Kumparan Logo

Harga Minyak Dunia Melemah Usai Iran-Oman Sepakati Jalur Selat Hormuz

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi kilang minyak dan gas. Foto: Rangsarit Chaiyakun/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kilang minyak dan gas. Foto: Rangsarit Chaiyakun/Shutterstock

Harga minyak dunia bergerak melemah pada perdagangan Kamis (6/8). Minyak mentah Brent diperdagangkan di kisaran USD 79 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level USD 75 per barel, setelah mencatat penurunan selama tiga sesi berturut-turut.

Mengutip Trading Economics, pelemahan harga dipicu kesepakatan antara Iran dan Oman mengenai jalur pelayaran di Selat Hormuz.

“Kesepakatan tersebut memicu ekspektasi meningkatnya arus pasokan energi dari Timur Tengah," tulis Trading Economics.

Pernyataan bersama kedua negara saat ini masih dalam tahap peninjauan dan penyusunan akhir. Jalur pelayaran yang diusulkan diperkirakan akan beroperasi selama 2-4 bulan.

Kapal dan perahu di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Senin (20/4/2026). Foto: REUTERS

Namun, Teheran menegaskan kesepakatan tersebut tidak berarti pembukaan kembali secara penuh jalur perairan strategis Selat Hormuz.

Di sisi lain, para pejabat Amerika Serikat terus menyampaikan keyakinan bahwa kesepakatan dengan Iran semakin dekat tercapai. Meski demikian, pelaku pasar masih berhati-hati terhadap keberlanjutan perdamaian di kawasan Timur Tengah.

Sementara itu, ketegangan geopolitik belum sepenuhnya mereda. Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengklaim telah menargetkan sebuah kapal tanker minyak Arab Saudi di Teluk Aden dan mengancam kapal-kapal lain yang melintas di Laut Merah.

Di pasar Amerika Serikat, minyak mentah WTI juga bergerak turun ke kisaran USD 75 per barel. Pelemahan tersebut sejalan dengan meningkatnya harapan terhadap tambahan pasokan dari Timur Tengah, meski risiko terhadap distribusi minyak global masih tetap tinggi akibat konflik.