Konten dari Pengguna

Penokohan dan Alur Terbuka dalam Kawin-Mawin Suryakanta

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Najwa Alisti Ramadina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Andy Lee/Pexels (https://www.pexels.com/photo/moody-portrait-of-man-with-glasses-and-mirror-reflection-34219365/)
zoom-in-whitePerbesar
Andy Lee/Pexels (https://www.pexels.com/photo/moody-portrait-of-man-with-glasses-and-mirror-reflection-34219365/)

Cerpen "Kawin-Mawin Suryakanta" karya Sasti Gotama, yang dimuat di harian Kompas, menghadirkan sosok tokoh yang kompleks lewat cerita yang singkat. Dua unsur yang menjadi kekuatan utama cerpen ini adalah penokohan tokoh utamanya dan alur yang sengaja dibiarkan terbuka tanpa penyelesaian. Burhan Nurgiyantoro dalam Teori Pengkajian Fiksi (2018) menjelaskan bahwa penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita, sementara alur adalah cerminan perjalanan tingkah laku tokoh dalam bertindak, berpikir, dan bersikap menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Kedua unsur inilah yang akan menjadi fokus pembahasan berikut.

Penokohan: Suryakanta yang Terasing dari Dirinya Sendiri

Tokoh utama cerpen ini, Suryakanta, dibangun bukan lewat penjelasan panjang tentang wataknya, melainkan lewat tindakan-tindakan kecil yang menyiratkan luka batin yang dalam. Nurgiyantoro (2018) menyebutkan bahwa penokohan dapat dibangun secara tidak langsung, yaitu melalui tindakan, pikiran, dan pandangan tokoh terhadap dirinya dan dunia sekitarnya dan cerpen ini adalah contoh nyata dari teknik tersebut.

Salah satu penggambaran penokohan paling kuat muncul lewat kalimat singkat berikut:

"Ia punya cermin, dan ia pun tak suka memandang wajahnya di sana."

Kalimat ini tidak menjelaskan secara langsung apa yang salah dengan Suryakanta, tetapi memperlihatkan bahwa ia telah kehilangan kenyamanan untuk menerima dirinya sendiri. Penokohan semacam ini disebut penokohan tidak langsung, di mana pembaca diminta menyimpulkan sendiri kondisi batin tokoh dari petunjuk-petunjuk kecil yang diberikan pengarang.

Sebagai pembanding, cerpen ini turut menghadirkan tokoh Pak Sardi, sosok yang hidup dengan rutinitas yang diterima masyarakat tanpa pertanyaan. Kehadiran Pak Sardi berfungsi sebagai kontras penokohan: ia mewakili individu yang "diterima", sedangkan Suryakanta mewakili individu yang tersisih. Melalui kontras ini, Sasti Gotama berhasil membangun penokohan Suryakanta secara lebih tajam bukan lewat penjelasan langsung, melainkan lewat posisinya yang berbeda dari orang-orang di sekitarnya.

Alur: Ketegangan yang Dibiarkan Tak Terselesaikan

Cerpen ini menggunakan alur maju yang tersusun rapi mulai dari pengenalan hingga klimaks. Nurgiyantoro (2018) menekankan bahwa alur adalah gambaran perjalanan tokoh dalam menghadapi problematik kehidupannya, dan pada cerpen ini, seluruh problematik itu berpusat pada satu keinginan sederhana Suryakanta: memamerkan cintanya secara terbuka, sebagaimana pasangan lain melakukannya.

Konflik dibangun secara bertahap. Cerpen dibuka dengan Suryakanta yang menyaksikan sepasang pengantin dan diam-diam menginginkan posisi yang sama. Konflik kemudian berkembang ketika keinginan itu berbenturan dengan kenyataan bahwa masyarakat tidak menyediakan ruang baginya. Ketegangan ini terus meningkat hingga mencapai titik puncak, yaitu ketika Suryakanta tidak hanya ditolak oleh masyarakat, tetapi juga mulai kehilangan penerimaan terhadap dirinya sendiri, sebagaimana tergambar lewat keengganannya menatap cermin.

Yang menarik dari alur cerpen ini adalah pilihan pengarang untuk tidak memberikan penyelesaian di bagian akhir. Cerpen ditutup tanpa resolusi konflik batin Suryakanta dibiarkan menggantung, tidak dijawab, dan tidak diselesaikan. Pilihan alur terbuka semacam ini bukan kelalaian, melainkan strategi naratif yang disengaja. Dengan tidak memberikan penyelesaian, pengarang seolah menegaskan bahwa persoalan yang dihadapi Suryakanta adalah persoalan yang nyata dan berkelanjutan, tidak dapat diselesaikan hanya dalam satu cerita pendek.

Keterkaitan Penokohan dan Alur

Penokohan dan alur dalam cerpen ini saling memperkuat satu sama lain. Penokohan Suryakanta yang dibangun secara tidak langsung membuat pembaca perlu mengikuti keseluruhan alur untuk benar-benar memahami kedalaman batinnya. Sebaliknya, alur yang dibiarkan terbuka di bagian akhir hanya akan terasa bermakna jika pembaca telah memahami penokohan Suryakanta sebagai individu yang terus-menerus berjuang dengan penerimaan dirinya. Nurgiyantoro (2018) menyatakan bahwa unsur-unsur intrinsik saling membangun cerita secara bersamaan, dan hubungan erat antara penokohan dan alur pada cerpen ini menjadi salah satu bukti nyata dari prinsip tersebut.

Penutup

Melalui penokohan yang dibangun secara halus dan alur yang sengaja dibiarkan tanpa penyelesaian, cerpen "Kawin-Mawin Suryakanta" berhasil menghadirkan kisah yang sederhana namun membekas. Suryakanta bukan sekadar tokoh fiksi, melainkan representasi dari setiap individu yang pernah merasa tidak diterima karena berbeda. Alur yang terbuka pada akhirnya menjadi pengingat bahwa persoalan penerimaan diri dan penerimaan sosial bukanlah sesuatu yang selesai begitu saja baik dalam cerita maupun dalam kehidupan nyata.

Daftar Pustaka

  • Gotama, Sasti. Kawin-Mawin Suryakanta. Kompas.

  • Nurgiyantoro, Burhan. (2018). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.