Curhatan Fandom: Satu Tahun Bersama Wanna One

Tulisan dari Ayash Laras Amalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Banyak orang bilang, kita harus mengerjakan apa yang kita senangi, dan banyak juga orang yang bilang bahwa menulislah, agar namamu tetap tekenang. Aku suka k-pop dan aku suka menulis, itulah alasanku ikut curhat di sini. Dalam cerita ini, aku akan menceritakan tentang awal mula bagaimana aku bisa menjadi salah satu bagian dari k-popers dan bagaimana rasanya setelah aku menjadi bagian dari mereka. Aku nggak akan cerita tentang teman-temanku yang sering memandang k-pop dengan sebelah mata, karena pasti sudah banyak yang menceritakan tentang hal itu. Banyak temanku yang seperti itu, tapi aku ingin menceritakan sesuatu yang menurutku lebih menarik. Aku memang suka bercerita, jadi maaf kalau ceritaku sangat panjang. Enjoy!

“Jatuh cinta memang hal yang tak pernah kita duga akan datang kepada siapa. Dan ketika sudah jatuh dalam lubang yang bernama cinta tersebut, kamu pasti akan susah untuk keluar.”
Dua setengah tahun lalu adalah awal mulaku mengenal dunia per-korea-an. Iya, aku memang anak baru di dunia k-pop karena sebelumnya aku sama sekali tidak tertarik dengan dunia itu. Dulu, aku merupakan penggemar One Direction yang juga tidak terlalu asing dengan k-pop karena dua kakakku adalah k-popers sejak 10 tahun lalu, tapi aku sama sekali tak pernah terjerumus oleh mereka yang terus menggodaku dengan menunjukkan wajah tampan idolanya. Alasannya sederhana, idola mereka bukan seleraku. Aku lebih suka lelaki dengan mata besar, rambut hitam dan agak "Arab", ya persis seperti Zayn Malik. Maaf aku tahu ini memang agak rasis, tapi saat itu aku benar-benar sampai bilang ke mereka kalau aku nggak suka cowok sipit. Dan ya sudah, setelah itu, hidup kami berjalan seperti biasanya, mereka tetap menyukai BigBang dan aku tetap menyukai Zayn.

Hingga datang hari dimana secara tiba-tiba dikonfirmasi bahwa Zayn mengundurkan diri sebagai salah satu member grup One Direction. Aku sedih banget waktu itu, karena idolaku memang hanya Zayn, meski aku tahu kalau dia akan debut lagi sebagai penyanyi solo, tapi tetap saja aku lebih suka dia ada di grup. Sampai beberapa bulan sejak Zayn keluar dari One Direction, aku merasa tak punya idola, hingga pada suatu hari temanku menawarkanku untuk menonton drama Korea.
Saat itu, aku baru menjadi anak kos yang tinggal di sebuah kamar yang tidak ada TV-nya, hiburan ketika di kos ya hanya ada novel, handphone atau laptop yang hanya dipakai sesekali. Temanku menyarankan hal tersebut karena katanya agar aku tidak bosan, dan akhirnya aku pun meng-iyakan tawarannya. Ia menyarankanku untuk menonton drama berjudul Pinocchio, dan jadilah aku menonton drama tersebut. Hal pertama yang terlintas di pikiranku ketika selesai menonton drama tersebut adalah aku takjub dengan jalan ceritanya yang antimainstream.
Sejak saat itu, aku mulai kecanduan menonton drama Korea, tapi aku belum tertarik sama sekali dengan aktor maupun akrtisnya, aku hanya menyukai ceritanya, hingga aku menonton drama Korea berjudul "School 2015: Who Are You". Ceritanya bagus, dan yang lebih bagus menurutku adalah pemainnya. Dia adalah Gong Taekwang, seorang anak bandel, ganteng, kocak, bikin gemas dan kadang pengen nampol, tapi ternyata bapaknya adalah kepala sekolah di sekolah tersebut. Itu adalah kali pertama aku suka sama orang Korea setelah beberapa drama yang aku tonton sebelumnya. Setelah nonton sampai tamat, aku cari tahu dia siapa, ternyata Gong Taekwang ini nama aslinya adalah Yook Sungjae. Aku cari sosial medianya, dia punya instagram dan twitter yang otomatis jadi orang Korea pertama yang ada di following sosial mediaku.

Dia member boygrup BTOB, grup yang nggak terlalu terkenal di telinga orang awam macam aku yang taunya cuma Super Junior, BigBang, BTS atau EXO. Aku pun mulai kepo tentang keseharian Sungjae, aku tontonin lah video-videonya di youtube yang mayoritas adalah aktivitasnya bersama BTOB dan membuatku mulai suka juga sama grup itu. Aku mulai masuk di dunia per-kpop-an karena BTOB, tiap hari aku denger lagu mereka, aku nggak kepoin grup lain. Aku tau kayak muka dan nama member BTS atau EXO, aku juga dengerin lagu mereka, tapi grup yang aku kepoin ya cuma BTOB. Aku benar-benar kecanduan sama grup yang satu ini, rasanya tak ada hari yang aku lewatkan tanpa kepoin mereka di twitter dan youtube.

Ya memang, "Jatuh cinta memang hal yang tak pernah kita duga, kita akan jatuh hati ke siapa, itu rahasia hidup. Seringkali, orang yang membuat kita jatuh cinta bukanlah seseorang yang memenuhi tipe ideal kita selama ini. Mereka tidak memenuhi macam-macam kriteria itu, bahkan mungkin sangat bertolak belakang dengan yang selama ini diimpikan. Tapi, itulah jatuh cinta, kita tidak akan pernah tahu hati kita akan jatuh ke siapa." Itulah aku ke Sungjae.
Ketika aku lagi main instagram, aku mendapati foto 'Sungjae', aku baca info di caption-nya. Eh ternyata itu bukan Sungjae, di situ ditulis Kang Daniel, aku liat lagi fotonya, dan emang bukan Sungjae, tapi mirip. Setelah itu aku cari tahu Kang Daniel itu siapa, dan ternyata dia salah satu member Wanna One, sebuah grup yang waktu itu akan memulai debutnya beberapa hari lagi. Aku terus cari info tentang Wanna One, khususnya Daniel, detail banget, sama kayak waktu aku cari info tentang Sungjae. Sama seperti sebelumnya, aku benar-benar kecanduan Daniel karena Sungjae waktu itu mulai jarang ada di acara TV setelah dia selesai membintangi drama berjudul Goblin. Sedangkan Daniel bersama Wanna One sering tampil di berbagai variety show dan acara musik dalam rangka promosi debutnya. Iya, waktu itu aku memang melihat Daniel masih sebagai orang yang mirip Sungjae.

Makin lama, aku makin sering kepoin Kang Daniel, aku jadi nonton Produce 101 Season 2, acara dimana awal mula boygrup Wanna One terbentuk. Sejak itulah aku udah nggak menganggap Daniel sebagai orang yang mirip Sungjae, dia punya kharisma sendiri, dia unik, dia berbakat, dia menggemaskan. Sayangnya, menurutku itu adalah sebuah kesalahan, karena Daniel aku jadi kepoin member Wanna One yang lain, bisa dibilang aku bahkan jatuh cinta sama mereka, dan kalian tahu kan kalau Wanna One adalah grup sementara? Mereka akan dibubarkan pada tanggal 31 Desember 2018. Fans mana sih yang nggak sedih pas grup idolanya bubar? Dan aku menganggap menyukai Wanna One adalah kesalahan yang indah. Kenapa indah? Karena aku dapat merasakan berbagai hal yang tentunya akan kuceritakan di sini, mulai dari momen lucu, sedih, hingga kesal ketika aku menyukai Wanna One.
Awalnya, aku biasa aja sama member lain, cuma Daniel yang aku suka, sampai akhirnya mereka comeback album Nothing Without You dan Wanna One Go mulai tayang lagi di bulan November 2017. Dari situ aku mulai suka sama member lain, setiap malam minggu aku selalu ke warnet buat download episode terbaru Wanna One Go. Aku mulai kecanduan Wanna One, bukan cuma Daniel. Konsep acara Wanna One Go Season 2 adalah ketika para member disewakan sebuah rumah yang disebut Zero Base, semua member mendapat kamar masing-masing sesuai dengan karakter mereka. Di situ juga banyak hiburan seperti mesin karaoke, meja biliyar, tempat penuh makanan dan lain sebagainya.

Selama di dalam Zero Base, mereka dibebaskan bertindak sebagai remaja biasa, alias menjadi diri sendiri bukan menjadi seorang idol hingga waktu yang sudah ditentukan. Salah satu yang bener-bener relate sama kehidupan mereka sebagai remaja laki-laki adalah ketika Woojin ingin mencoba berlatih yoga melalui video. Tentunya, si cewek instruktur yoga di video itu berpakaian ketat, tapi Woojin malah terus mempercepat video dan terlihat malu karena sudah menyalakan video tersebut sebab ia masih di bawah umur. Namun, Ong dan Jaehwan yang sudah cukup umur malah menyuruh Woojin untuk membiarkan video itu terus berjalan dan mata mereka seperti tak bisa lepas dari instrukturnya. Jika sedang berperan sebagai seorang idol, mereka tak akan bertindak seperti itu karena pasti akan dihujat, tau sendiri kan netizen sekarang galak banget, tapi di Zero Base, mereka bisa jadi diri sendiri dan bebas melakukan apapun yang disukai.
Karena acara itu, aku jadi sedikit tahu kepribadian mereka. Yoon Jisung, seorang leader yang bener-bener merhatiin anak-anak lain, mulai dari bantuin nyalain kompor sampe nyuapin member Wanna One. Ha Sungwoon yang kamarnya penuh dengan skincare, nggak heran kalo kulit dia adalah yang paling cerah diantara yang lain, kalo dia ketawa, kamu harus tutup kuping soalnya pasti berisik banget. Hwang Minhyun yang selalu bersih-bersih, pernah satu episode, Minhyun lagi ke Jepang dan Zero Base jadi kotor banget gara-gara member lain pada main doang nggak ngebersihin. Ong Seongwu yang selalu punya cara buat bikin orang lain ketawa, tapi sayangnya barang apapun yang dipegang dia pasti rusak, dari mulai drum, mainan pistol sampe drone. Kim Jaehwan yang selalu nyanyi kadang sambil main gitar, manusia absurd yang ketawanya menggelegar, dia adalah member yang paling kusayang setelah Daniel. Kang Daniel, national center yang doyannya tidur kalo nggak ya main kucing, dia merupakan member yang tingkahnya paling kekanak-kanakan, Jisung aja sampe capek ngurusinnya.
Park Jihoon si ganteng yang kamarnya penuh dengan bantal dan boneka warna-warni yang kadang dia ajak ngomong tapi selalu mendeklarasikan diri kalau dia lelaki jantan. Park Woojin yang sukanya nonjokin orang, nggak pernah lelah dan selalu berenergi serta bersemangat. Bae Jinyoung yang betah banget karaokean walaupun udah diomelin Ha Sungwoon berkali-kali tapi nggak peduli, dia tetap nyanyi. Lee Daehwi si imut yang kamernya bener-bener seperti pengantin baru, kalo siang sukanya sendirian di kamer buat bikin lagu. Lai Guanlin, maknae yang kalo stres lebih milih tidur, kadang tidurnya malah di kamar orang lain, dan dia kadang masih diajarin bahasa Korea sama para hyung-nya.

Setelah menceritakan sisi para member Wanna One yang membuatku tertarik, sekarang saatnya menceritakan tentang fandom-nya Wanna One yang dinamakan Wannable. Jadi seperti yang sudah kuceritakan di awal, aku dulunya adalah pecinta BTOB yang penggemarnya dinamakan Melody. Aku udah nggak asing mendengar kata fanwar. Yup! itu adalah keadaan dimana dua atau lebih fandom saling bertengkar, umumnya sih untuk membela idolanya. Tapi, selama aku bergabung bersama Melody, kami tak pernah terlibat fanwar, meskipun aku seringkali lihat fandom lain bertengkar. Katanya sih, emang Melody ini pada kalem dan nggak suka ribut, apa emang nggak ada yang ngajak ribut? Aku nggak tahu, tapi aku bersyukur ada di tengah mereka yang adem-ayem dan bisa menjaga nama baik fandom.
Lain ceritanya ketika aku akhirnya masuk dalam fandom Wanna One, meski idolanya beberapa kali tertimpa isu plagiat bahkan sejak awal debut, tapi Wannable tak pernah terlibat fanwar besar dan berkepanjangan. Tau alasannya? Karena mereka sibuk ribut dengan teman se-fandom-nya. Seriously, i'm 100% Wannable dan aku "hidup" diantara mereka, jadi aku tahu gimana "isi" fandom-ku. Aku cuma mau menceritakan kegelisahanku, bukannya mau bikin fanwar di fandom-ku sendiri kok.
Wanna One adalah grup yang berasal dari acara survival, di acara itu, 101 peserta saling berlomba untuk bisa debut, tentunya hanya peserta dengan penggemar yang kuat dan selalu mem-vote-nya yang akhirnya bisa debut. Nggak heran kalau Wanna One mempunyai banyak sekali penggemar meski baru debut, penyebabnya sudah pasti karena mereka merupakan gabungan dari 11 fandom individu terkuat tersebut. Tapi, kelemahannya adalah karena mereka awalnya berasal dari 11 kelompok yang masing-masing mendukung satu orang, maka dari itu sangat mudah untuk terjadinya fanwar dalam internal Wannable.
Mengingat Wanna One mempunyai 11 member, kadang stasiun TV hanya meminta beberapa orang dan akhirnya pihak agensi pun membaginya. Sayangnya, ada anggota yang jarang mendapat pekerjaan individu seperti itu hingga penggemarnya merasa idolanya diperlakukan secara tak adil. Oleh karena itulah, mereka sering mengirim pesan ke agensi, yang kadang secara tak langsung malah menyalahkan member lain yang sering tampil di TV. Inilah penyebab adanya perang di antara para Wannable, tak hanya sekali, ini terjadi beberapa kali, bahkan bisa dibilang sering. Sebagai orang yang tau Wanna One bukan sejak masih di acara Produce 101, aku nggak tahu harus dukung siapa, karena aku suka semua membernya :(
Tapi, di samping sering adanya fanwar tersebut, aku betah ada di fandom ini. Ada teman yang bilang aku seperti melupakan BTOB karena Wanna One, hal itu jelas salah. Aku masih pake foto Sungjae di handphone dan berbagai sosial mediaku, aku masih kepoin tentang BTOB walau nggak se-intensif dulu. Aku tak melupakan, mungkin hanya sedikit kehilangan fokus. Ini tahun pertama dan terakhir bagi Wanna One, aku mau menghabiskannya dengan fokus ke mereka. Karena aku yakin BTOB akan tetap ada meski tahun depan mereka memasuki tahun ketujuh, sedangkan Wanna One sudah pasti akan pergi, setelah hari itu aku bertekad akan kembali ke BTOB. Kalo dibilang nggak setia, terserah. Tapi, nggak tau kenapa aku benar-benar sayang sama Wanna One, termasuk ketika beberapa minggu lalu mereka sempat jadi bahan perbincangan karena dianggap mengucapkan kata tak senonoh.

Ada beberapa orang yang mengaku Wannable yang akhirnya menjauh, ada, aku tahu orangnya. Tapi aku tetap percaya sama Wanna One, sampai akhirnya Wannable, khususnya penggemar Sungwoon mengirim video tersebut kepada badan ahli untuk dianalisis. Dan akhirnya, isu tersebut tak terbukti karena ahli membuktikan bahwa mereka tak mengucapkan kata-kata tak senonoh. Ini yang aku suka dari fandom ini, penggemar mereka di Korea sangat kuat hingga bisa membersihkan nama idolanya dari isu jahat tersebut, dan penggemar internasional sepertiku hanya bisa mengucapkan terimakasih kepada mereka.
Wanna One juga terkadang menjadi penyemangatku, seorang mahasiswa yang kini berada di tingkat akhir namun merasa salah jurusan. Rasanya, mau ke kampus aja malas, nggak ada semangat, pengennya cepet lulus tanpa harus bikin skripsi. Tapi Wanna One, khususnya Jisung dan Jihoon kadang membuatku termotivasi. Mereka sibuk dengan jadwal manggung, syuting dan latihan, namun mereka masih sempat untuk kuliah. Jihoon merupakan mahasiswa baru tahun ini, di tengah padatnya jadwal, ia masih sempat untuk belajar dan berjuang agar lulus SMA bahkan hingga diterima di universitas yang cukup terkenal. Ada lagi Jisung, aku sering menemukan fotonya sedang berada di kelas, bahkan ketika hari tersebut ada jadwal lain, dia lebih dulu datang ke kampus. Begitupun ketika ia selesai syuting, waktu itu seorang teman sekampus Jisung bilang bahwa Jisung pernah datang dengan full-make-up, mungkin karena ia tak sempat menghapus make-up setelah syuting karena takut telat masuk kelas. Tak main-main loh, leader kesayangan Wanna One alias Jisung ini sekarang sedang menempuh pendidikan S2. Salut!

Tahun ini adalah tahun terakhir kami, Wannables, bisa bersama Wanna One lengkap dengan 11 member yaitu Jisung, Sungwoon, Minhyun, Ong, Jaehwan, Daniel, Jihoon, Woojin, Jinyoung, Daehwi dan Guanlin. Setelah itu, mereka akan berpisah dan sibuk dengan karirnya masing-masing. Sebagian dari Wannables mungkin ada yang pergi, dan pasti lebih banyak yang akan terus mendukung mereka dimanapun mereka berkarir.
Tahun ini adalah tahun dimana kami, Wannables, selalu memperingati hal-hal kecil seperti "Setahun lalu, mereka pertamakali bertemu di acara survival untuk saling bersaing, dan sekarang mereka harus bekerjasama untuk membentuk Wanna One yang selalu solid". Ada lagi "Setahun lalu, video Nayana dirilis, sekarang Wanna One udah punya banyak lagu dan video klip". Ya, kami memperingati banyak hal kecil seperti itu, karena ini adalah tahun pertama dan terakhir kami dapat memperingatinya bersama Wanna One.
Wannables sesungguhnya adalah mereka yang rela jika Wanna One akan bubar akhir tahun nanti, artinya mereka adalah orang yang mendukung kebahagian para member. Minhyun masih punya NU'EST, Sungwoon punya HOTSHOT, Guanlin harus kembali menemani Yoo Seonho, Daehwi dan Woojin sudah ditunggu Donghyun dan Youngmin untuk debut bersama, Jisung sudah saatnya masuk wajib militer untuk menjalankan kewajibannya sebagai warga negara yang baik. Dan member yang lain pun tentunya punya jalan masing-masing.
Bersama Wanna One, kami, khusunya aku jadi tahu artinya kekompakan, ketulusan, kebahagian, dan.... Perpisahan. Terimakasih, Wanna One, atas satu tahun yang telah kita jalani bersama. Mari jalani sisa waktu ini dengan baik.
Wanna One, 사랑해.
