Konten dari Pengguna

Boleh Memposting Chat Pribadi ke Media Sosial Saat Sedang Bertengkar?

Avita Lestari

Avita Lestari

Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum, Universitas Pamulang

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Avita Lestari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Canva AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Canva AI

Pernah lihat seseorang mengirimkan screenshot percakapan karena sedang berantem dengan orang lain? Biasanya alasannya mudah: ingin menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi.

Ketika seseorang merasa disalahkan, tidak dianggap, atau bahkan di fitnah, mengambil screenshot percakapan memang tampaknya jadi cara paling sederhana untuk menjelaskan situasinya. Pilih bagian chat, ambil screenshot, lalu upload ke media sosial.

Sekarang media sosial bukan cuma untuk berbagi foto atau cerita sehari-hari saja. Masalah pribadi sering dibawa ke ruang publik juga. Tak jarang kita melihat postingan yang menampilkan percakapan antara dua orang yang saling berselisih, lengkap dengan nama, foto profil, bahkan nomor telepon.

Lalu muncul pertanyaan yang mungkin belum terpikirkan banyak orang: jika kita adalah salah satu pihak dalam percakapan itu, apakah artinya kita bisa bebas membagikan semua isi chat ke media sosial?

Punya Screenshot Bukan Berarti Bebas Menyebarkannya

Screenshot percakapan memang bisa digunakan sebagai bukti atau dokumentasi dari sebuah percakapan tersebut. Seseorang bisa menyimpannya agar tidak lupa apa yang pernah dibicarakan atau sebagai bukti jika ada pertengkaran.

Namun, menyimpan percakapan dan membagikan percakapan adalah dua hal yang berbeda.

Bayangkan seseorang dibuat rasa bersalah karena mengucapkan sesuatu yang sebenarnya bukan maksud hatinya. Ia kemudian ingin memberi penjelasan dengan menunjukkan isi percakapan tersebut. Sampai di sini, niat untuk menjelaskan diri tentu bisa dimengerti.

Masalahnya muncul karena screenshot tersebut menampilkan seluruh isi percakapan, termasuk nama lengkap, foto profil, nomor telepon, cerita keluarga, masalah pribadi, atau informasi lainnya yang sebenarnya tidak terkait langsung dengan isu yang sedang diperdebatkan.

Pertanyaannya jadi lebih mudah: apakah semua informasi itu benar-benar harus diketahui orang lain?

Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi atau disebut UU PDP menjelaskan bahwa data pribadi adalah informasi mengenai seseorang yang bisa dikenali secara langsung maupun tidak langsung. UU tersebut juga menyebutkan bahwa pengungkapan data pribadi merupakan bagian dari proses pemrosesan data pribadi.

Artinya, ketika seseorang mengirim pesan di grup umum, masalahnya tidak cuma tentang apa yang tertulis dalam percakapan itu. Kita juga harus memeriksa apakah ada data pribadi orang lain yang ikut tersebut dalam hal tersebut.

Membela Diri Tetap Ada Batasnya

Menurut saya, seseorang memang bisa punya alasan yang masuk akal untuk menjelaskan dirinya sendiri ketika dianggap bersalah meskipun hal itu tidak benar. Tidak semua orang yang membagikan screenshot chat itu bertujuan untuk mengganggu atau merugikan orang lain.

Ada situasi di mana seseorang merasa harus menunjukkan bagian tertentu dari percakapan agar orang lain bisa memahami arti sebenarnya dari apa yang diucapkan.

Tapi bertahan diri tidak selalu berarti harus menceritakan semua yang dibicarakan.

Misalnya, seseorang cukup menunjukkan satu bagian dari percakapan untuk membuktikan bahwa ia sudah mengembalikan uangnya. Tidak berarti semua percakapan dari awal harus dipublikasikan. Percakapan mengenai keluarga, hubungan antarmanusia, pekerjaan, atau topik lain yang tidak terkait dengan masalah tersebut bisa saja dihentikan.

Cara-cara sederhana seperti memotong gambar atau menyembunyikan nama, foto profil, nomor telepon, serta informasi pribadi lainnya bisa membantu mengurangi penyebaran informasi yang tidak penting.

Ini sesuai dengan prinsip dalam Undang-Undang PDP yang menyatakan bahwa pengolahan data pribadi harus dibatasi, sesuai dengan tujuan tertentu, melindungi hak orang yang datanya diperlakukan, memastikan keamanan, serta dapat dipertanggungjawabkan.

Jadi, soalnya tidak hanya tentang “boleh atau tidak boleh upload screenshot chat?”, tetapi juga seberapa banyak informasi yang kita tunjukkan itu benar-benar diperlukan untuk tujuan tersebut.

Membuktikan Kebenaran Tidak Harus Membuka Semuanya

Ada perbedaan antara menunjukkan bahwa sesuatu terjadi dengan membuat seluruh percakapan diketahui oleh orang banyak.

Ketika dua orang terjadi perbedaan pendapat, kadang-kadang salah satu pihak merasa perlu memiliki bukti untuk menjelaskan situasi yang sebenarnya terjadi. Chat bisa disimpan dan digunakan sebagai dokumentasi. Jika masalahnya semakin memburuk menjadi perdebatan yang lebih serius, bukti tersebut juga bisa dipakai lewat cara yang benar.

Namun, memilki bukti tidak berarti semua bukti itu harus langsung disampaikan kepada masyarakat.

Kalimatnya secara sederhana adalah: menyimpan bukti itu tidak sama dengan membagikan bukti.

Sebaliknya, ketika seseorang memiliki bukti yang cukup kuat, ia seharusnya bisa lebih pilih-pilih dalam menentukan bagian mana yang benar-benar perlu ditampilkan.

Karena kalau sebuah screenshot masuk ke media sosial, kita tidak lagi bisa sepenuhnya mengontrol ke mana informasi itu akan sampai. Orang lain bisa menyimpan, membagikan kembali, atau mengambil tangkapan layar lagi.

Yang awalnya hanya ingin berbagi informasi kepada beberapa orang bisa jadi dilihat oleh banyak orang yang lebih luas.

Bagaimana Jika Tujuannya Hanya Ingin Klarifikasi?

Ini mungkin menjadi bagian yang paling sulit.

Bagaimana jika seseorang merasa sangat teraniaya dan hanya ingin memperbaiki nama baiknya?

Klarifikasi tentu bisa dilakukan. Namun, cara melakukan klarifikasi juga perlu dipikirkan.

Misalnya, alih-alih mengunggah percakapan yang panjang, seseorang bisa memilih bagian-bagian yang benar-benar relevan dengan topik yang dibahas. Data yang tidak relevan dapat ditutup. Nama dan identitas orang lain bisa disembunyikan jika memang tidak perlu diketahui oleh orang banyak.

Dengan cara itu, tujuan untuk menjelaskan sesuatu tetap bisa tercapai tanpa perlu mengungkap seluruh informasi pribadi yang terdapat dalam percakapan tersebut.

Ini penting karena Undang-Undang PDP melarang seseorang secara ilegal mengungkapkan data pribadi yang bukan miliknya. Pelanggaran aturan tersebut juga bisa dihukum, namun penerapan hukumannya bergantung pada unsur "melawan hukum" serta situasi pengolahan data yang diatur dalam UU PDP.

Maka itu, tidak tepat jika setiap postingan screenshot chat langsung dianggap sebagai tindakan melanggar hukum. Konteksnya tetap harus diperhatikan, termasuk informasi apa yang disebarluaskan, untuk maksud apa, serta cara data pribadi orang lain diolah.

Tidak Semua Pertengkaran Harus Menjadi Konsumsi Publik

Media sosial memang membuat batas antara kehidupan pribadi dan dunia publik semakin kabur.

Ketika sedang emosional, memposting screenshot percakapan mungkin terasa seperti cara paling cepat untuk mencari dukungan dari orang lain. Apalagi ketika banyak orang mulai memberikan komentar dan ikut menilai siapa yang benar dan siapa yang salah.

Namun, sering kali ada hal yang terlewat: orang-orang yang terlihat dalam screenshot tersebut juga memiliki kehidupan pribadi mereka sendiri.

Kita mungkin hanya ingin menampilkan satu percakapan, tetapi tanpa sadar jadi menunjukkan nama lengkap, foto, nomor telepon, cerita keluarga, masalah pekerjaan, atau informasi lain yang sebenarnya tidak dimaksudkan untuk dibagikan ke publik.

Oleh karena itu, sebelum menekan tombol "post", sebaiknya tanyakan pada diri sendiri:

"Jika saya sembunyikan nama orang tersebut, menyembunyikan data pribadinya, dan hanya menampilkan bagian yang benar-benar diperlukan, apakah tujuan saya masih bisa tercapai?"

Jika jawabannya ya, mungkin memang tidak ada alasan untuk membuka semuanya.

Akhirnya, menjaga privasi tidak berarti membiarkan kesalahan orang lain terus berlanjut tanpa tindakan. Kita masih memiliki hak untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan mempertahankan diri ketika diperlukan.

Namun, hak untuk membela diri tidak selalu berarti memiliki hak untuk mengungkapkan seluruh kehidupan pribadi orang lain.

Karena ketika percakapan pribadi dimasukkan ke media sosial, informasi yang beredar tidak hanya berupa beberapa baris teks di layar lagi. Ada identitas, cerita, dan bagian dari kehidupan seseorang yang bisa ikut terbawa ke ruang publik.

Jadi, sebelum memposting screenshot chat saat sedang bertengkar, mungkin hal yang perlu dipikirkan bukan hanya "siapa yang benar", tetapi juga "seberapa banyak informasi yang sebenarnya perlu diketahui orang lain."