Kumparan Logo

Ekonom Kompak Prediksi BI Akan Tahan Suku Bunga di Level 5,50%

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pekerja berjalan di kawasan Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (3/9/2025). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja berjalan di kawasan Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (3/9/2025). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada hari ini, Kamis (18/6). Di tengah meredanya tekanan terhadap rupiah dan setelah kenaikan suku bunga agresif dalam beberapa pekan terakhir, mayoritas ekonom memperkirakan bank sentral akan mempertahankan BI Rate di level 5,50 persen. Sejak Mei lalu, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin, terdiri dari kenaikan 50 basis poin pada RDG Mei dan tambahan 25 basis poin dalam rapat di luar jadwal bulanan pada awal Juni. Langkah tersebut ditempuh untuk meredam tekanan terhadap rupiah yang sempat menyentuh level Rp 18.000 per dolar AS serta menjaga stabilitas pasar keuangan domestik. Kepala Ekonom Bank Permata menilai ruang bagi BI untuk kembali menaikkan suku bunga kini semakin terbatas seiring membaiknya pergerakan rupiah. “Menurut saya, peluang BI menaikkan BI Rate lagi besok sudah lebih kecil dibandingkan sebelum rupiah pulih. Skenario dasar saya adalah BI menahan BI Rate di 5,50 persen, karena BI sudah melakukan kenaikan cukup agresif sebesar 75 bps dalam waktu kurang dari satu bulan,” kata Josua kepada kumparan. Menurutnya, tujuan utama kenaikan suku bunga sebelumnya adalah menahan pelemahan rupiah, menarik kembali aliran modal asing, dan menjaga ekspektasi inflasi. Dengan kondisi rupiah yang mulai stabil, harga minyak yang menurun, serta mulai masuknya kembali dana asing ke instrumen berbasis rupiah, kebutuhan untuk menaikkan suku bunga tambahan menjadi berkurang. Bank Permata memperkirakan peluang BI mempertahankan suku bunga berada di kisaran 80-90 persen. Meski demikian, opsi kenaikan 25 basis poin masih tetap terbuka apabila tekanan eksternal kembali meningkat, seperti penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, atau pelemahan rupiah yang kembali mendekati level Rp 18.000 per dolar AS. Pandangan serupa disampaikan Ekonom LPEM UI Teuku Riefky. Menurutnya, pengetatan kebijakan moneter yang telah dilakukan BI sejak Mei perlu diberi waktu untuk menunjukkan dampaknya terhadap perekonomian dan pasar keuangan. Ia menilai langkah BI menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin secara kumulatif, disertai peningkatan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan intervensi di pasar valuta asing, sudah cukup untuk merespons tekanan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. “Mempertimbangkan pengetatan kebijakan yang telah berlangsung secara bertahap sejak Mei, intervensi valuta asing yang terus berlanjut, serta kebutuhan untuk mengevaluasi dampak dari langkah-langkah yang baru-baru ini diambil, kami berpandangan bahwa Bank Indonesia perlu mempertahankan suku bunga kebijakannya pada level 5,50 persen dalam Rapat Dewan Gubernur yang akan datang,” kata Riefky. Meski demikian, tidak semua ekonom menutup peluang kenaikan suku bunga pada RDG kali ini. Kepala Ekonom Bank BCA David Sumual justru memperkirakan BI masih berpotensi menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin. Menurut David, meredanya risiko geopolitik global setelah tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran memang mengurangi potensi lonjakan inflasi yang ekstrem. Namun, BI dinilai masih memiliki ruang untuk memperkuat daya tarik aset rupiah dan menjaga ekspektasi inflasi ke depan. “Proyeksi BCA akan naik 25 bps. Kesepakatan AS-Iran memberikan sinyal positif tidak terjadinya skenario ekstrim kenaikan inflasi. Namun BI sebenarnya masih ada ruang untuk menaikkan suku bunga dalam rangka menjamin stabilitas dan daya tarik aset rupiah sekaligus menjangkar ekspektasi inflasi ke depan,” kata David.