Konten dari Pengguna

Kenangan di Secangkir Kopi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Averro Yusuf Abadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kopi, Sumber: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Kopi, Sumber: Unsplash

"Tik-tik-tik."

Suara rintik hujan mulai terdengar. Aku menyeruput kopiku perlahan. Entah sudah pukul berapa; yang jelas, matahari sudah mulai tenggelam di cakrawala.

Kuseruput kopiku sekali lagi.

Sudah tak jelas konsep waktu di hidupku sejak tiga tahun lalu, saat aku mulai kuliah. Tugas bagaikan nyamuk yang selalu ada, berisik, dan mengganggu bila tak segera "diberantas".

Kopi dan laptopku yang sudah lapuk menjadi teman-teman terbaikku selama tahun-tahun terakhir.

"HUSHH!"

Suara deru hujan makin memekikkan telinga. Bulu kudukku perlahan bangkit. Untungnya, kopi di depanku dapat menghangatkan tubuhku ini, meskipun sedikit.

Tak lama kemudian, "VROOM!" Terdengar suara truk terparkir di depan warung. Hampir saja kopiku tumpah karenanya.

Tampak seseorang keluar dari truk itu dengan pakaian lusuh—baju partai dan celana pendek—tampaknya habis bergelut dengan kehidupan.

Tubuhku masih menghadap warung; hanya mataku yang melihat orang itu.

Aku menatapnya.

Aku tidak tahu mengapa telapak tanganku tiba-tiba dingin. Tengkukku membeku seketika. Jantungku berdegup makin kencang. Bahkan, keringat bisa menetes di suhu yang sedingin ini.

Pandangan mataku belum kutolehkan pada wajah pria itu. Namun, seolah-olah tubuhku telah mengenalnya lebih jauh sebelum mataku dapat menangkap wajahnya.

Pria itu mengusap wajahnya yang basah dengan ujung kaos, lalu menghembuskan napas berat yang bercampur dengan aroma rokok murah. Bayangan hitam yang selama ini terkunci rapat di sudut ingatanku mendadak mendobrak keluar.

Aku langsung memalingkan muka. Perasaan macam apa ini? Sudah lama aku tak merasa begini.

Terakhir kali... kapan, ya?

Di antara udara dingin yang kian lama kian menusuk, otakku dipaksa untuk berpikir.

Lalu, teringatlah aku pada masa-masa mengenakan seragam putih abu-abu.

Tanganku yang memegang cangkir mendadak gemetar hebat. Tenggorokanku mengering seketika. Seluruh persendianku mendadak terkunci. Aku lupa caranya bernapas dengan benar, sementara jantungku berdegup menghantam rongga dada dengan begitu kencangnya.

Mataku terpaku pada bekas luka kecil di dekat siku lengannya—detail fisik yang dulu paling kuhindari.

Jangan-jangan dia...

"Biasa, Mbok. Kopi hitam satu, sama tempe mendoan hangat dua," suara itu meluncur santai, serak, dan berat.

Aku menahan napas di sudut warung. Suara itu...

Nada tingginya memang sudah runtuh dimakan usia dan asap rokok yang masih saja mengepul dari mulutnya. Namun, intonasinya masih sama persis dengan orang yang dulu kerap berteriak di depan mejaku.

"Halah, Mas Vino. Baru kelihatan lagi jam segini? Dari mana saja?" Mbok Tarmi menyambut hangat sambil menuang air panas ke cangkir yang sudah diisi bubuk kopi tubruk.

"Biasa, Mbok, nunggu muatan di gudang bawah. Hujan-hujan begini, jalanan jadi licin, truk susah nanjak," sahutnya pendek sambil menarik kursi kayu di dekat meja utama.

Ia memiringkan leher hingga terdengar bunyi berderak pelan, lalu mendesah panjang.

Dia bukan lagi raja di lorong sekolah. Namun, bagiku, jarak tiga meter dengannya tetap terasa seperti berada di dalam kandang singa yang siap menerkam kapan saja.

Ya... Dia memang Vino.

***

Vino mendadak memutar badan, lalu berdiri, dan mulai berjalan ke arahku.

Mendadak, detak jantungku berdegup dengan cepatnya. Keringat mulai menetes di pelipisku. Tanganku yang masih memegang cangkir kopi bergetar hebat.

Aku merasakannya.

Aku tak mau menatapnya.

Aku tak mau menatapnya.

Sudah terbayang di benakku bahwa mungkin dia akan menendang kursiku.

Keringat di pelipisku menetes kian deras.

Atau... dia akan meneriakiku tepat di telinga.

Degup jantungku makin meronta.

Atau, dia akan—

Sial! Aku sudah merasakan tangannya terangkat mendekat.

Tamatlah aku!

...

"Permisi, Mas, mau ambil sendok..."

Lengan kasar itu melewati bahuku, meraih wadah kaleng berisi sendok yang berada tepat di samping cangkirku.

Dengan sudut mataku, aku bisa melihat dia tersenyum.

Tubuhku membeku total, hanya sanggup mengangguk kaku.

Vino kembali ke tempat duduknya, lalu mulai mengaduk dan menyeruput kopinya dengan santai di tengah dingin yang menusuk ini.

***

"Huuft..."

Aku menghembuskan napas sepelan mungkin, takut memancing perhatiannya.

Perlahan, detak jantungku yang sempat meronta mulai menemukan ritme normalnya. Aku menyeka keringat dingin di pelipisku dengan punggung lengan—keringat yang menetes sederas rintik hujan sore ini.

Cangkir kopi yang sempat gemetar di genggamanku meluncur turun, kuletakkan kembali di atas meja kayu yang sudah lapuk itu.

Kuusap-usapkan telapak tanganku yang basah ke celana jeans, berusaha menghapus sisa teror yang baru saja lewat.

Di sekeliling kami, keheningan merayap naik. Hanya ada suara deru hujan yang menghantam atap warung Mbok Tarmi tanpa ampun, dipadu bunyi denting sendok Vino saat ia mengaduk kopi.

Beberapa detik keheningan terasa begitu menyiksa. Aku berpura-pura sibuk menatap jalanan yang mulai tergenang.

Dalam hatiku, aku terus berdoa dan berharap hujan segera mereda, agar aku bisa segera angkat kaki dari tempat ini!

Namun, di tengah bisingnya air yang jatuh dari langit, di tengah keheningan yang memekikkan, suara berat itu kembali meluncur.

"Mas, kuliah di mana?"

Suara samar itu layaknya sirene bahaya bagi tubuhku.

Bulu kuduku sontak tegak kembali.

"Hah?"

Aku sontak menghadap ke arahnya.

Meski sebentar, aku menatap mata itu.

Selepas itu, aku langsung memalingkan muka ke bawah. Tenggorokanku terasa kaku.

"Kuliah... di mana?"

Ia mengulangi pertanyaannya.

"Oh... di Universitas X."

"Oh,"

Hening.

Keheningan kembali merayap, dan deru hujan makin menggebu-gebu.

"Jurusan?"

"Teknik Informatika..."

"Hmm..."

Setelah itu, tidak ada lagi pertanyaan.

Keheningan mendadak mendominasi seluruh ruangan warung, kali ini terasa jauh lebih pekat daripada sebelum obrolan tadi dimulai.

Denting sendok di cangkir Vino berhenti total. Dari sudut mataku yang menunduk, aku bisa merasakan sepasang mata sayu itu kini tertuju ke arahku—memperhatikan jaket almamater yang sudah kusut, atau mungkin mencari-cari serpihan wajah yang dulu kerap diintimidasinya.

Ujung jariku di dalam saku celana meraba selembar uang sepuluh ribu yang sudah sedikit koyak dan terlipat-lipat—uang pas-pasan yang bahkan tak cukup untuk membayar dua cangkir kopi dan melunasi kasbon pada Mbok Tarmi.

Udara makin mendingin. Namun, di situasi ini, waktu seolah berhenti berputar.

'Tapi, apakah dia benar-benar masih mengingatku?'

Gerak-geriknya yang sangat kontras menjadi tanda tanya besarku sedari tadi. Mungkin aku masih mengingatnya. Dia Vino. Tapi, apakah ada kemungkinan dia mengingatku? Aku, yang hanya menjadi salah satu dari banyak orang yang telah dirundungnya.

"Sudah semester berapa?" suara Vino kembali memecah keheningan.

"Enam," jawabku pendek, dengan wajah yang masih tertunduk.

"Wah, sebentar lagi lulus, ya..."

Vino menyeruput kopinya lagi, lalu mencetus begitu saja,

"Lagian dari dulu, kamu emang paling betah nunduk sambil baca buku di pojokan kelas, kan?"

Jemariku yang meraba uang kertas di dalam saku celana mendadak membeku.

Informasi itu... bukan sesuatu yang baru saja kuberikan padanya.

Darah di sekujur tubuhku serasa berhenti mengalir. Napasku tertahan di dada. Otakku dipaksa menerima satu fakta mengerikan yang baru saja dilontarkannya secara kasual:

Dia ingat. Dia mengenali siapa aku sejak awal.

Kata-kata itu tergantung di udara. Keheningan kembali merayap, kali ini menjelma menjadi ruang hampa yang begitu kedap. Suara deru hujan di luar seolah ditarik mundur, menyisakan kekosongan yang memekikkan di dalam kepala.

Ruangan warung yang sempit ini mendadak terasa terlalu menyesakkan. Asap dari rokok yang dikeluarkan Vino membumbung pelan, menjadi satu-satunya hal yang bergerak di antara dua manusia yang membeku.

Tatapannya lurus padaku, tanpa intimidasi, namun sarat oleh beban yang tak bisa kuterjemahkan.

"Kamu masih ingat aku, ya?" tanya Vino pelan. Suaranya pecah, bersaing dengan rintik air di luar.

Aku berusaha diam. Lidahku serasa membeku.

Hujan terus mencambuk atap seng, namun tak ada satu pun bunyi yang sanggup merobohkan tembok canggung di antara kami.

"Iya."

"Kirain kamu sudah lupa."

Aku tidak menjawab lagi. Aku hanya menatap kopi di depanku yang tinggal menyisakan ampas, membiarkan keheningan itu menjadi satu-satunya jawaban yang berhak ia terima.

"Dulu... aku sering bikin kamu kesel, ya?"

"Lumayan."

Terdengar suara samar cekikikan kecil dari Vino, meski mataku tak menangkapnya.

"Iya, paham banget sih. Aku emang sebrengsek dulu," ucapnya sambil menahan ritme tawa kecilnya.

Aku diam. Tak bereaksi.

Aku hanya terus menatap lekukan meja yang terkelupas, membiarkan keheningan tetap mendominasi percakapan ini.

Kesunyian kembali berkecamuk, menimpa ruang sempit di antara kami.

Vino menyedot rokoknya dalam-dalam, dihembuskannya asap itu ke udara yang kian membeku.

Ia seperti hendak mengatakan sesuatu, namun urung. Bibirnya terkatup rapat, lalu terbuka lagi.

"Gus..."

"Hm?" sahutku pendek tanpa mengalihkan pandangan dari ampas kopi.

"Soal dulu..."

Suaranya menggantung.

Aku diam. Menunggu.

Ia mendesah pelan, menggelengkan kepala pada kopi yang sudah setengah tandas.

"Ah, nggak jadi."

Denting sendok kembali beradu dengan seng. Keheningan merayap lagi selama beberapa menit yang terasa begitu lambat.

Hujan di luar mulai menipis, menyisakan rintik-rintik halus.

"Gus."

"Apa?"

Vino tidak menatapku. Matanya tertuju lurus pada asbak yang berada tepat di depan matanya.

"Maaf."

Satu kata itu meluncur tanpa aksesori atau ucapan puitis lainnya.

Murni, kaku, dan jujur.

Aku tidak langsung menjawab.

Rasa sesak yang mencengkeram paru-paruku sejak awal perlahan-lahan melonggar.

Gerimis di luar makin tipis, menyisakan suara tetesan air yang jatuh teratur di atap warung.

Vino meneguk sisa kopi hitamnya hingga tandas, lalu mematikan puntung rokok di asbak dengan sekali tekan. Ia berdiri, merapikan bajunya yang lusuh, lalu melangkah menuju meja kasir tempat Mbok Tarmi berdiri.

"Lho, Mas Vino, kok cepat-cepat? Hujannya belum terang benar ini," celetuk Mbok Tarmi sambil mengelap meja.

"Biar tak dikejar waktu di jalan, Mbok. Muatan harus sampai sebelum subuh," sahut Vino pendek.

Ia merogoh saku celananya, mengambil dompet kulitnya yang kusam, menarik beberapa lembar uang kertas, lalu menyodorkannya pada Mbok Tarmi. Ada bisikan pelan yang dilontarkannya tepat di dekat telinga wanita tua itu—suara yang tak sanggup ditangkap telingaku sebab sisa deru hujan.

Mbok Tarmi mengangguk-angguk, matanya sempat melirik sebentar ke arahku sebelum menyimpan uang itu di dalam wadah kaleng.

Vino membalikkan badan.

Sebelum melangkah keluar menembus gerimis, ia menghentikan langkahnya sebentar hanya beberapa meter di sebelahku.

Matanya menatapku.

Bukan lagi tatapan perundung dari masa lalu, melainkan tatapan seorang pria yang sedang berjuang menata hidupnya kembali.

Ia mengangguk kaku padaku.

Aku tak lagi memalingkan muka. Aku membalas anggukan itu, sama kaku dan singkatnya.

Vino akhirnya berjalan keluar warung, masuk ke dalam truk, dan menyalakan mesin truk itu.

"VROOM!"

Gerimis akhirnya mereda, menyisakan aroma tanah basah dan udara dingin yang menenangkan.

Aku bangkit dari kursi kayu, merogoh saku celana, dan mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu yang sudah kusam. Dengan rasa canggung yang masih tersisa, aku berjalan menghampiri Mbok Tarmi.

"Mbok, ini... buat kopi tadi. Sisa kasbon kemarin, besok-besok aku lunasi, ya," ucapku pelan, menyerahkan lembaran uang itu.

Mbok Tarmi tersenyum hangat, menolak uang kertas di tanganku dengan dorongan pelan.

"Sudah dibayar sama Mas Vino tadi, Mas. Semuanya. Kopi hari ini sama catatan kasbonmu yang kemarin-kemarin juga sudah dilunasi sekalian," ujar Mbok Tarmi sambil mengibaskan tangannya. "Katanya, 'Titip salam buat adiknya.'"

Aku tertegun dan tak bisa berkata apa-apa selama beberapa menit.

"Terima kasih, ya, Mbok," sahutku kaku.

Aku melangkah keluar warung menuju sepeda motor tua milikku yang terparkir di bawah pohon.

Di depan sana, truk besar milik Vino sudah mulai memanaskan mesinnya. Suara deru mesin dieselnya menggelegar, membelah keheningan sore.

Sambil menghela napas panjang, aku mengambil helm, mengenakannya, lalu menyalakan mesin motor.

Sebelum pergi, aku menatap truk itu sejenak.

Armada kusam itu perlahan bergerak maju, merayap meninggalkan halaman warung. Lewat sorot lampu jalanan yang remang, mataku tertuju pada bagian belakang bak truknya yang kusam dan berdebu. Di sana, terlukis tulisan cat sederhana yang tercetak jelas:

"Selalu berusaha menjadi lebih baik."