Konten dari Pengguna

Anak Pintar

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Averro Yusuf Abadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Peralatan Lukis, Sumber: Unsplash

"Dan, saya umumkan, juara umum kelas VIII semester ganjil adalah… Andi!" Aku berjalan bahkan sebelum tepuk tangan dimulai. Sudah kukira akan menang lagi. Di depan, tampak guru-guru memandangiku sambil tersenyum. Di tangan kepala sekolah terdapat piagam penghargaan. Aku sampai di depan. Berterima kasih. Rasanya sulit menarik sudut bibirku ke atas dan menampakkan senyum. Entah ini sudah piagam keberapa yang kuterima.

Tepuk tangan segera terdengar. Ada juga yang berteriak untuk merayakan keberhasilanku.

Setelah semua informasi selesai disampaikan, kami dibolehkan pulang.

"Panas sekali, ya. Aku pernah baca, daerah dekat khatulistiwa memang sering terasa seperti dipanggang matahari," ujarku kepada Sinta, teman masa kecilku. Rumah kami bersebelahan, dan saat ini kami sekelas.

"Khatulis... apa?" dia membalas.

"Khatulistiwa. Garis khayal horizontal yang melingkari bumi. Seingatku begitu. Soal itu ada di ulangan IPS hari Selasa lalu, bukan?"

"Entahlah. Mungkin saja," ujarnya acuh tak acuh.

"Makanya aku belajar hal-hal beginian. Rasanya keren saja. Tahu kenapa pohon, hujan, dan panas di tempat kita bisa seperti ini," ungkapku.

Sinta tak bergeming. Lalu, ia berhenti dan menunjuk sebuah pohon yang memiliki daun berwarna ungu.

"Apakah itu juga ada karena garis khayal itu?" Sinta sontak melontarkan pertanyaan padaku.

"Ya-ya, tentu saja."

"Menarik. Tahukah kau apa nama pohon itu?" ia sontak bertanya kembali.

Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal, mencoba mencari di pelajaran mana pohon itu pernah disebutkan. Namun, tidak ada.

"Pohon itu bernama pohon bungur. Ia menjadi peneduh di saat matahari terasa begitu gerah. Pohon yang sangat spesial," jelasnya padaku.

"Kau sangat suka akan pohon, bukan begitu?"

"Bukan. Aku mencintai seni, dan pohon itu adalah salah satu contohnya. Menurutku, dunia tanpa seni hanyalah sekumpulan batu, Andi," ucapnya dengan tatapan tajam yang masih tertuju pada pohon itu.

Aku mengerutkan kening.

"Yang benar saja? Sepertinya kau jangan bengong ke luar jendela saat guru IPA menjelaskan."

"Ya. Terserah kau saja, anak pintar," ucapnya dengan senyum kecil. Kami akhirnya melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing.

Sampai di rumah, orang tuaku segera menyambutku. Ibu mengucapkan selamat padaku. Ia segera ingin melihat piagamku.

"Kau ingin hadiah apa?" Ibu bertanya padaku setelah satu jam mencari templat yang tepat untuk mengunggah hasil prestasiku di media sosial.

"Tidak usah, Bu. Aku ingin istirahat dulu dari belajar selama liburan ini. Lagi pula, tidak ada ujian mendatang," balasku kepadanya.

"Kau harus tetap serius belajar, ya. Apa itu namanya… Gamteri. Persegi-persegi. Kau harus serius," ujar Ayah yang baru tiba dari teras. Oh... mungkin maksud Ayah adalah Geometri.

"Pastinya, Yah." Aku menampakkan senyum. Senyum yang sama saat aku diberi penghargaan itu.

Dua minggu berlalu begitu cepat.

Sering kali, saat aku bermain sepak bola di waktu sore, kulihat Sinta sedang duduk di halaman rumahnya dengan buku gambar di tangannya. Matanya tajam sekali. Bagaimana dia bisa menghabiskan berjam-jam waktunya duduk di situ?

***

Tak lama, sekolah dimulai kembali. Sayangnya, guru IPA kami absen pada hari pertama ini. Dia hanya menyuruh kami mencatat materi.

Materinya tentang sistem pencernaan manusia, satu bab penuh. Aku mencatat dengan mata sayu dan tangan yang nyeri setelah menulis lima halaman.

Sementara itu, kulihat Sinta di meja pojok, masih dengan buku gambarnya, menatap pohon ketapang di samping kelas.

Aku menghampirinya.

Matanya menatapku makin tajam tiap aku kian dekat dengannya.

"Kau tidak mencatat? Ini ada nilainya, kau tahu itu," ujarku padanya.

Sinta akhirnya berhenti menggambar. Sepersekian detik aku sempat melihat gambar yang baru sekitar 40 persen jadi itu. Elok sekali.

Sinta kemudian memandangku dan menghembuskan napas panjang.

"Baiklah. Memangnya kita mencatat apa?" ucapnya ketus. Aku yang bengong melihat gambarnya jadi tersentak, hendak kembali ke mejaku, namun lupa harus mencatat apa dan sampai mana. Saat aku berjalan pergi, Sinta tertawa lirih.

"Kau bahkan tidak tahu apa yang kau catat sedari tadi? Oh, Andi, dasar anak pintar." Ia mengira aku tak mendengarnya karena kuteruskan saja langkahku. Pada akhirnya, ia hanya mencatat kurang dari sepuluh menit.

Sementara aku merenung, terdiam di tempat dudukku, mencoret halaman belakang buku dengan pena tanpa tujuan jelas. Kata-katanya bergaung lagi di kepalaku. Tanpa sadar, bel pulang sekolah sudah dibunyikan. Aku tak bicara apa pun dengannya di jalan pulang.

Aku menghampiri Ayah yang berada di teras dengan kopinya sejak satu jam lalu.

"Yah, Ayah tahu Sinta, bukan?" Aku memulai obrolan.

Hening sejenak sebelum Ayah menjawab dengan lirih.

"Ya. Bocah yang kerjanya hanya menggambar saja. Orang tuanya juga malah menghamburkan uang untuk hobi anaknya. Aneh sekali."

"Tapi, Yah, dia sangat pandai—" Perkataanku dipotong olehnya.

"Bertemanlah dengan yang pintar Gamteri. Jangan dengannya, yang tidak pintar matematika."

Aku ingin membalas, namun urung, lalu berjalan ke kamarku. Lagi-lagi Ayah salah menyebut pelajaran favoritku. Di dinding kamar, piagam-piagam itu masih tergantung rapi.

Di kamar, aku terdiam menatap langit-langit kamar. Teringat perkataan Ayah. Lalu Sinta. Sahabatku sejak kecil. Tidak pintar matematika? Yang benar saja. Aku ingin melihat dunia Sinta dengan mataku sendiri.

***

Hari Rabu, pukul tiga, aku sudah berada di depan rumah Sinta.

Kutekan bel rumahnya. Sinta menyambutku dan mengajakku masuk. Dituntunnya aku ke ruangan "spesial"-nya. Saat pintu dibuka, mataku seketika berkelana melihat ruangan penuh gambar itu, dari gambar acak dan berantakan sampai gambar yang sangat detail dengan warna elok. Peralatan melukis tertumpuk lengkap di sebuah meja putih yang sudah terdapat bercak warna.

Dari semua gambar itu, ada satu yang membuat mataku sulit berpaling: gambar sesosok pahlawan yang digambar dengan sangat detail—kulitnya, kacamatanya, hingga slogan yang tertulis di bawah wajahnya.

Itu adalah gambar Ki Hajar Dewantara.

Melihat aku begitu terfokus pada gambar itu, Sinta pun memecah fokusku.

"Ini gambarku saat aku masih SD. Tokoh yang sangat aku kagumi."

"Kau mengagumi tokoh pahlawan? Sementara kau hanya merenung saja saat pelajaran PKN?" Aku tertawa lirih.

Sinta pun menampakkan senyumnya.

"Ya, mungkin begitu. Namun, ini berbeda..."

Kami berdua bungkam sejenak.

"Kau tahu slogan Ki Hajar? Memang hebat, benar?" ujar Sinta memecah keheningan.

Aku menunduk pelan.

"Aku jarang belajar untuk ujian. Tapi, aku pernah tidak tidur dua malam hanya untuk menyelesaikan satu gambar."

Aku tersenyum dan menatap Sinta.

"Mungkin begitu. Ki Hajar tentu tidak akan hanya membanggakan anak yang bisa melakukan perhitungan luas tabung, bukan begitu?"

"Menggambar ini caraku bebas menjadi diriku sendiri," ujarnya lirih.

"Ya... Tak mungkin sanggup aku untuk duduk berjam-jam dan menggambar satu objek di kala senja."

Sinta menatapku dengan wajah kemerahan.

"Dan rasanya pasti sulit sekali bagiku untuk mengerjakan operasi matematika yang ada hurufnya."

Kami berdua tersenyum tanpa menatap satu sama lain.

***

Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul empat. Aku minta diri untuk pulang. Sampai di pintu, aku menatapnya.

"Terima kasih."

Dia tak menjawab.

"Oh, ya. Apakah kau mau tahu fakta menarik Ki Hajar Dewantara? Dia merupakan salah satu pendiri Indische Partij. Dia adalah bangsawan. Dia juga—"

"Oke, oke, cukup, dasar anak pintar."

Aku berjalan kembali ke rumah. Di rumah, kulihat Ayah masih sibuk dengan korannya yang lusuh sebab sudah puluhan kali dilipat. Ibu sedang menghangatkan makanan di dapur. Piagam-piagamku terpampang jelas dari pintu depan, dari TK sampai sekarang.

Aku kembali ke kamar. Besok ada pelajaran matematika. Guru menyuruh kami menghafal rumus Pythagoras. Lagi-lagi Pythagoras.

Enggan rasanya aku hanya melihat angka dan bentuk yang itu-itu saja.

Terbayang lagi olehku Sinta. Matanya yang tajam menatap pohon ketapang itu. Tidak mencatat. Tidak menghafal. Hanya melihat.

Aku akhirnya menyalakan ponselku, membuka video pelajaran yang sudah lama kupendam. Saat video dimulai, aku pun mulai menulis.

"SIN, COS, TAN."

Tamat.