Konten dari Pengguna

Perkenalkan Eliud Kipchoge, Manusia yang Bisa 'Terbang'

Award News

Award News

oleh : pandangan Jogja

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Award News tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkenalkan Eliud Kipchoge, Manusia yang Bisa 'Terbang'
zoom-in-whitePerbesar

(Eliud Kipchoge. Sumber foto : IAAF)

Eliud Kipchoge, pelari maraton asal Kenya menorehkan rekor baru di dunia dalam bidang lari maraton. Dia mampu menempuh jarak 42.195 kilometer hanya dalam waktu 2:01:09, lebih cepat 1 menit dan 18 detik dari rekor lari sebelumnya pada 2014 ole Dennis Kimetto, pelari maraton lainnya asal Kenya dengan waktu tempuh 2:02:57. Dengan catatan ini Eliud menjadi pelari maraton tercepat sepanjang sejarah.

Rekor tersebut ia torehkan pada ajang Berlin Marathon 16 Setember lalu. Dia finish lebih cepat empat menit empat puluh tiga detik dari posisi kedua, pelari Kenya Amos Kipturo. Wilson Kipsang yang pernah menjadi pemilik rekor dunia finish di posisi ketiga. Sejak 2003 lalu, Berlin Marathon telah menorehkan rekor dunia selama enam kali.

Pada siang 16 September itu, suhu Berlin 14 derajat celcius. Di jarak-jarak permulaan, Eliud berada di belakang tiga pelari lainnya. Setelah 15 kilometer berlalu, dua pelari yang berada di depannya tidak bisa melanjutkan pertandingan. Di lintasan 25 kilometer Eliud memimpin. Sepanjang 17 kilometer tersisa Eliud berlari sendiri di depan.

Siapa pun yang menyaksikan Eliud berlari siang itu tentu menyadari bahwa Eliud sepertinya tidak berlari, melainkan lebih terlihat sebagai orang yang sedang terbang. Banyangkan, 4 kilometer terakhir dari garis finish hanya dia tempuh dalam waktu 6 menit 8 detik. Ia merupakan pelari tercepat dari semua cabang lari maraton sepanjang sejarah. Ia adalah Usain Bolt yang berlari maraton.

Apa yang ia raih kemarin merupakan rangkaian kemenangan ketujuh yang ia torehkan dalam tujuh kali pertandingannya dari 2014. Ketika itu Eliud menjuarai Chicago Marathon, lanjut pada 2015 dengan memenangkan dua lomba sekaligus yakni London Marathon dan Berlin Marathon.

Pada 2016 ia menjuarai London Marathon dan Berlin Marathon di tahun selanjutnya. Tahun ini, selain di Berlin, ia juga telah menjuarai London Marathon sebelumnya. Dari sekian kejuaraan itu, Eliud mengalami peningkatan dari turnamen ke turnamen. Sebagai perbandingan, pada turnamen yang sama tahun lalu, Eliud finis pertama dengan catatan waktu 2: 03: 32.

“Setiap memasuki jalur maraton, saya selalu berambisi untuk menorehkan rekor dunia. Setiap berlari saya selalu termotifasi,” kata Eliud dalam wawancara setelah pertandingan, sebagaimana dikutip dari Runner’s World. “Latihan di Monza kemarin menyadarkan saya bahwa tak ada yang membatasi saya untuk berlari secepat-cepatnya. Itulah rencana saya sebelum memasuki lintasan. Namun yang terpenting adalah latihan, yakinlah selalu pada efek latihan yang akan kau lihat ketika bertanding.”

Teknologi Sepatu

Perkenalkan Eliud Kipchoge, Manusia yang Bisa 'Terbang' (1)
zoom-in-whitePerbesar

Sebuah laporan yang begitu menggugah ditulis oleh The Newyork Times, lelaki yang kini berusia 33 tahun tersebut pada masa kecilnya selalu berlari-lari kecil menuju sekolah. Tak ada kendaraan bagi anak kecil seusia Eliud di Kenya masa itu.

Ia anak bungsu dari empat bersaudara, tumbuh di Kapsisiywa, sebuah desa kecil di Nandi County. Ibunya seorang guru, dan ayahnya telah meninggal ketika ia masih bayi. “Saya mengetahui ayah saya hanya lewat fotonya,” tuturnya suatu kali.

Setelah menyelesaikan sekolah dasar, Eliud berhenti dan menjadi penjual susu di pasar yang dikumpulkannya dari para tetangganya. Dalam kerjanya itu ia terus berlari dengan lebih serius terutama setelah kedatangan Patrick Sang di Kapsisiywa, seorang peraih medali perak Olympic yang kemudian menginisiasi berbagai kejuaraan lari di desa tersebut. Sang pertama kali bertemu dengan Eliud pada 2001, ketika Eliud masih berumur 16 tahun.

Eliud mengikuti lomba yang diadakan Sang dan menang. Sang mulai tertarik padanya dan memberikannya Timex setelah Sang bertanya kepada Eliud berapa kecepatan yang biasa ia tempuh dan Eliud menjawab tak pernah memperhatikan waktu.

Begitulah Eliud memulai segalanya. Pengalaman internasional pertamanya terjadi di Stade de France Paris pada 2003. Ia bertanding di lintasan 5 ribu meter melawan Hicham El Guerrouj, pelari asal Maroko yang telah menorehkan rekor dunia di lintasan tersebut. Eliud masih berumur 18 tahun ketika ia mengalahkan Hicham. Ia lalu mengikuti kejuaraan Olympic dan mendapatkan medali perunggu di tahun 2004 dan perak di tahun 2008.

Eliud memenangi lintasan maraton pertama kali di Hamburg pada 2013 lalu dengan catatan waktu 2: 05: 30. Beberapa bulan kemudian ia finis di belakang Wilson Kipsang, pelari asal Kenya lainnya. Setelah itu ia memenangkan seluruh pertandingan yang ia ikuti, menang delapan kali dari delapan pertandingan, termasuk medali emas di Olympic 2016.

Ia berlari dengan sangat efisien dengan bahu yang tidak terlalu terbuka, suatu ciri khusus pelari-pelari dunia. Dan langkahnya begitu lebar. “Ketika saya lari, saya merasa bahagia. Pikiran saya bebas. Lantas saya akan tertidur dengan dengan nyenyak dan menikmati hidup,” ucapnya.

Raihan rekor dunia dalam cabang lari maraton mengalami signifikansi dan lonjakan yang cepat. Penulis situs Lets Run, Jonathan Gault melaporkan, dari Desember 1981 hingga September 2003, selama 22 tahun tersebut rekor dunia hanya bertambah 2: 40. Sedangkan antara September 2003 hingga raihan Eliud Kipchoge bertambah 3: 59.

Gault berpendapat, salah satu faktornya adalah pencarian bibit-bibit muda. Dua dasawarsa belakangan, gelontoran dana untuk cabang atletik ini mengalami penaikan. Sehingga orang-orang kemudian bisa dengan leluasa berkeliling dunia, mencari bakat-bakat muda di pelosok negeri. Terutama di Afrika bagian timur yang dalam 15 tahun belakangan menjadi penguasa bidang maraton. Bagaimana Patrick Sang menemukan talenta dunia Eliud Kipchoge adalah contohnya.

Bagaimana dengan sepatu? Lets Run mengindikasikan demikian. Dana yang besar itu pula berlaku dalam penemuan dan penciptaan sepatu dengan teknologi yang tinggi. Hal ini terjadi pada semua cabang olahraga. Eliud memakai Nike Zoom Vaporlys setiap memenangkan pertandingan dengan catatan waktu cepat.

2018 di Berlin, 2016 di London, 2017 di Berlin. Namun ketika berada di Berlin pada 2015 dengan catatan waktu terburuknya selama 8 kali pertandingan, Eliud memakai sepatu dengan kualitas yang lebih rendah.

Vaporlys yang dipakai Eliud hari itu baru dimiliki oleh orang-orang tertentu dan dipasarkan pada 2017 di kalangan atlit dunia (Eliud mulai memakai prototipenya pada 2016). Saintis Ross Tucker mengatakan, sepatu tersebut yang lebih ringan dan tak membuat kaki sakit, memungkinkan seseorang berlari lebih cepat 1 persen dibanding sepatu lainnya.

Akan ada sepatu-sepatu lain yang diproduksi dengan teknologi yang lebih tinggi. Apa yang dicapai Eliud dan julukannya sebagai manusia terbang mungkin akan menjadi awal dari lahirnya manusia-manusia terbang lainnya, dengan rumus : talenta+latihan+dana besar+ teknologi yang semakin canggih. (Muhammad Aswar/YK-1)