Konten dari Pengguna

Judol Merusak Dapur Keluarga: Dari Gaji Habis sampai Rumah Tangga Retak

Muhammad Rizki Avarel

Muhammad Rizki Avarel

Saya adalah mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Rizki Avarel tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Ilustrasi AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Ilustrasi AI

Judol. Dulu kata ini terdengar jauh, seperti masalah orang lain. Sekarang hampir setiap orang punya cerita tentangnya: tetangga yang tiba-tiba jual motor, teman kantor yang sering pinjam uang, atau saudara yang mendadak jadi pendiam. Judi online tidak datang dengan suara keras. Ia masuk pelan-pelan lewat layar kecil di genggaman, di sela-sela jam istirahat dan malam saat rumah sudah sepi.

Biar lebih terbayang, saya ceritakan satu keluarga. Namanya Pak Dedi dan Bu Rina. Keduanya tokoh rekaan, tapi ceritanya mirip dengan banyak rumah di sekitar kita.

Mulanya cuma iseng

Pak Dedi pekerja biasa, gajinya pas untuk makan, listrik, dan uang sekolah anak. Suatu malam, ia melihat iklan terselip di kolom komentar sebuah video. Katanya, cukup modal kecil, bisa dapat berlipat-lipat. Ia coba. Menang sedikit. Senang sekali rasanya, seperti menemukan jalan pintas yang selama ini dicari.

Besoknya ia coba lagi. Kali ini kalah. Tapi ia berpikir, "Tanggung, sedikit lagi balik modal." Kalimat itu yang paling berbahaya. Dari situ, setiap kekalahan terasa seperti utang yang harus ditebus dengan taruhan berikutnya.

Dapur Bu Rina mulai berubah

Bu Rina sebenarnya sudah merasa ada yang janggal. Uang belanja makin pendek, padahal gaji tanggal muda baru masuk. Lauk di meja makan perlahan menyusut. Yang tadinya ada telur dan sayur, jadi tinggal nasi dan kecap. Setiap kali ditanya, Pak Dedi menjawab pendek, "Lagi banyak pengeluaran."

Lalu muncul tanda-tanda lain. Ponsel selalu dibawa ke mana-mana, bahkan ke kamar mandi. Pak Dedi gampang marah, sering tidur larut, dan menghindari tatapan istrinya. Perhiasan Bu Rina yang disimpan di lemari satu per satu lenyap, katanya "dipinjam dulu". Motor digadai diam-diam. Saat Bu Rina akhirnya tahu, rumah mereka tidak lagi hangat. Yang tersisa hanya pertengkaran dan keheningan yang lebih menyakitkan dari teriakan.

Dari satu rumah ke satu kampung

Kalau cuma terjadi di satu rumah, mungkin kita bisa menyebutnya kesalahan pribadi. Tapi judol sudah menjadi masalah sosial. Keluarga yang terjerat biasanya malu bercerita. Mereka menutup diri dari tetangga, menghindari arisan, dan berhenti hadir di acara kampung. Utang ke warung makin menumpuk. Ada yang lari ke pinjaman online demi menutup kekalahan, lalu terjebak di lubang yang lebih dalam.

Anak-anak ikut menanggung. Jajan dipangkas, perlengkapan sekolah ditunda, dan yang paling sulit dihitung adalah rasa aman yang hilang. Mereka tumbuh di rumah yang penuh bisik-bisik soal uang. Di titik ini, judi online bukan lagi soal kalah menang. Ia merusak ekonomi keluarga dan hubungan antaranggotanya sekaligus.

Kenapa begitu mudah terjerat?

Salah satu penyebabnya, aksesnya terlalu dekat. Tidak perlu pergi ke mana-mana, cukup ponsel dan sinyal. Promosinya menyusup di media sosial, kolom komentar, bahkan lewat orang-orang yang dikenal publik. Kemasannya dibuat seperti permainan biasa, sehingga banyak orang tidak sadar sedang bertaruh dengan uang kebutuhan sehari-hari.

Ada juga faktor tekanan hidup. Ketika harga-harga terasa berat dan penghasilan pas-pasan, janji "untung cepat" terdengar sangat menggoda. Orang yang sedang tertekan lebih mudah percaya pada keajaiban.

Lalu, di mana peran negara?

Pemerintah sebenarnya sudah bergerak, mulai dari pemblokiran situs sampai penindakan hukum. Tapi situs yang ditutup sering muncul lagi dengan nama baru, seperti kejar-kejaran yang tidak ada habisnya. Masalah ini tidak bisa selesai dengan blokir saja. Perlu pengawasan terhadap alur uangnya, penegakan hukum yang konsisten, dan tindakan tegas terhadap iklan terselubung di ruang digital.

Persoalan ini juga menyentuh urusan bantuan sosial. Beberapa waktu lalu sempat ramai pembahasan apakah keluarga korban judol layak mendapat bantuan, lalu pemerintah menegaskan tidak ada bansos untuk pelaku. Belakangan, Kementerian Sosial juga menjelaskan bahwa penerima bansos yang terindikasi bermain judol bisa dicoret berdasarkan kriteria tertentu. Pertanyaan yang tersisa tidak mudah: bagaimana dengan istri dan anak-anak yang tidak bermain, tetapi ikut menanggung akibatnya? Menghukum pelaku tanpa menelantarkan keluarganya adalah pekerjaan rumah yang belum selesai.

Apa yang bisa kita lakukan?

Kalau diringkas jadi obrolan santai, ada beberapa hal sederhana:

1. Bicara terbuka di rumah. Kebanyakan orang terjerat karena malu dan takut dihakimi. Kalau ada anggota keluarga yang berubah, ajak bicara baik-baik, bukan langsung dimarahi.

2. Putus akses. Hapus aplikasi dan blokir situs, serta serahkan pengelolaan uang kebutuhan pokok kepada anggota keluarga yang lebih tenang.

3. Cari bantuan profesional. Kecanduan judi itu nyata dan bisa ditangani. Konselor atau psikolog bisa membantu, dan tidak ada yang memalukan dari meminta pertolongan.

4. Laporkan iklan judol. Kalau menemukan promosi di media sosial, laporkan lewat kanal aduan resmi pemerintah dan platform tempat iklan itu muncul.

5. Perkuat literasi digital. Ajari anak dan keluarga bahwa "untung cepat" hampir selalu berujung buntung.

Meja makan yang kembali hangat

Pak Dedi dan Bu Rina akhirnya mulai bicara, walau butuh waktu lama dan banyak air mata. Jalannya tidak mudah, tapi rumah itu pelan-pelan bisa pulih. Dapur kembali mengepul, bukan karena keberuntungan, melainkan karena ada yang mau jujur dan ada yang mau memaafkan.

Judol memang menyerang lewat layar kecil. Tapi benteng terbaik kita tetap sederhana: keluarga yang mau saling mendengarkan, serta negara dan masyarakat yang tidak membiarkan satu pun rumah berjuang sendirian.