Minyak, Konflik, dan Yuan: Saat Dunia Mulai Lepas dari Dolar

Awang Riyadi adalah penulis independen yang menaruh perhatian pada isu geopolitik, energi, ekonomi, dan strategi pembangunan.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Awang Riyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan harga kebutuhan melonjak bukan karena krisis global, tetapi karena satu mata uang tiba-tiba sulit diakses—dan kita tidak punya kendali atasnya. Itulah yang terjadi di Iran pada awal 2026. Nilai tukar rial runtuh hingga menembus lebih dari 1,4 juta per dolar, inflasi bertahan di kisaran 40 persen, dan harga pangan melonjak tajam dalam waktu singkat hingga memicu gelombang protes di berbagai kota. Dalam hitungan bulan, tekanan ekonomi berubah menjadi krisis politik. Artinya, stabilitas sebuah negara hari ini bisa runtuh bukan karena perang, tetapi karena akses terhadap dolar dipersempit—tanpa satu peluru pun ditembakkan.
Fenomena ini bukan kasus tunggal. Di Rusia, lebih dari 300 miliar dolar cadangan devisa dibekukan pasca invasi Ukraina, sementara di Venezuela, pembatasan transaksi dolar memperdalam krisis ekonomi domestik. Polanya konsisten: tekanan tidak lagi datang dari kekuatan militer, melainkan dari sistem keuangan. Ketika dolar menjadi pusat sistem global, mengendalikan akses terhadapnya berarti memiliki kemampuan untuk menekan ekonomi negara lain dari jarak jauh. Masalah ini bisa terjadi kapan saja kepada negara mana pun—dan dampaknya tidak pernah kecil.
Dolar sebagai Senjata Baru
Selama puluhan tahun, dominasi dolar berdiri di atas dua hal: kekuatan ekonomi dan kepercayaan global. Sekitar 60 persen cadangan devisa dunia disimpan dalam dolar, dan lebih dari 80 persen transaksi internasional melibatkan mata uang ini, terutama dalam perdagangan energi yang menjadi tulang punggung sistem global. Struktur ini memang menciptakan efisiensi, tetapi pada saat yang sama juga membangun ketergantungan yang sangat dalam. Ketika satu mata uang mengendalikan sebagian besar arus ekonomi dunia, maka kekuatan itu tidak pernah sepenuhnya netral.
Masalahnya muncul ketika kekuatan itu mulai digunakan sebagai alat tekanan.
Semakin sering dolar digunakan sebagai alat tekanan—melalui sanksi, pembekuan aset, atau pembatasan akses—semakin besar alasan bagi negara lain untuk menjauh darinya. Pernyataan Marco Rubio mencerminkan realitas tersebut tanpa banyak basa-basi: suatu saat, akan semakin banyak negara bertransaksi di luar dolar hingga kemampuan menjatuhkan sanksi tidak lagi seefektif sekarang. Ini bukan sekadar prediksi, melainkan pengakuan bahwa kekuatan dolar memiliki efek balik. Semakin kuat dolar digunakan, semakin besar alasan bagi dunia untuk meninggalkannya.
Sejarah sebenarnya sudah memberi peringatan. Muammar Gaddafi dan Saddam Hussein pernah mencoba keluar dari dominasi dolar, dan keduanya berakhir sama: runtuh. Dalam sistem yang sangat terpusat, upaya individual untuk menantang dolar hampir selalu gagal karena skalanya terlalu kecil untuk melawan struktur global yang sudah mapan. Namun yang terjadi hari ini tidak lagi berbentuk perlawanan tunggal, melainkan pergeseran kolektif yang jauh lebih sulit dihentikan.
Saat Dunia Mulai Mencari Alternatif
Perubahan itu kini mulai terlihat dalam keputusan nyata, terutama di kawasan yang selama ini menjadi jantung perdagangan energi. Di tengah meningkatnya ketegangan akibat konflik Iran, Uni Emirat Arab justru mengambil langkah yang mencerminkan dilema dunia hari ini. Di satu sisi, mereka mencari dukungan likuiditas dolar dari Amerika Serikat untuk menjaga stabilitas. Di sisi lain, muncul sinyal untuk membuka penggunaan yuan dalam perdagangan minyak. Ini bukan kontradiksi, melainkan strategi: tetap memanfaatkan dolar, tetapi tidak lagi bergantung sepenuhnya padanya.
Krisis di Timur Tengah mempercepat sesuatu yang dulu dianggap wacana: petroyuan. Ketika risiko energi meningkat, negara mulai mengurangi ketergantungan pada dolar. Yuan pun bergerak dari alternatif menjadi pilihan yang semakin realistis dalam perdagangan minyak. Pada saat yang sama, negara-negara Teluk juga mulai melihat Tiongkok bukan sekadar mitra dagang, tetapi sebagai penyeimbang strategis di tengah ketidakpastian peran Amerika Serikat.
Pergeseran serupa terlihat di berbagai belahan dunia. Tiongkok dan Brasil mulai melakukan perdagangan langsung tanpa dolar, sementara Rusia dan Tiongkok telah menyelesaikan sekitar 99,1 persen transaksi mereka menggunakan rubel dan yuan. India bahkan mulai membayar sebagian impor minyak dari Iran menggunakan yuan dalam skema tertentu. Jika dilihat terpisah, langkah-langkah ini tampak kecil. Namun jika dilihat sebagai satu arah, maknanya jauh lebih besar. Ini bukan lagi sinyal—ini pergeseran yang sudah berjalan. Dan pergeseran seperti ini jarang berjalan mundur.
Di saat yang sama, fondasi sistem alternatif juga sedang dibangun. Negara-negara dalam BRICS menguasai sekitar 50 persen produksi emas global dan secara bertahap meningkatkan cadangan emas untuk memperkuat posisi mata uang mereka. Mereka juga mengembangkan sistem pembayaran baru seperti BRICS Pay serta menjajaki integrasi mata uang digital bank sentral untuk mendukung transaksi lintas negara. Bahkan New Development Bank menargetkan sekitar 30 persen pembiayaannya menggunakan mata uang lokal. Dan ini tidak sekadar wacana geopolitik, melainkan pembangunan infrastruktur keuangan baru yang pelan tapi pasti mengurangi dominasi dolar.
Pergeseran yang Sulit Dibalik
Dorongan ini bukan semata-mata politis, melainkan rasional secara ekonomi. Mengurangi ketergantungan pada dolar berarti mengurangi risiko sanksi, menekan biaya transaksi, dan memberi ruang kebijakan yang lebih luas bagi negara berkembang. Namun realitasnya tetap kompleks. Dolar masih dominan karena likuiditas dan stabilitasnya belum sepenuhnya tergantikan. Dunia tidak sedang meninggalkan dolar secara tiba-tiba, tetapi sedang membangun opsi di sekitarnya.
Di titik inilah analisis Robert Wade menjadi penting. Dominasi dolar selama ini bertumpu pada kepercayaan bahwa sistem tersebut relatif netral. Ketika dolar semakin sering digunakan sebagai alat tekanan, kepercayaan itu mulai terkikis. Dalam jangka pendek, dolar tetap kuat. Namun dalam jangka panjang, erosi kepercayaan akan mengubah arah sistem global.
Indonesia: Ikut atau Menentukan Arah
Lalu, di mana posisi Indonesia?
Masalahnya bukan kita tidak punya kekuatan, tetapi kita belum menggunakannya sebagai strategi. Indonesia berada di kawasan ASEAN yang mulai memperluas penggunaan mata uang lokal, memiliki sumber daya strategis seperti nikel dan batu bara yang sangat dibutuhkan dunia, dan kini berada dalam orbit BRICS yang mendorong sistem alternatif. Ini bukan posisi kecil.
Namun sampai hari ini, kekuatan itu belum diterjemahkan menjadi leverage. Transaksi komoditas strategis masih didominasi dolar, devisa hasil ekspor banyak mengalir ke luar negeri, dan posisi sebagai pemasok global belum digunakan untuk menegosiasikan sistem pembayaran yang lebih menguntungkan. Jika kondisi ini dibiarkan, Indonesia akan tetap berada dalam posisi yang sama: ikut dalam sistem, tetapi tidak pernah benar-benar menentukan arah.
Padahal ruang untuk mengambil posisi itu ada. Mensyaratkan sebagian transaksi komoditas menggunakan rupiah atau skema mata uang lokal, memperkuat penempatan devisa hasil ekspor di dalam negeri, serta memperluas kerja sama pembayaran regional bukan lagi sekadar opsi kebijakan, melainkan langkah strategis untuk mengurangi kerentanan. Ini bukan soal melawan sistem global, tetapi soal memastikan Indonesia tidak sepenuhnya bergantung pada satu pusat kekuatan.
Selama ketergantungan terhadap dolar tetap tinggi, setiap gejolak global akan terus berujung pada tekanan domestik—pelemahan rupiah, kenaikan subsidi energi, dan lonjakan harga kebutuhan. Artinya, Indonesia akan terus menjadi pihak yang menanggung dampak tanpa memiliki kendali atas sistem yang membentuknya.
Jika dunia mulai mengurangi ketergantungan terhadap dolar, maka ini bukan ancaman bagi Indonesia, melainkan peluang strategis. Namun peluang itu hanya akan berarti jika diikuti dengan keberanian untuk mengambil posisi. Indonesia bukan hanya bisa ikut—Indonesia bisa memaksa arah. Jika tidak digunakan sekarang, posisi ini akan hilang ketika sistem baru sudah terbentuk tanpa Indonesia.
Pada akhirnya, yang sedang berubah bukan hanya sistem keuangan global, tetapi keseimbangan kekuasaan di dalamnya. Dolar mungkin tidak akan runtuh dalam waktu dekat, tetapi dominasinya tidak lagi mutlak.
Dalam dunia seperti ini, yang berbahaya bukanlah dolar. Yang berbahaya adalah ketika kita masih bergantung pada sesuatu yang mulai ditinggalkan oleh dunia—tanpa pernah benar-benar bersiap untuk hidup tanpanya—hingga pilihan itu datang tanpa bisa ditolak.
