Kumparan Logo

Harga Minyak Turun USD 2, Investor Ambil Untung di Tengah Sanksi Iran

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pengeboran minyak. Foto: Maksim Safaniuk/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pengeboran minyak. Foto: Maksim Safaniuk/Shutterstock

Harga minyak dunia turun lebih dari USD 2 per barel pada perdagangan Senin (24/8). Penurunan terjadi karena investor memilih merealisasikan keuntungan setelah harga minyak mencatat kenaikan dalam beberapa perdagangan terakhir.

Dikutip dari Reuters, Selasa (25/8), kontrak berjangka minyak mentah Brent ditutup melemah USD 2,22 atau 2,35 persen menjadi USD 92,17 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun USD 2,05 atau 2,35 persen ke level USD 85,01 per barel.

Penurunan harga terjadi meski Amerika Serikat (AS) memperluas sanksi terhadap Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Senin mengumumkan perluasan sanksi sekunder yang dapat dikenakan kepada perusahaan dan negara yang masih melakukan hubungan bisnis dengan Iran.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari peningkatan tekanan ekonomi Washington terhadap Teheran saat konflik memasuki hampir enam bulan. Pengumuman itu juga menyusul ancaman Presiden Donald Trump pada pekan lalu mengenai “perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya” terhadap Teheran.

“Tidak banyak hal baru yang disampaikan Bessent, selain apa yang sebelumnya sudah diperkirakan,” kata Pavel Molchanov, analis strategi investasi di Raymond James.

Menurut dia, kenaikan harga minyak yang cukup signifikan pada pekan lalu mendorong investor melakukan aksi ambil untung pada perdagangan Senin.

Brent dan WTI sebelumnya mencatat kenaikan mingguan selama dua pekan berturut-turut. Harga kedua kontrak tersebut bahkan melonjak lebih dari 5 persen pada pekan lalu.

Ilusrasi Kilang Minyak Iran. Foto: Wirestock Creators/Shutterstock

“Apakah Gedung Putih dapat menghasilkan sesuatu yang belum pernah dicoba sebelumnya dan memberikan dampak yang jauh lebih besar terhadap perekonomian Iran? Kami akan percaya setelah melihatnya,” kata Molchanov.

Sementara itu, analis Rystad Energy Jorge Leon menilai dampak sanksi baru AS akan sangat bergantung pada seberapa ketat Washington menerapkannya terhadap mitra dagang Iran.

“Pertanyaan sebenarnya sekarang adalah seberapa agresif Washington bersedia menegakkan sanksi sekunder terhadap mitra dagang Iran yang masih tersisa,” kata Jorge Leon, kepala analisis geopolitik di Rystad Energy.

“Kecuali China secara signifikan mengurangi pembeliannya lebih jauh, dampak tambahan terhadap pendapatan minyak Iran kemungkinan akan relatif terbatas,” tambahnya.

Iran mengecam rencana penerapan sanksi baru tersebut. Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menyerukan penyelesaian melalui jalur diplomatik.

Pada hari yang sama, Kepala Angkatan Darat Pakistan mengunjungi Teheran untuk melakukan pembicaraan mediasi. Kunjungan itu dilakukan menjelang pengumuman sanksi baru oleh AS.

Di sisi lain, pengiriman minyak melalui Selat Hormuz masih menghadapi gangguan. Jalur strategis tersebut sebelumnya menjadi rute bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Kapal-kapal berlabuh di Selat Hormuz , seperti terlihat dari Musandam, Oman, 11 Juni 2026. Foto: REUTERS/Stringer

Data pengiriman yang terlihat pada Senin menunjukkan kurang dari 20 kapal komoditas melintasi Selat Hormuz selama akhir pekan. Blokade yang melibatkan Iran dan AS membatasi lalu lintas kapal melalui jalur utama pengiriman energi tersebut.

Namun, CEO TotalEnergies Patrick Pouyanne mengatakan perusahaannya masih dapat mengirimkan minyak melalui Selat Hormuz secara menguntungkan. Kenaikan biaya transportasi dinilai masih dapat tertutup oleh besarnya diskon yang diberikan produsen minyak mentah.

SOMO milik Irak dan QatarEnergy juga menawarkan minyak mentah untuk dimuat di wilayah selat melalui mekanisme tender, menurut sejumlah pedagang.

“Harga Brent USD 93 per barel, bukan USD 120–150, menunjukkan kepada kita bahwa cukup banyak minyak masih mengalir melalui Selat Hormuz dan secara umum dari kawasan Teluk Persia,” kata analis SEB Bjarne Schieldrop kepada Reuters.

Menurut Schieldrop, situasi dapat berubah jika Iran benar-benar mengambil langkah untuk menutup Selat Hormuz dengan menggunakan roket dan drone.

Di tengah ketidakpastian tersebut, analis Morgan Stanley menaikkan proyeksi harga minyak Brent. Mereka memperkirakan harga Brent berpotensi mencapai USD 100 per barel pada kuartal IV.

Sementara itu, Badan Energi Internasional (IEA) belum membahas rencana pelepasan minyak tahap kedua dari cadangan strategis. Hal tersebut disampaikan Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol pada Senin.

instagram embed