Olahraga Renang dan Masa Depan Atlet

Mahasiswa Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Universitas Negeri Malang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari avina khoirunnisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“ Salam Olahraga, Jaya”, “Akuatik Indonesia, Di air Kita Jaya”.
Bunyi jargon tersebut sering terdengar tidak asing bagi orang orang yang berkecimpungan dalam dunia renang. Jargon tersebut membawa semangat bagi atlet cabang olahraga renang untuk terus disiplin melalui kolaborasi, sportivitas, dan saling mendukung. Sehingga untuk mencapai prestasi puncak maka diperlukan dukungan berbagai bidang dan disiplin ilmu yang mampu menyokong prestasi tersebut.
Sebagai seorang atlet harus menerapkan program latihan yang diberikan oleh pelatih, serta disiplin dan konsisten terhadap performa. Namun fakta dalam pratiknya, proses dalam berlatih yang berulang ulang dapat menimbulkan rasa bosan. Menurut pengalaman pribadi saya setiap atlet pasti pernah mengalami dilema antara bosan pada program latihan atau melanjutkan prestasi. Dilema tersebut mengakibatkan saya tidak mengalami perkembangan yang signifikan dalam ranah yang kompetitif.
Faktor Faktor Yang Menyebabkan Atlet Berhenti Berlatih
Menjadi seorang atlet merupakan suatu profesi yang tergolong berat. Atlet dituntut untuk senantiasa meningkatkan profesionalisme. Diperlukan kerja keras dari awal sampai akhir, seperti persiapan untuk latihan yang keras, mempersiapkan kondisi fisik, maupun persiapan secara mental, sehingga tidak jarang atlet mengalami burnout. Sehingga banyak atlet diusia remaja memutuskan untuk berhenti berlatih.
Dari dua narasumber mengemukakan perbedaan alasan mengapa ia berhenti berlatih.
Dalam wawancara pada tanggal 8 November 2025, menurut Labiba mantan atlet dari kabupaten Kediri mengemukakan alasan ia berhenti berlatih “Karna kan kayak setiap hari latihan terus menerus kadang saya merasa bosan karena programnya cuma itu itu saja, dan juga teman teman seumuran yang dulu latihan bareng sudah tidak lanjut”.
Fakta dilapangan memang kebanyakan atlet bosan latihan karena program yang diulang ulang terus menerus sehingga terasa monoton. Menurut Self-Determination Theory apabila seorang atlet tidak merasa memiliki kendali terhadap latihan, tidak melihat perkembangan ketrampilan atau kurang mendapatkan dukungan sosial, maka kebosanan akan lebih mudah muncul.
Narasumber kedua mengemukakan perlakuan pelatih saat latihan yang terlalu keras. “Kalau dulu sih sempat pernah pelatih itu kayak keras gitu latihannya, sampai kayak dilempar pakai sendal saat berlatih sehingga sampai menangis” kata Aulya pada wawancara. Dari perilaku tersebut seharusnya komunikasi antara pelatih dan atlet ditingkatkan. Sebagai pelatih harus mampu memahami karakteristik atlet yang berbeda beda. Jika tidak maka atlet yang memang mentalnya tidak kuat pasti akan takut dan enggan untuk datang latihan.
Perubahan Motivasi dalam Olahraga Renang
Dari pengalaman tersebut kebosanan latihan renang justru membentuk motivasi baru bagi saya. Fakta dalam lapangan daerah saya berlatih banyak rekan rekan atlet yang bertransisi menjadi seorang pelatih. Alasan tersebut dikarenakan peluang karir menjadi atlet renang cukup berat. Diawali dengan terjun untuk ikut belajar berlatih di club masing masing. Awalnya melatih kelas pemula hingga berkembang menjadi asisten pelatih dan melatih kelas prestasi.
Perubahan motivasi membawa pengaruh baik bagi kehidupan seorang mantan atlet. Mendapatkan pekerjaan sehingga masa depan sebagai pensiunan atlet dan skill terpakai kembali untuk memberi manfaat. Apalagi saya dan rekan rekan mengetahui bagaimana kondisi dikolam saat berlatih.
Dari pengalaman itu saya sadar bahwa kebosanan, kejenuhan, serta menurunnya motivasi tidak selalu berakhir sebagai kegagalan, melainkan dapat menjadi titik balik menuju peran baru yang lebih bermakna. Keputusan untuk menjadi pelatih bukan sekadar jalan keluar dari stagnasi, tetapi dapat menjadi sarana untuk memberikan dampak positif, mentransfer pengalaman, serta memperbaiki ekosistem latihan yang sebelumnya mereka rasakan kurang efektif. Perpindahan peran ini pada dasarnya menunjukkan bahwa setiap pengalaman termasuk kebosanan dapat menjadi peluang dalam perjalanan kehidupan olahraga.
Avina Khoirunnisa, mahasiswa Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Universitas Negeri Malang.
