Diganggu Penunggu Gaib Rumah Eyang

Mahasiswi Binus University
Konten dari Pengguna
24 November 2022 21:57
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Chrisentia Auryn Monique tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Foto pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Foto pribadi
ADVERTISEMENT
Saya dilahirkan dari keluarga yang berketurunan Jawa, lebih tepatnya Yogyakarta. Namun saya dan Orangtua tidak tinggal di Yogya, jadi setiap hari raya Natal dan Lebaran kami pulang ke Yogya untuk merayakan bersama keluarga lainnya. Kebetulan Eyang Kakung saya merupakan keturunan dari Sultan Hamengkubuwono II, sehingga di Yogya letak rumah saya tidak jauh dari Keraton atau pusat kota. Jika teman-teman berkunjung ke Taman Sari Water Castle, lalu naik tangga sampai atas dan melihat pohon sawo yang tinggi, disitulah letak rumah Eyang. Kalau dulu orang yang bisa punya rumah dilingkungan Keraton hanya orang yang memiliki keturunan dari Keraton. Kira-kira apa yang ada dipikiran teman-teman ketika tahu rumah saya yang letaknya dekat dari Keraton? Apakah keren, tidak menyangka, atau bahkan kaget?
ADVERTISEMENT
Pertama kali saya menginjakkan kaki di rumah Eyang sekitar tahun 2011. Jujur saja saya merasa keren, karena saya tidak perlu memakan waktu yang lama untuk pergi ke Keraton dan destinasi wisata lainnya. Dari pertama kali saya menginjakkan kaki di rumah Eyang, saya tidak pernah merasa takut dan tidak pernah diganggu oleh hal-hal yang tidak terlihat. Namun ada satu malam yang mengubah semua rasa takut saya. Pada malam itu saya tidur dengan Eyang Putri dan Mama, dengan posisi saya tidur ditengah. Eyang memang suka tidur dalam keadaan lampu dan kipas yang mati. Saya tidak tahu jam berapa pada saat itu, tetapi saya terbangun dengan keadaan tidak bisa melihat apa-apa. Saya merasakan seperti ada kuku tajam yang menggaruk telapak kaki saya, dan itu terjadi tidak hanya satu kali. Kali pertama saya menggeser kaki saya dan mencoba untuk tidur kembali, namun saya merasakan garukan tersebut untuk yang kedua kalinya. Masih dengan respon yang saya berikan sebelumnya yaitu menggeser kaki, namun kali ini kearah yang berbeda. Dan untuk yang ketiga kalinya masih terjadi hal yang sama. Setelah garukan ketiga itu saya berusaha keras untuk tidur.
ADVERTISEMENT
Keesokan harinya saya menceritakan kejadian tersebut ke Om saya. Om bilang bahwa Om yang menggaruk kaki saya. Jika dipikir-pikir untuk apa Om masuk kedalam kamar yang gelap hanya untuk mengganggu saya? Setelah itu saya tidak pernah bertanya atau bahkan membicarakan pengalaman saya dengan anggota keluarga yang lain. Setiap kali saya datang untuk berlibur ke Yogya kejadian malam itu seakan menghantui pikiran dan rasa takut saya. Suatu waktu ada topik pembicaraan yang mengarah ke cerita horor dan saya memberanikan diri untuk menceritakan pengalaman saya. Siapa sangka ternyata tidak hanya saya saja yang pernah diganggu, namun anggota keluarga lain dan tamu yang datang juga pernah diganggu.
Bentuk rumah Eyang seperti rumah Jawa kuno, jendela besar berwarna hijau, dan memiliki halaman yang luas. Di depannya terdapat Pendopo Jawa yang biasanya digunakan untuk kumpul keluarga. Rumah yang letaknya strategis, dekat dengan Alun-Alun Kidul (Terdapat 2 pohon beringin kembar), 5 menit jalan kaki ke Pasar Ngasem dan dekat dari Keraton membuat rumah Eyang beberapa kali akan dijadikan lokasi syuting film. Saat memilih lokasi syuting biasanya dilakukan yang namanya survey tempat, begitupun dengan rumah Eyang. Produser bersama Kru dari dua stasiun TV yang berbeda datang untuk melihat rumah Eyang. Namun hal yang mengejutkan ketika kedua stasiun TV tersebut tidak jadi menggunakan rumah Eyang sebagai lokasi syuting padahal mereka sangat tertarik. Eyang menanyakan mengapa rumahnya tidak jadi digunakan. Pada saat Produser pertama datang dan bersiap untuk memulai syuting, ternyata Kru yang membantu diganggu oleh hal yang tidak terlihat. Begitu pun dengan Produser yang kedua, mereka mendapat laporan bahwa artis yang berperan dalam film tersebut diganggu oleh hal yang tidak terlihat. Itulah yang menyebabkan Produser beserta Kru akhirnya tidak jadi menggunakan rumah Eyang sebagai lokasi syuting.
ADVERTISEMENT
Dari cerita mengenai Produser tersebut sudah dapat dipastikan mereka diganggu oleh penunggu rumah Eyang yang tidak suka “Rumahnya” digunakan sebagai lokasi syuting. Semenjak itu sebisa mungkin Eyang menjaga rumah tersebut agar tidak dikunjungi oleh banyak orang terutama orang yang bukan keluaga. Selain untuk menjaga kenyamanan orang yang tinggal dirumah, kami juga menjaga kenyamanan hal yang tidak terlihat. Hal tersebut kami lakukan agar kejadian diganggu oleh penunggu tidak terlihat dirumah Eyang ini, tidak terjadi lagi.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020