Simbol dan Ironi dalam "Ini Memang Bukan tentang Kunang-kunang"

Mahasiswa Pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Najwa Alisti Ramadina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada judul yang seolah menyangkal isinya sendiri, dan justru dari penyangkalan itulah makna sebuah cerita muncul. Begitulah yang terjadi pada cerpen "Ini Memang Bukan tentang Kunang-kunang" karya Rizqi Turama yang dimuat di Kompas.id. Sepintas, judul ini terasa ganjil karena kunang-kunang justru menjadi objek yang paling sering disebut sepanjang cerita. Namun, di titik itulah letak kecerdasan penulis: ia sedang bermain dengan simbol dan ironi, dua dari lima sarana sastra yang menurut Robert Stanton dalam bukunya Teori Fiksi terdiri atas judul, sudut pandang, gaya dan nada, simbolisme, serta ironi. Sarana-sarana ini adalah metode yang dipilih pengarang untuk menyusun fakta-fakta cerita agar tema tersampaikan secara hidup, tanpa harus diucapkan gamblang oleh narator.
Judul sebagai Petunjuk Arah Makna
Bagi Stanton, judul bukan sekadar label, melainkan sarana sastra yang kerap menjadi petunjuk awal ke mana arah makna cerita akan dibawa.
Sebuah judul yang menyangkal isinya sendiri, padahal isinya justru bicara panjang lebar soal hal yang disangkal itu.
Judul "Ini Memang Bukan tentang Kunang-kunang" jelas bermain dengan penyangkalan semacam ini. Sepanjang cerita, kunang-kunang justru jadi peristiwa yang menggerakkan seluruh alur: dari niat sang tokoh "aku" mengejar hewan itu ke rumah temannya, sampai pertengkarannya dengan sang anak soal lagu yang diputar selama perjalanan menuju sana. Penyangkalan dalam judul ini sebenarnya sedang berbisik pada pembaca bahwa cerita ini bukan benar-benar tentang serangga bercahaya, melainkan tentang sesuatu yang lebih besar: relasi ayah dan anak lintas generasi yang justru direkatkan oleh momen kecil itu.
2. Simbolisme: Cahaya Kecil Melawan Ego Besar
Simbolisme, dalam kerangka Stanton, adalah sarana yang menghubungkan fakta cerita dengan makna yang lebih dalam lewat suatu benda atau peristiwa yang mewakili gagasan abstrak.
Kegaduhan yang panjang di dalam mobil, dan keheningan hangat yang datang begitu saja begitu cahaya kecil di sawah mulai berkelap-kelip.
Sinopsis cerpen ini sendiri sudah menegaskan simbol utamanya: cahaya kecil yang mampu meredakan ego besar. Sepanjang cerita, kegaduhan hadir lewat perdebatan soal musik antara ayah dan anak di dalam mobil, sampai keduanya sama-sama memilih diam karena kesal. Namun begitu keduanya sampai di sawah dan cahaya kunang-kunang mulai berkelap-kelip di antara batang padi, keributan itu lenyap begitu saja, digantikan keheningan yang justru terasa hangat. Kunang-kunang, dengan cahayanya yang kecil dan sunyi, menjadi simbol dari hal-hal sederhana yang justru sanggup meredam sesuatu yang jauh lebih besar dan gaduh, yakni ego seorang ayah yang merasa terganggu oleh dunia anaknya sendiri.
Ironi: Perjalanan Jauh untuk Sesuatu yang Dekat
Elemen yang menjadi jantung cerpen ini adalah ironi, sarana sastra yang bekerja dengan membalikkan ekspektasi pembaca sehingga makna cerita menjadi lebih tajam.
Menempuh perjalanan jauh dan melelahkan demi sesuatu yang, beberapa bulan kemudian, ternyata muncul begitu saja di kafe dekat rumah.
Setelah menempuh perjalanan jauh dan melelahkan, penuh kemacetan dan pertengkaran kecil demi menyaksikan kunang-kunang di sawah dekat rumah temannya, sang tokoh "aku" justru menemukan hewan yang sama muncul begitu saja di sebuah kafe dekat rumahnya sendiri, beberapa bulan kemudian. Penulis menuliskan kekonyolan ini secara langsung lewat batin sang tokoh yang merasa telah mencari sesuatu jauh-jauh padahal ada di depan mata. Bagi Stanton, ironi semacam ini adalah cara pengarang menyampaikan tema tanpa berkhotbah, yaitu bahwa keajaban atau kebahagiaan kecil yang dicari manusia sering kali sudah berada di dekatnya, hanya belum disadari.
Gaya dan Nada: Refrain yang Menjadi Nada Batin
Sarana sastra terakhir yang menonjol adalah gaya dan nada, yang di cerpen ini terwujud lewat kalimat yang diulang di dua titik krusial cerita. Setelah bertengkar dengan anaknya soal siapa yang berhak menentukan lagu di mobil, sang tokoh bertanya-tanya dalam hati, "Semoga aku bukan bagian dari orang-orang tua yang menyebalkan." Kalimat yang sama muncul kembali di adegan penutup, saat ia memeluk anaknya sambil menyaksikan kunang-kunang di kafe. Pengulangan ini menjadi semacam nada batin yang menaungi keseluruhan cerita, menyampaikan kegelisahan universal seorang orang tua yang takut menjadi versi menyebalkan dari generasi sebelumnya, tanpa perlu menceramahi pembaca secara langsung.
Penutup
Lewat judul yang menyangkal dirinya sendiri, simbol cahaya kecil, ironi jarak yang ternyata dekat, serta nada batin yang berulang, Rizqi Turama menunjukkan bahwa keempat sarana sastra ini bisa bekerja bersama membangun kekuatan sebuah cerpen tanpa perlu narasi berlebihan. Kunang-kunang dalam cerita ini memang bukan sekadar kunang-kunang; ia adalah representasi dari cahaya kecil yang, dengan caranya sendiri, mampu meredam kebisingan dua generasi yang sedang belajar untuk saling memahami.
Daftar Pustaka
Stanton, Robert. (2007). Teori Fiksi Robert Stanton (terj. Sugihastuti & Rossi Abi Al Irsyad). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Turama, Rizqi. (2026). "Ini Memang Bukan tentang Kunang-kunang". Kompas.id, Urbana, 28 Mei 2026.
