Moody’s Naikkan Peringkat Utang Pakistan Jadi B3, Prospek Tetap Stabil

Moody’s Ratings menaikkan peringkat kredit utang pemerintah Pakistan menjadi B3 dari sebelumnya Caa1. Kenaikan ini didorong oleh membaiknya posisi eksternal, kondisi fiskal yang lebih kuat, serta penurunan biaya pembiayaan domestik. Prospek peringkat Pakistan tetap stabil.
Dikutip dari Bloomberg, Selasa (25/8), Moody’s menyebut kerentanan eksternal Pakistan mulai berkurang seiring peningkatan cadangan devisa. Kondisi tersebut ditopang oleh stabilisasi ekonomi makro yang terus berlangsung.
“Biaya pembiayaan domestik yang lebih rendah di tengah pelonggaran kebijakan moneter dan membaiknya posisi fiskal telah mendorong perbaikan material dalam kemampuan Pakistan membayar utangnya, kata Moody’s.
Lembaga pemeringkat itu juga menilai profil kredit Pakistan kini memiliki “ketahanan yang lebih besar terhadap guncangan eksternal dibandingkan siklus sebelumnya,” termasuk di tengah konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah.
Kenaikan peringkat tersebut terjadi saat Pakistan berupaya memperkuat kembali cadangan devisa dan meneruskan reformasi ekonomi setelah bertahun-tahun menghadapi tekanan finansial. Negara yang ekonominya sangat bergantung pada impor bahan bakar itu bahkan nyaris gagal membayar utang pada 2023.
Meski begitu, Pakistan masih menghadapi risiko dari konflik di Timur Tengah. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap perekonomian dan posisi eksternal negara tersebut.
Pengumuman Moody’s dilakukan setelah perdagangan saham Pakistan ditutup pada Senin. Setelah kabar tersebut, mayoritas obligasi Pakistan yang berdenominasi dolar AS menguat. Obligasi yang jatuh tempo pada 2051 mencatat kenaikan terbesar sejak 20 Agustus, berdasarkan data Bloomberg.
Sebelumnya, S&P Global Ratings juga menaikkan peringkat kredit pemerintah Pakistan pada Juli. Keputusan tersebut didasarkan pada perbaikan kondisi ekonomi dan keuangan negara.
Meski peringkatnya naik, utang Pakistan masih berada dalam kategori speculative grade atau berisiko tinggi untuk investasi. Namun, tingkat risikonya membaik dari kategori sangat tinggi menjadi tinggi. Negara lain seperti Argentina, Nigeria, dan Kirgizstan juga memiliki peringkat utang pemerintah yang serupa.
Moody’s tetap menilai profil kredit Pakistan “tetap rentan”. Penilaian tersebut dipengaruhi oleh kondisi keuangan eksternal yang masih rapuh, kemampuan pembayaran utang yang lemah, serta basis penerimaan negara yang relatif sempit.
“Peningkatan peringkat atau tindakan positif terhadap peringkat Pakistan dapat membantu membuka kembali akses ke pasar obligasi komersial internasional sekaligus menurunkan premi risiko negara tersebut,” kata Muhammad Shahroz, analis di Insight Securities Ltd.
Pakistan mulai kembali mengakses pasar utang internasional pada April melalui penjualan obligasi global dengan skema private placement. Langkah tersebut menjadi penanda kembalinya Pakistan ke pasar utang internasional setelah lebih dari empat tahun.
Sebulan kemudian, Pakistan menerbitkan obligasi pertamanya dalam denominasi yuan di pasar domestik China. Penerbitan tersebut menjadi salah satu obligasi valuta asing dengan biaya paling murah yang pernah dilakukan Pakistan.
Data terbaru menunjukkan cadangan devisa Pakistan kini telah mencapai USD 17,1 miliar.
