Wall Street Menguat, Investor Antisipasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Jumat (11/9), didorong penurunan harga minyak dan data inflasi konsumen Amerika Serikat (AS) yang memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pekan depan.
Mengutip Reuters, Indeks S&P 500 naik 0,86 persen menjadi 7.656,98 poin pada akhir perdagangan. Nasdaq menguat 0,96 persen menjadi 26.333,04 poin, sedangkan Dow Jones Industrial Average naik 0,98 persen menjadi 52.573,29 poin.
Pembuat server kecerdasan buatan (AI), Dell Technologies (DELL.N), menjadi salah satu saham yang mencatat kenaikan signifikan. Saham Dell melonjak 12 persen ke rekor tertinggi.
Saham Hewlett Packard Enterprise (HPE.N) juga melesat 12 persen, sedangkan HP Inc (HPQ.N) menguat 8,4 persen. Penguatan saham-saham tersebut terjadi setelah laporan keuangan kuartalan Oracle (ORCL.N) melampaui ekspektasi. Namun, saham Oracle justru turun 1,8 persen.
Sementara itu data inflasi konsumen AS menunjukkan kenaikan harga yang lebih cepat pada bulan lalu. Kondisi ini terjadi seiring kembali naiknya harga bensin setelah turun selama dua bulan berturut-turut.
Perkembangan tersebut menambah tekanan bagi The Fed untuk memperketat kebijakan moneter guna mengendalikan inflasi.
Berdasarkan perangkat CME FedWatch, kontrak berjangka suku bunga kini mencerminkan probabilitas hampir 90 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga dalam rapat kebijakan pada Rabu (16/9). Angka tersebut meningkat dari 72 persen pada Kamis.
“Itu (kenaikan suku bunga -red) sudah bisa dibilang hampir pasti,” kata Thomas Martin, manajer portofolio senior di GLOBALT Investments, Atlanta.
“The Fed akan melakukan hal yang benar dengan menaikkan suku bunga, dan itu secara marginal baik untuk menjaga inflasi tetap terkendali,” tambahnya.
Penguatan Wall Street terjadi setelah pasar sebelumnya dibayangi kekhawatiran inflasi, kenaikan imbal hasil Treasury jangka panjang, serta besarnya belanja untuk membangun pusat data AI.
Adapun harga minyak turun pada Jumat (11/9), tetapi masih menguat sekitar 9 persen dalam sepekan. Serangan di sepanjang jalur pelayaran Timur Tengah memicu kekhawatiran gangguan pasokan yang berkepanjangan. Kontrak berjangka minyak mentah Brent turun hampir 3 persen, tetapi masih berada di atas USD 104 per barel.
