Di Balik Kisah Cinta Mariposa, Ada Cerita Tentang Prestasi, Ambisi, dan Sahabat

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Angkatan 25 UNS
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Auren Freya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mariposa merupakan film adaptasi dari novel karya Luluk HF yang membawa kisah Acha dan Iqbal ke dalam kehidupan remaja yang penuh dengan ambisi, prestasi, persahabatan, dan tentunya cinta. Acha, siswi berprestasi yang terang-terangan menyukai Iqbal, harus berhadapan dengan sosok Iqbal yang dingin dan lebih memilih fokus pada prestasinya.
Di balik kisah cintanya, Mariposa justru menarik ketika memperlihatkan kehidupan akademik kedua tokohnya. Acha dan Iqbal sama-sama memiliki kemampuan yang menonjol dan dipertemukan melalui dunia olimpiade. Bagi Iqbal, prestasi bukan hanya tentang membuktikan kemampuan, tetapi juga berkaitan dengan tuntutan untuk menjadi yang terbaik di mata ayahnya. Sementara itu, Acha menunjukkan bahwa menjadi pintar tidak harus membuat seseorang kehilangan sisi dirinya yang ceria dan berani.
Menurut saya, bagian ini menjadi pesan yang cukup relate bagi pelajar maupun mahasiswa. Prestasi memang penting, tetapi menjadi hebat bukan berarti harus selalu menjadi nomor satu. Ada proses, tekanan, dan pilihan yang harus dijalani di balik sebuah pencapaian.
Kisah percintaan Acha dan Iqbal kemudian menjadi bumbu yang membuat cerita terasa lebih ringan. Tingkah Acha yang gigih mendekati Iqbal dipadukan dengan karakter Iqbal yang cuek menciptakan banyak momen lucu. Namun, Mariposa juga memperlihatkan bahwa perjalanan seseorang tidak hanya ditemani oleh pasangan, tetapi juga oleh sahabat. Dukungan, candaan, dan kekonyolan mereka membuat cerita terasa lebih dekat dengan kehidupan remaja.
Salah satu kelebihan Mariposa adalah kemampuannya menghidupkan cerita yang sebelumnya hanya ada di dalam imajinasi pembaca. Karakter, suasana, ekspresi, dan interaksi yang sebelumnya hanya dibayangkan ketika membaca novel kini bisa dilihat secara langsung melalui film. Hal ini membuat kisah Acha dan Iqbal terasa lebih nyata dan mudah dinikmati.
Selain itu, perpaduan antara romance, komedi, persahabatan, dan kehidupan akademik membuat film ini terasa ringan untuk ditonton. Ceritanya juga membawa pesan bahwa pencapaian akademik tidak selalu berjalan tanpa tekanan.
Di sisi lain, film Mariposa terasa cukup berfokus pada hubungan Acha dan Iqbal sehingga porsi cerita tentang persahabatan menjadi lebih sedikit dibandingkan novelnya. Padahal, interaksi teman-teman Iqbal maupun Acha yang kocak menjadi salah satu bagian yang membuat cerita dalam novel terasa hidup.
Durasi film yang lebih terbatas juga membuat beberapa bagian cerita harus diringkas. Akibatnya, ada sejumlah detail dan momen yang terasa berbeda atau tidak sedalam versi novelnya.
Mariposa bukan hanya cerita tentang “Acha yang ngejar Iqbal.” Di balik kisah cintanya, ada cerita tentang dua siswa berprestasi yang sama-sama sedang belajar menghadapi ambisi, tekanan, persahabatan, dan pilihan mereka sendiri. Film ini cocok bagi penonton yang ingin menikmati kisah remaja yang ringan, lucu, tetapi tetap punya sedikit rasa untuk direnungkan setelah selesai menonton.
