggris, membuat sebuah penelitian tidak bisa menyentuh inti permasalahan suatu persoalan kriminal. Oleh sebab itu, kemudian metode penelitian kualitatif digunakan untuk menangani permasalahan yang lebih sensitif seperti pelecehan seksual (UK Essays 2020).

Perkembangan ilmu kriminologi ini menjadi bukti nyata dan cerminan bahwa budaya victim blaming adalah kebiasaan lama yang bahkan berakar pada sebuah cabang ilmu. Perempuan, bersama dengan kaum marjinal, tak memiliki keterwakilan suara dalam perkembangan ilmu itu sendiri yang akhirnya membangun lingkungan bias. Lebih dari itu, metode penelitian yang digunakan cenderung tak menyentuh konteks korban karena hanya berbasis kuantitatif dahulunya.

Di samping faktor sosial, penelitian oleh Sassenrath dkk. (2024) mengungkapkan bahwa budaya victim blaming disebabkan oleh faktor psikologis. Seseorang yang memiliki tingkat sadisme yang tinggi akan cenderung untuk menikmati ketika orang lain menderita, sehingga memiliki risiko melakukan victim blaming. Mereka merasa terhibur bahkan tersenyum ketika melihat seseorang menderita. Kesenangan ini berbeda dengan fenomena Schadenfreude, yaitu ketika seseorang merasakan kesenangan melihat orang menderita tetapi dianggap pantas mendapatkannya. Misalnya, senang ketika pesaingnya atau seseorang yang dianggap sombong jatuh. Kesenangan tersebut bersifat sementara. Tetapi jika tingkat sadistik seseorang tinggi, kesenangan tak terbatas pada “apakah seseorang pantas mendapatkannya”, tetapi melihat seseorang menderita sudah membuat mereka puas (Sassenrath dkk., 2024).

Terakhir, lingkungan yang patriarki memperburuk faktor yang sudah ada. Budaya patriarki inilah yang akhirnya ikut memengaruhi praktik hukum terhadap korban (terutama dalam kasus kekerasan seksual) dan kehidupan sehari-hari. Masyarakat sudah terbiasa mempertanyakan korban, mempertanyakan masa lalu korban, bahkan meragukan korban tanpa benar-benar menyalahkan pelaku.

Jika seorang perempuan mengalami kekerasan seksual, maka fokusnya akan langsung pada pakaian atau pada pergaulan perempuan. Mengapa tak mempertanyakan penyebab pelaku melakukan hal tersebut?

Jika seorang perempuan mengalami kekerasan verbal, maka yang dipertanyakan adalah “Ah iya kah? Jangan dibawa serius deh…”. Mengapa tak mempertanyakan motif pelaku?

Jika seorang perempuan mengalami kekerasan dalam rumah tangga, maka yang dipertanyakan adalah “Kamu ada salah apa sama suamimu?” atau “Nurut saja dengan suamimu. Jadi istri yang berbakti". Mengapa tak menanyakan keadaan si perempuan?

Jika seorang perempuan direndahkan, maka kalimat yang muncul adalah “pantes aja, kan dia cewek gak bener emang”. Mengapa tak menanyakan tanggungjawab pelaku?

Inilah tindak victim blaming yang terjadi di masyarakat, termasuk yang dilakukan oleh penonton film Obsession yang merasa bahwa kesalahan ada di pihak Nikki dan bahwa Bear tak bersalah. Bear memiliki banyak momen untuk melepaskan Nikki, tetapi memilih untuk diam dan menikmatinya. Bahkan hingga detik terakhir, ia hendak menghilangkan nyawanya sendiri, bukan demi kebaikan Nikki, melainkan karena ia mulai muak dengan aksi Nikki palsu yang telah membunuh kedua temannya. Tidak terpikirkan bahwa setelah Nikki yang asli kembali, Nikki harus menelan risiko karena “tindakannya”. Hidupnya hancur dan Bear tidak peduli, dan Nikki tetap menjadi yang salah di mata orang. Semua karena obsesi Bear, tapi siapa yang mau mempertanyakan Bear?

Referensi:

“Blaming the victim.” n.d. Psychological Scale. https://scales.arabpsychology.com/trm/blaming-the-victim/#2_Etymology_and_Historical_Development.

“The Avalon Project : Code of Hammurabi.” n.d. https://avalon.law.yale.edu/ancient/hamframe.asp.

Harahap, Topan A.A. dan Akhtar Safiq, “Victim Blaming Dalam Kasus Kekerasan Seksual: Telaah Viktimologi Dan Perlindungan Korban”. 2026. Fatih: Journal of Contemporary Research 3 (1): 261-76. https://doi.org/10.61253/aemwpa31.

Sassenrath, Claudia, Johannes Keller, Dominik Stöckle, Rebekka Kesberg, Yngwie Asbjørn Nielsen, and Stefan Pfattheicher. 2023. “I like it because it hurts you: On the association of everyday sadism, sadistic pleasure, and victim blaming.” Journal of Personality and Social Psychology 126 (1): 105–27. https://doi.org/10.1037/pspp0000464.