Konten dari Pengguna

KDRT Dalam Rumah Tangga? Begini Cara Menghindari

Muhammad Anwar Mulyaman

Muhammad Anwar Mulyaman

Mahasiswa UIN Jakarta 2021

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Anwar Mulyaman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

PLKH Peradilan Pidana Muhammad Anwar Mulyaman, By:Dok pribadi
zoom-in-whitePerbesar
PLKH Peradilan Pidana Muhammad Anwar Mulyaman, By:Dok pribadi

Pertikaian dalam rumah tangga suatu hal yang mustahil tidak ada dalam kehidupan rumah tangga, akibat dari perbedaan pendapat, masalah yang berhubungan dengan ekonomi keluarga dan permasalahan lainnya. Dalam menyelesaikan permasalahan seringkali tidak berakhir pada penyelesaian yang baik, bahkan berakhir dengan kekerasan. Maka dari itu, dalam pernikahan harus memiliki pondasi yang kuat, tidak hanya kesiapan pada kematangan materil saja, tetapi juga dibutuhkan kematangan secara emosional.

Dalam syariat Islam, Rasulullah SAW pernah memberikan contoh saat menghadapi pertikaian dengan istrinya dalam konteks permintaan para istri yang menuntut untuk diberikan nafkah lebih. Sebagaimana di jelaskan dalam kitab an-Nafaqat, bab: Nafkah untuk istri-istri, No. Hadis: 5191:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: اعْتَزَلَ النَّبِيُّ ﷺ نِسَاءَهُ شَهْرًا، فِي غُرْفَةٍ لَهُ

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ menjauh dari istri-istrinya selama sebulan di sebuah ruangan (loteng). (HR. Bukhari)

Makna dalam hadits diatas bukan untuk mengajarkan manusia menghindar dari masalah, tetapi untuk memberikan ruang ketenangan agar menghasilkan keputusan yang baik. Jika seseorang pada saat menyelesaikan pertikaian dengan tensi tinggi dapat memicu kejadian hal yang di luar kendali, seperti kekerasan, perceraian ataupun hal buruk lainnya. Sebagai seorang istri juga harus pandai-pandai membaca situasi dan memposisikan diri pada saat menyelesaikan konflik, terutama dalam menjaga citra baik suami. Jika hal tersebut terjadi pada suami bisa memicu terjadinya emosi yang semakin meluap dan berujung pada kekerasan. Sebagai suami, mereka memiliki ego yang tinggi karena menjadi kepala rumah tangga.

Solusi lain juga diberikan dalam Islam, seperti duduk pada saat pertikaian terjadi di posisi berdiri. Jika belum redam, maka dianjurkan untuk mengambil wudhu. Menjauh dari konflik adalah pilihan terakhir jika alternatif duduk dan wudhu belum mencapai hasil yang maksimal, sebab semua kemarahan itu diselimuti dari bisikan dan hasutan setan. Disarankan, agar selalu meminta perlindungan kepada Allah.