Kitab Dusun

Pembelajar yang tertarik dengan sastra, karya fiksi, olahraga, dan matematika. Saat ini duduk di kelas 9 di SMPN L SIDOHARJO, Musi Rawas, Sumatera Selatan.
·waktu baca 11 menit
Tulisan dari Averro Yusuf Abadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Malam terasa sangat sesak. Sekumpulan orang dusun membaca Yasin sebagai acara rutin untuk orang yang meninggal. Kali ini untuk Pak Sakum. Aku duduk di kursi tengah yang membuat jarak pandangku hanya melihat punggung dan kegelapan malam. Ayahku duduk di barisan depan, sementara ibuku ada di dalam rumah Pak Sakum bersama ibu-ibu lain. Meski aku tidak bisa melihat mereka dengan sangat jelas, aku bisa mengira suara serak yang dimerdukan itu jelas berasal dari ayahku, dan suara melengking serta lantang sudah bisa kupastikan berasal dari ibuku.
Kakekku, sebagai pemimpin pengajian itu, membaca dengan memegang Yasin, namun matanya tertutup. Aku sempat sedikit pangling melihat itu, namun kubiarkan saja; lagi pula, aku pun tak terlalu dekat dengannya.
Aku yang dari tadi hanya membolak-balik buku, kadang mencium bau tak sedap dari mulut orang yang sangat bergairah membaca Yasin di sebelahku. Mataku kutolehkan ke kanan perlahan, ayat 67. Sialan, masih lama. Rasanya aku sudah menunggu puluhan jam di sini. Kenapa orang tuaku selalu melarangku melewatkan kegiatan rutin ini?!
Apalah faedahnya membaca Yasin selama tujuh hari tujuh malam saat ada orang meninggal? Lagi pula, aku tahu beberapa orang hanya berangkat untuk mendapat makanannya saja. Akan lebih baik tak usah ikut campur dalam urusan belasungkawa seseorang, bukan begitu?
Aku selalu memikirkannya, dusun ini memang perlu perbaikan. Tapi, siapakah aku? Anak muda biasa yang hanya akan dianggap sok tahu oleh kaum tua dusun. Aku tak mau hampir tiap bulan harus berdesak-desakan, mendengar ceramah yang isinya sama, disertai udara yang gerah.
Malam itu, setelah Yasin selesai dibacakan oleh kakek, aku beranjak pergi dari kursiku. Ayahku baru melihatku saat aku sudah cukup jauh, namun itu tak menghentikannya untuk berlari ke arahku dan mengajakku kembali.
"Hei, Agung, mau ke mana? Ayo kembali ke pengajian, ini tradisi dusun," ujar ayah sedikit terengah-engah.
"Aku pergi, aku tidak mau ikut lagi."
Ayahku tampak ingin mengucapkan sesuatu, namun urung saat aku sudah membalikkan badan dan berjalan.
Di perjalanan, angin malam menyertaiku. Lumayan, bisa melepas sedikit demi sedikit kegerahan pikiranku. Suara burung celepuk menjadi irama perjalananku, disertai suara lirih dari sungai-sungai di sebelahku.
Tiba di rumah, aku mengganti pakaianku, lalu masuk ke kamar untuk berbaring. Aku membuka ponselku, lalu kubuka media sosial. Video-video motivasi dan ajakan untuk meninggalkan zona nyaman terus muncul di beranda, yang makin membuat niatku bulat dan memperteguh pikiranku tentang dusun yang sudah kuno ini.
Aku pun sadar, jika aku tidak bisa mengubah dusunku dari tradisinya, maka aku yang akan mengubah diriku sendiri.
Beberapa minggu setelahnya, aku mulai menjalankan niatku. Dialek asli yang terlalu blak-blakan tak kugunakan lagi, aku mulai memodifikasi pakaianku dengan celana kedodoran bermerek mahal, dan bahasa asing sering kuselipkan di sela-sela pembicaraanku agar terlihat keren.
Aku berubah. Atau, mungkin, seperti itulah yang dikatakan banyak orang. Namun, menurutku, ini bukan perubahan, ini perkembangan.
Namun, tentu tak mudah untuk dapat menggeser tradisi lama. Ada saja yang akan mencegah; untukku, dia adalah orang tuaku sendiri. Ayah sering menentangku, ibu kian menasihatiku. Namun, tidak ada kata lain selain "baiklah" dan tindakan lain selain mengulanginya lagi.
Di sela-sela ceramah singkat ayah dan ibu, kakek selalu hadir, namun hanya sebagai pengamat. Tak ada sepatah kata pun diucapkannya, dan itulah yang membuatku merasa sedikit resah setiap kali melihatnya; ada yang aneh rasanya di lekuk wajahnya yang datar.
Berbulan-bulan telah berlalu.
Aku masih menjalani kebiasaan kekinianku dan melewatkan hampir seluruh tradisi dusun.
Awalnya memang melegakan, namun seiring waktu ada yang mengganjal rasanya.
Saat orang tuaku pergi ke acara dusun, meski di rumah penuh waktu luang, keheningan terasa begitu dalam. Suara kipas angin yang lirih itu kadang bisa terdengar sangat menyengat di telingaku. Dentuman jarum jam juga terdengar gaduh. Yang paling mengherankan, keheningan dan kesendirian itu terasa sangat kelam dan mencekam. Bau keringat orang-orang dusun yang dulu sering kukeluhkan, sekarang hanya berganti bau sedikit apek dari bantal yang belum dicuci.
Keselarasan yang dulu terasa sangat dekat, sekarang rasanya terlampau jauh.
Meski begitu, aku tetap teguh pada pendirianku sendiri.
Sering kali teman-teman mengajakku pergi ke acara dusun untuk bermain, namun selalu kutolak. Orang tuaku juga sering mengajakku berkunjung ke rumah tetangga, tetapi selalu enggan kuterima.
***
Di suatu petang, ibuku mendapat kabar bahwa pamanku akhirnya mendapat promosi jabatan dan akan mengadakan syukuran. Kami pun berniat berkunjung beberapa minggu mendatang. Aku merasa bersemangat setelah tahu aku akan pergi ke kota.
Dua minggu berselang, akhirnya hari keberangkatan tiba. Sayangnya, aku bangun terlambat dan hanya memiliki tiga puluh menit untuk bersiap. Aku bergegas mandi dan sarapan. Ternyata waktunya masih cukup sebelum mobil datang menjemput. Saat kukira aku sudah siap, kakek muncul. Meski dia berkata tak akan ikut, dia menitipkan pesan untuk membawa kitab suci sebagai jimat.
Ah, lagi-lagi kepercayaan akan hal mistis seperti itu. Aku menolak usulan kakek, namun ayahku berkata,
"Cari sampai ketemu, Agung! Kalau tidak, kamu tidak boleh ikut!" ujar ayah dengan lugas.
Lantas aku mencarinya dengan buru-buru, setiap sisi kamar kuperiksa. Ruang tengah, ruang ibadah, sampai dapur kuperiksa. Namun, nihil.
Hampir satu jam aku mencari, orang tuaku pun menunggu. Tak kutemukan. Akhirnya, mereka terpaksa meninggalkanku.
Selama berjam-jam di rumah sendirian, kuisi dengan raungan kemarahan. Aku memukul kasurku terus-menerus, menendang kursi sampai terjungkir berulang kali, dan berteriak tanpa suara kepada diriku sendiri sambil menyalahkan kakek yang telah membuatku tidak jadi ikut.
Akhirnya, saat malam, emosiku mereda dan kuputuskan untuk tidur.
Aku terbangun keesokan harinya, bukan karena keinginan tubuhku untuk bangun, melainkan karena mendengar semacam sekumpulan orang memanggilku dari depan rumah dengan kencang.
Itu pukul lima pagi. Aku pun keluar rumah, masih dengan mata sayu dan pakaian yang compang-camping.
"Ada apa, ribut-ribut begini? Mengganggu saja."
"Gung! Orang tuamu, Gung! Mereka... mereka meninggal karena kecelakaan dalam perjalanan kemarin malam!"
Mataku yang sayu hendak terbuka lebar, mulutku perlahan menganga, wajahku yang awalnya mengantuk sepersekian detik sudah menjadi tegang. Aku pun spontan berteriak,
"Apa?!"
"I-iya, Gung, orang tuamu... sekarang tubuh mereka sedang dibawa kembali ke sini, dan pemakaman akan dilakukan beberapa jam lagi..."
Angin terasa lebih dingin sepersekian detik, samar-samar terlihat alap-alap memangsa burung pipit kecil. Ah, satu nyawa hilang lagi, padahal burung pipit itu pasti sedang membawa makanan untuk anak-anaknya... Daun-daun terlihat sangat kaku, dan tubuhku terdiam kikuk di depan sekumpulan orang yang wajahnya terlihat sangat tergesa dengan tubuh yang terus bergerak layaknya sedang gelisah.
Seketika, tanpa seizinku, air mata bercucuran sedikit demi sedikit; sendi-sendi tubuhku yang tadinya menegang sekarang perlahan mengendur. Angin dusun menambah rasa dingin pada momen itu.
Pikiranku penuh sekali rasanya, namun tiada satu kata pun yang dapat kuucapkan.
Berjam-jam pun berlalu, rasanya lama sekali.
Di malam hari, terlihat tarub yang cukup besar sudah terpasang di depan rumah kakek.
Pukul tujuh malam, terlihat juga puluhan orang telah mengisi kursi yang disediakan sambil mengenakan kopiah.
Sementara kakek bertugas mengisi acara itu, aku terbaring di kasur. Samar-samar aku mendengar suara-suara mereka. Tak bisa kutenangkan tubuhku, berulang kali aku menghidup-matikan kipas angin. Suara derik nyamuk yang lirih namun melengking membuatku sering menutup telinga dengan bantal. Dentang jam dinding yang berjarak cukup jauh, suaranya terdengar sangat nyaring. Keringat terus bercucuran dari kulitku meski sudah kunyalakan kipas pada mode maksimalnya.
Dengan segala kericuhan dalam diriku, tiada lain yang bisa kulakukan selain membuka ponsel untuk meredakan kegelisahan. Namun, bukannya itu yang kudapat—sekarang bukan hanya tubuhku yang basah karena keringat, melainkan mataku juga menjadi makin sayu dengan otot mata yang tegang, sekaligus pikiranku yang makin penuh.
Aku melempar ponselku ke pojok kamar, lalu menutup wajahku dengan tangan.
"Sialan! Tidak membantu!" gumamku.
Saat aku melepaskan tanganku, terlihat sedikit basah di sana. Kenapa air mata selalu saja keluar tanpa seizinku?
Aku mencoba berdiam diri, dan dengan keras mencoba mengingat kembali apa yang terjadi.
Dua minggu sebelumnya, lalu satu minggu, lalu satu hari; hari keberangkatan, aku bangun terlambat, seingatku aku sudah bergegas, lalu aku disuruh kakek mencari kitab suci, lalu mereka pergi...
Tunggu dulu, kitab suci? Aku baru ingat, dua hari sebelumnya aku membawanya untuk acara keagamaan di sekolah. Aku lekas bangkit dari kasur dan bergegas membuka tas sekolah di ruang tengah.
Benar saja, kitab itu ada di sana. Aku menatapnya. Entah mengapa, saat aku menyentuh benda itu, rasanya seperti menyentuh jiwaku sendiri. Beberapa menit aku menatapnya dengan termangu. Lalu, di sela renunganku, kembali lagi aku berusaha mengingat tragedi itu, dan sampai pada ingatan saat kakek menyuruhku mencari kitab suci ini, pikiranku tergugah. Tanpa ini, mungkin namaku juga sudah tersebut di dalam doa surat Yasin yang dibacakan kakek.
Tunggu, kakek? Di mana dia? Kenapa aku hanya berdiam diri di sini? Tidakkah seharusnya aku berterima kasih padanya? Ataupun hanya sekadar menemuinya, karena dialah satu-satunya keluarga yang kupunya?
Suara orang-orang pembaca Yasin sudah tak terdengar. Aku berlari, masih dengan membawa kitab itu.
Namun, yang kutemukan hanyalah kelengangan.
Rentetan kursi sudah dibereskan, sekarang hanya tersisa tarub, dan itu akan bertahan selama enam hari ke depan.
Di sela malam yang lengang, aku memutuskan pergi sebentar dari rumah ke persawahan dusun. Suara gemericik air terdengar cukup gaduh karena gerombolan ikan sepatung. Ilalang yang cukup panjang itu sempat menggelitik kakiku. Terdengar juga suara burung cabak dari kejauhan, makin membuat kelengangan malam terasa mencekam.
Namun, aku di sana berdiam diri, dengan kitab suci yang masih ada di genggamanku. Aku menatap dusunku ini dengan diam. Asri—tampak dari banyaknya pepohonan yang rindang; tenang—terasa dari angin yang bersuara lirih; dan terjaga—terlihat dari banyaknya hewan yang seperti sedang bernyanyi, mengisi kekosongan dan kelengangan malam.
Aku sendiri, dengan pakaian yang masih compang-camping, yang dulunya kuanggap keren.
Namun, di malam ini, aku merasa kecil. Dusun yang kuanggap kuno ini kini tampak dapat menghanyutkanku kapan saja, dan dengan cara apa saja. Kitab yang kugenggam, yang dulu rasanya mengekang, saat ini terasa seperti membebaskan. Sekali lagi, rasanya seperti aku menggenggam jiwaku sendiri.
Di situ tangisku menitik. Aku melontarkan semuanya di situ; kata-kata yang tadi pagi begitu berat untuk keluar, saat ini kututurkan dengan sebebasnya.
Aku sadar, aku telah melakukan kesalahan. Sikap acuhku terhadap dusun dan kitab ini, yang sekarang justru menjadi tempatku bersandar.
"Aku ingin berubah, tapi apakah aku sudah terlalu jauh?!" tuturku dengan suara yang cukup bergema.
"Tidak."
Suara asing terdengar lirih. Aku menoleh; terdapat seorang lansia berada di sampingku tanpa kusadari.
"Kek?"
"Kau belum terlalu jauh, dan tidak ada yang terlalu jauh, jika kau ingin berubah."
Kata-kata kakek yang meski pelan terasa sangat tegas, membuatku perlahan berhenti menitikkan air mata.
"Tapi, bagaimana, Kek?" ujarku sambil mengelap air mata.
"Kakek akan bantu, tapi perlu kau tahu, Kakek juga bukanlah orang yang pintar dan bijak yang dapat dengan cepat mengubahmu. Perubahanmu itu adalah milikmu sendiri."
Setelah mengatakan itu, kakek berbalik dan berjalan. Sejenak aku termangu, dan di sela itu aku mengingat nasihat mendiang ibuku,
"Perubahan memang bagus, namun janganlah sampai kita melupakan dari mana kita berasal; dari dusun ini, dari ciptaan Tuhan. Keselarasan itulah kekuatan kita."
Renunganku berhenti. Lalu, aku berteriak untuk berbicara kepada kakek yang sudah cukup jauh,
"Aku akan serius, Kakek," suaraku cukup bergemuruh.
Kakek berhenti sejenak, dan tanpa menoleh, ia melanjutkan perjalanannya.
***
Bertahun-tahun pun berlalu dengan cepat bagai angin malam dusun.
Usiaku dua puluh tahun. Sekarang aku bekerja sebagai tukang proyek di kota, namun hidupku sering kali kuhabiskan di sini, dusunku, tempat aku berasal.
Meski sekarang aku hidup di kota, tempat yang dulu selalu kuiming-imingkan, pakaianku tetap sederhana; kaos hitam dan celana pendek dengan topi adalah pakaianku sehari-hari, terinspirasi dari mendiang ayahku. Dialek dusun yang blak-blakan selalu kubawa setiap kali aku pergi, dan meski fasih berbahasa asing, aku tak pernah membawanya dalam pembicaraan biasa.
Walau aku sering dianggap "desa" dan kampungan di kota, aku tak menghiraukannya, karena saat aku berada di dusun, di situlah, menurutku, keselarasan alami dapat tercipta dan terasa, lewat acara-acara sosial dan keagamaan yang dulu sering aku cemooh.
Hidupku terasa lebih tenang, layaknya burung kapinis yang terbang dengan cekatan namun presisi.
Semua berkat kakek, yang selama bertahun-tahun belakangan menjadi keluarga sekaligus guru bagiku. Meski tidak selalu ramah, ia mampu mengajarkan dengan sempurna aspek yang menghidupkan dusun dan menjadi pembeda dari teknologi mutakhir di kota: keselarasan.
Namun, tak lama setelah ulang tahunku yang ke-20, kakekku yang berusia 92 tahun meninggal karena gangguan pernapasan yang telah lama dideritanya.
Malam itu, malam Jumat. Tarub sederhana telah dibangun, kursi-kursi di dalamnya telah tersusun rapi, disertai lingkungan dusun yang sejuk dipenuhi kerindangan pohon di sekitarnya.
Pukul tujuh malam, orang-orang sudah berdatangan dan mengisi penuh kursi-kursi hijau itu dengan kopiah dan sarung yang sedikit longgar.
Aku berjalan di tengah mereka semua dengan pakaian serba putih, kopiah berwarna sama, serta Yasin dan kitab suci di genggamanku.
Aku duduk di depan mereka, mulai mengucapkan doa-doa, dan akhirnya menutup mataku sambil bergumam,
"Yaasiin..."
