Konten dari Pengguna

Satu Piring, Satu Layar: Kebiasaan Makan Sambil Menonton

Auryn Gabriela

Auryn Gabriela

Universitas Bunda Mulia - Mahasiswa Ilmu Komunikasi

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Auryn Gabriela tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto: Pexels - Ilustrasi foto makan sambil menonton video (14/09/2026)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto: Pexels - Ilustrasi foto makan sambil menonton video (14/09/2026)

Bagi sebagian orang, makan rasanya kurang lengkap apabila tidak ditemani tontonan. Saat menyantap makanan, layar HP atau laptop perlu menemani. Hal ini menjadi kebiasaan baru yang dilakukan oleh anak muda atau Gen z terutama bagi mahasiswa. Kebiasaan ini dilakukan saat sarapan, makan siang baik makan malam baik di rumah, di kos, di kampus maupun di tempat makan. Berbagai konten seperti TikTok, YouTube, film, hingga drama sering menjadi teman saat menyantap makanan. Sebagian orang beranggapan bahwa makan sambil menonton membuat waktu makan terasa lebih menyenangkan dan tidak membosankan. Namun, kebiasaan sederhana ini juga menarik untuk dilihat lebih jauh karena dapat mempengaruhi perhatian seseorang terhadap makanan dan interaksi dengan orang di sekitarnya.

Di balik kebiasaan makan sambil menonton, ternyata ada berbagai alasan yang membuat seseorang memilih untuk melakukan keduanya secara bersamaan. Menghilangkan kebosanan menjadi salah satu alasan makan sambil menonton. Video yang menarik di media sosial sering membuat perhatian seseorang beralih dari rasa bosan selama makan. Ketika menikmati konten yang disukai, waktu makan pun terasa lebih singkat dan suasana menjadi lebih santai. Setelah melakukan rutinitas yang cukup melelahkan, menonton sambil makan dapat dijadikan sebagai hiburan dan relaksasi untuk membantu melepaskan rasa lelah dengan menyaksikan konten atau film yang menarik. Dengan makan sambil menonton video saat sendirian, suasana makan juga dapat terasa lebih hidup seakan ada teman yang menemani melalui layar. Namun, penelitian mengenai distracted eating menunjukkan bahwa perhatian yang terbagi antara makanan dan tontonan dapat memengaruhi jumlah makanan yang dikonsumsi. Sebuah systematic review dan meta-analysis terhadap 50 penelitian menemukan bahwa makan sambil terdistraksi dapat meningkatkan asupan makanan pada waktu makan berikutnya. Sementara itu, distraksi pasif seperti menonton televisi juga ditemukan dapat meningkatkan asupan makanan saat makan. Kondisi ini menunjukkan bahwa makan sambil menonton bukan hanya berkaitan dengan kenyamanan saat makan, tetapi juga dapat memengaruhi pola konsumsi seseorang.

Meski terasa menyenangkan, makan sambil menonton juga memiliki dampak yang perlu diperhatikan. Ketika perhatian lebih banyak tertuju pada tontonan, seseorang dapat menjadi kurang memperhatikan proses makan dan jumlah makanan yang dikonsumsi. Hal ini didukung oleh penelitian Gough dkk. (2026) yang melakukan systematic review dan meta-analysis terhadap 50 penelitian mengenai kebiasaan makan sambil terdistraksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makan sambil terdistraksi dapat meningkatkan jumlah energi yang dikonsumsi pada waktu makan berikutnya. Pada distraksi pasif seperti menonton televisi, asupan energi saat makan juga ditemukan lebih tinggi dibandingkan ketika makan tanpa distraksi. Penelitian tersebut menemukan bahwa efek distraksi terhadap asupan pada waktu makan berikutnya cukup signifikan, sehingga peneliti menyimpulkan bahwa makan sambil terdistraksi dapat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap makan berlebihan.

Kebiasaan makan sambil menonton dapat diubah dengan mulai memisahkan waktu makan dari aktivitas menggunakan layar. Saat makan, usahakan untuk menjauhkan ponsel atau mematikan televisi agar perhatian lebih terarah pada makanan yang dikonsumsi. Nikmati makanan secara perlahan dengan memperhatikan rasa dan teksturnya, serta siapkan porsi secukupnya sejak awal agar tidak makan secara berlebihan tanpa disadari. Kebiasaan menonton juga dapat dilakukan setelah selesai makan sehingga aktivitas tersebut tidak lagi menjadi pemicu untuk terus makan. Pola ini sejalan dengan konsep mindful eating, yaitu makan dengan penuh kesadaran dan memperhatikan kebutuhan tubuh, termasuk mengenali rasa lapar dan kenyang. Dengan membiasakan pola tersebut secara bertahap, waktu makan dapat menjadi lebih teratur dan tidak lagi bergantung pada tontonan sebagai teman makan.

Secara keseluruhan, makan sambil menonton merupakan kebiasaan yang dilakukan sebagian anak muda karena dianggap dapat menghilangkan kebosanan, memberikan hiburan, dan membuat waktu makan terasa lebih menyenangkan. Namun, kebiasaan tersebut juga dapat membuat seseorang kurang memperhatikan makanan, rasa kenyang, serta kondisi di sekitarnya. Jika dilakukan terus-menerus, makan sambil menonton dapat mendorong pola makan yang kurang terkontrol. Oleh karena itu, membiasakan diri untuk memisahkan waktu makan dari penggunaan layar dapat menjadi langkah sederhana untuk membangun pola makan yang lebih sadar. Dengan menerapkan mindful eating, seseorang dapat lebih menikmati makanan sekaligus memperhatikan kebutuhan tubuh selama makan.