Kumparan Logo

BEI Sebut Saham Rp 50 Hanya Berbobot 1,91% di IHSG, Tak Signifikan ke Pelemahan

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Layar menampilkan pergerakan perdagangan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (23/10). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Layar menampilkan pergerakan perdagangan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (23/10). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 1,51 persen atau 94,03 poin ke level 6.147,86 pada perdagangan Senin (28/9).

Pelemahan ini terjadi bertepatan dengan mulai berlakunya kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menurunkan batas minimum harga saham dari Rp 50 menjadi Rp 1 per lembar.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, saham-saham yang sebelumnya berada di harga Rp 50 tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap pelemahan IHSG.

"Bobot saham saham Rp 50 tidak berkontribusi signifikan pada pergerakan IHSG kemarin," kata Jeffrey dalam keterangan resmi, Selasa (29/9).

Jeffrey menyebut terdapat 26 saham dengan harga Rp 50 yang memiliki total bobot terhadap IHSG sebesar 1,91 persen per 25 September 2026.

Pada perdagangan 28 September 2026, saham-saham tersebut menurun antara 8-14 persen, dengan kontribusi terhadap pelemahan IHSG hanya sekitar 0,27 persen atau 16,707 poin.

"Jadi tidak semata-mata karena faktor penurunan di bawah harga Rp 50 yang memberikan pressure kepada IHSG," ucapnya.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik, ketika ditemui wartawan di gedung BEI, Jakarta, Selasa (1/8/2026). Foto: Muhammad Fhandra Hardiyon/kumparan

Menurut Jeffrey, bobot saham-saham di level Rp 50 terhadap IHSG memang relatif kecil. Bahkan, sejumlah saham tersebut sudah bertahun-tahun berada di level Rp 50 tanpa mencatatkan transaksi.

"Karena saham-saham yang ada di harga Rp 50 itu ada yang sudah bertahun-tahun di harga Rp 50 tanpa ada transaksi," ucapnya.

Jeffrey sebelumnya juga menjelaskan respons pasar terhadap penerapan batas harga minimum baru cenderung positif. Perubahan ini dinilai memberi ruang bagi saham-saham yang sebelumnya tertahan di level Rp 50 untuk menemukan harga yang lebih sesuai dengan kondisi pasar.

"Pada saat ini mau diberlakukan respon dari pasar itu positif. Yang kedua, tentu bobot dari saham-saham yang sudah lama di harga Rp 50 itu bobotnya terhadap IHSG juga tidak besar," kata Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta, Senin (28/9).

Dengan demikian, BEI menilai pelemahan IHSG pada perdagangan Senin tidak dapat dikaitkan semata-mata dengan penerapan batas harga minimum baru tersebut.