Fitch Ratings: Target Pertumbuhan Ekonomi RI 6% pada 2027 Masih Realistis

Lembaga pemeringkat kredit global, Fitch Ratings, menilai target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6 persen pada 2027 masih realistis, meski berada di atas proyeksi dasar mereka.
Fitch memandang target itu jauh lebih masuk akal dibandingkan ambisi pemerintah mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen dalam jangka menengah.
“Asumsi pertumbuhan sebesar 6,0 persen untuk 2027 lebih realistis dibandingkan ambisi pemerintah dalam jangka menengah sebesar 8,0 persen, tetapi masih optimistis dibandingkan proyeksi dasar Fitch sebesar 5,0 persen,” tulis Fitch, dikutip Senin (24/8).
Meski demikian, Fitch mengidentifikasi sejumlah risiko yang dapat membuat pertumbuhan ekonomi berada di bawah asumsi pemerintah.
“Ketidakpastian geopolitik yang berkepanjangan, kembali meningkatnya harga minyak global, serta perlambatan tajam pada negara-negara mitra dagang utama Indonesia merupakan risiko penurunan utama terhadap prospek jangka pendek,” ungkap Fitch.
Perlambatan ekonomi negara mitra dagang dapat menekan ekspor Indonesia, sementara kenaikan harga minyak dapat meningkatkan tekanan terhadap perekonomian. Kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi ruang pemerintah dalam memberikan stimulus untuk menopang pertumbuhan.
Kebijakan Fiskal
Fitch melihat kebijakan fiskal akan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga momentum ekonomi. Pemerintah mengusulkan target defisit fiskal 2027 sebesar 2,4 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), lebih rendah dari target 2026 yang telah direvisi menjadi 2,85 persen.
Target tersebut menunjukkan upaya konsolidasi fiskal secara moderat, sekaligus mempertahankan defisit di bawah batas legal sebesar 3 persen dari PDB. Namun, Fitch mengingatkan bahwa disiplin fiskal lebih sulit dipertahankan daripada yang terlihat dari target awal.
Sebab pemerintah sebelumnya juga menetapkan target defisit yang kemudian mengalami revisi. Target defisit awal 2026 sebesar 2,48 persen dinaikkan menjadi 2,68 persen, dan kemudian menjadi 2,85 persen untuk mengakomodasi tambahan belanja.
“Target defisit 2027 mirip dengan proposal awal tahun lalu sebesar 2,48 persen, yang kemudian direvisi naik oleh parlemen menjadi 2,68 persen dan selanjutnya 2,85 persen untuk mengakomodasi tambahan belanja,” tuturnya.
Berkaca pada hal itu, Fitch melihat potensi terjadinya penyimpangan kembali dari target defisit 2027. Risiko tersebut dapat meningkat apabila pemerintah menghadapi kebutuhan belanja yang lebih besar dari perkiraan, termasuk akibat tekanan terhadap rumah tangga dan meningkatnya kebutuhan dukungan ekonomi.
Jaga Penerimaan Negara
Di sisi lain, kemampuan pemerintah meningkatkan penerimaan negara juga menjadi faktor penting. Fitch memperkirakan penerimaan negara yang lemah masih menjadi kendala struktural terhadap profil kredit berdaulat Indonesia yang berada pada peringkat BBB dengan outlook negatif.
“Penerimaan negara dalam anggaran 2027 diproyeksikan sedikit di atas 12 persen dari PDB,” kata Fitch.
Rasio penerimaan yang relatif rendah membuat ruang fiskal pemerintah menjadi terbatas. Kondisi tersebut menyebabkan konsolidasi fiskal lebih rentan apabila pertumbuhan ekonomi lebih lemah dari perkiraan atau kebutuhan belanja meningkat.
Pemerintah memang telah memasukkan sejumlah langkah baru untuk meningkatkan penerimaan dalam rancangan anggaran 2027. Fitch juga menilai reformasi pajak inti dalam jangka panjang seharusnya mulai memberikan hasil, meski dampaknya terhadap penerimaan masih perlu dilihat.
Fitch pun menyoroti potensi meningkatnya pembiayaan melalui jalur kuasi-fiskal. Pembentukan Danantara Development Management Fund pada April 2026 menjadi salah satu perhatian, karena entitas tersebut diarahkan untuk membiayai dan mengembangkan proyek infrastruktur strategis yang tidak layak secara komersial.
Menurut Fitch, perluasan peran kuasi-fiskal dapat meningkatkan risiko kewajiban kontinjensi bagi pemerintah. Risiko tersebut dapat muncul meskipun angka defisit fiskal yang tercatat secara resmi tetap berada dalam batas yang ditetapkan.
Pemerintah juga telah mengumumkan rencana mengalihkan sebagian dividen BUMN yang diterima Danantara ke APBN. Langkah tersebut diarahkan untuk membatasi peningkatan utang pemerintah, meski Fitch masih menunggu rincian lebih lanjut mengenai mekanismenya.
Peran Bank Indonesia juga akan menjadi perhatian apabila pertumbuhan ekonomi tidak sesuai target.
“Jika dukungan fiskal dikurangi untuk mempertahankan target defisit, tekanan dapat meningkat terhadap Bank Indonesia untuk menopang pertumbuhan melalui kebijakan moneter, yang mencerminkan mandat kebijakannya yang luas,” tegas Fitch.
