Kumparan Logo

Kebakaran Desa Adat Sade Picu Kerugian Ekonomi, Pemulihan Dinilai Tak Mudah

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Foto udara memperlihatkan kondisi pascakebakaran yang menghanguskan Dusun Sade, desa adat suku Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Minggu (23/8/2026). Foto: Stringer/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Foto udara memperlihatkan kondisi pascakebakaran yang menghanguskan Dusun Sade, desa adat suku Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Minggu (23/8/2026). Foto: Stringer/REUTERS

Kebakaran yang melanda Desa Adat Sade, Lombok, tidak hanya menimbulkan kerugian berupa kerusakan bangunan fisik. Dampaknya juga berpotensi meluas ke aktivitas ekonomi dan keberlangsungan budaya yang selama ini menjadi daya tarik utama wisatawan.

Ekonom Celios Nailul Huda mengatakan, kerugian terbesar justru dapat berasal dari terhentinya aktivitas ekonomi akibat kebakaran tersebut. Menurut dia, dampak ekonomi tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di Desa Sade, tetapi juga pelaku usaha dan sektor pariwisata yang terhubung dengan kawasan tersebut.

“Yang pasti, kerugian paling besar adalah kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh berhentinya aktivitas budaya di desa Sade. Jikapun soal bangunan fisik dan sebagainya, paling tidak butuh Rp 30-an miliar seperti keterangan pemerintah daerah,” kata Nailul kepada kumparan, Selasa (25/8).

Nailul menjelaskan, terhentinya aktivitas di Desa Sade dapat berdampak pada rangkaian kegiatan wisata di Lombok. Selama ini, kunjungan ke Desa Adat Sade menjadi bagian dari perjalanan wisata yang melibatkan berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari kawasan desa hingga sektor pariwisata di Lombok secara lebih luas.

“Namun demikian, ada aktivitas ekonomi yang terhenti akibat kebakaran ini. Aktivitas ekonomi dari mulai di tempat Desa Sade hingga tur di Lombok, terhenti sementara waktu,” ungkapnya.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu mengambil langkah khusus untuk menjaga agar dampak ekonomi tidak berlangsung lebih panjang. Nailul menilai pemindahan sementara aktivitas wisata ke lokasi lain tidak serta merta dapat menggantikan pengalaman wisata di Desa Adat Sade.

Tarian perang Peresean di Desa Adat Sade yang diiringi bunyi gendang beleq, alat musik tradsional Suku Sasak yang dimainkan berkelompok. Tarian ini merupakan sambutan bagi para wisatawan yang berkunjung ke Desa Sade. Foto: Adhie Ichsan/kumparan

“Ini harus ada penanganan khusus dari pemerintah. Pun dipindah ke tempat lain, akan berbeda karena aktivitas budaya ini melekat dengan tempat,” ungkapnya.

Menurut dia, karakter Desa Adat Sade tidak hanya terletak pada aktivitas budayanya, tetapi juga keterikatan antara tradisi, lingkungan, dan lokasi. Karena itu, pemindahan aktivitas wisata tidak akan memberikan pengalaman yang sepenuhnya sama.

“Artinya, pemindahan aktivitas wisata tidak akan sama dengan di Desa Sade ini,” kata Nailul.

Nailul juga menekankan pentingnya restorasi Desa Adat Sade dengan mempertahankan karakter aslinya. Pembangunan kembali, kata dia, perlu mengutamakan pelestarian adat dan budaya agar proses pemulihan tidak justru menghilangkan identitas desa yang selama ini menjadi daya tarik wisata.

“Restorasi desa Sade harus sama persis dengan sebelumnya agar nuansa adat istiadat desa setempat masih ada,” jelasnya.

Ia mengingatkan, modernisasi bangunan secara berlebihan berisiko mengubah karakter Desa Adat Sade. Upaya mitigasi kebakaran tetap diperlukan, tetapi harus dilakukan tanpa mengorbankan unsur adat yang menjadi bagian penting dari kawasan tersebut.

“Jika diubah menjadi lebih modern, maka desa Sade bisa kehilangan budayanya,” tegas dia.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memperkuat sistem pencegahan kebakaran di kawasan desa. Menurut Nailul, perlindungan terhadap bangunan dan masyarakat dapat ditingkatkan melalui penyediaan perangkat keselamatan tanpa mengubah karakter rumah adat.

“Jikapun untuk mengantisipasi, perlu langkah mitigasi tanpa mengurangi keberlangsungan adat di Desa Sade. Keberlangsungan adat ini bisa diselaraskan misalkan dengan penyediaan alat pemadam api di berbagai titik. Atap rumah tidak boleh diubah juga,” tuturnya.

Warga membersihkan puing sisa kebakaran rumahnya di Desa Adat Sade, Rembitan, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Senin (24/8/2026). Foto: Ahmad Subaidi/ANTARA FOTO

Senada, Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai posisi Desa Adat Sade sangat penting bagi pariwisata Lombok. Desa tersebut bukan sekadar destinasi wisata, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari ekosistem pariwisata yang menggabungkan unsur budaya dan industri kreatif.

“Desa Sade adalah magnet utama wisata Lombok. Ekosistem wisata yang sudah jadi, kombinasi budaya dan kreatif industri, dengan nama yang menasional bahkan mulai mendunia,” kata Wija.

Menurut Wija, proses pemulihan Desa Adat Sade membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan kembali bangunan yang terbakar. Pemerintah dan pemangku kepentingan perlu menyiapkan strategi agar kawasan tersebut dapat kembali menjadi pusat aktivitas ekonomi sekaligus mempertahankan nilai budaya yang dimilikinya.

“Mengembalikan Sade tidak mudah, perlu dana, waktu dan strategi. Jadi, kerugiannya tidak saja monetary, tetapi yang lebih besar justru non materi,” ungkapnya.

Ia melihat bencana tersebut sebagai momentum untuk membangun kembali Desa Adar Sade dengan standar perlindungan yang lebih baik. Dengan begitu, proses restorasi tidak hanya mengembalikan kondisi sebelum kebakaran, tetapi juga memperkuat ketahanan kawasan terhadap risiko serupa di masa mendatang.

“Sade perlu dibangun lagi dengan standar yang lebih tinggi, tragedi ini harus dijadikan kesempatan perbaikan yang sangat langka,” tutur Wija.

Wija juga menyoroti masyarakat yang selama ini menggantungkan penghasilan dari aktivitas wisata di Desa Adat Sade. Menurutnya, mereka perlu menjadi prioritas dalam proses pemulihan agar manfaat ekonomi dari pembangunan kembali kawasan tersebut dapat dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.

“Masyarakat yang selama ini hidup dari sana perlu di-empower, dan mendapatkan prioritas untuk menghidupkan lagi Sade nantinya,” ungkapnya.

Selain pemulihan Desa Sade, tragedi tersebut dinilai perlu menjadi evaluasi bagi pengelolaan destinasi wisata di Indonesia. Sistem perlindungan terhadap kawasan wisata perlu diperkuat untuk menghadapi berbagai risiko, baik yang berasal dari aktivitas manusia maupun bencana alam.

“Sade juga perlu jadi pembelajaran kita semua, agar perlindungan tempat-tempat wisata perlu diperkuat. Apakah itu dari man made atau natural disaster,” kata dia.

instagram embed