Ketika Mimpi dan Identitas Harus Dibayar Mahal di Dunia yang Tak Mau Mendengar

Mahasiswa sastra inggris Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ayesa Naya Kirana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“He had a feeling that he had got beyond his captors, and felt something of the freedom of the damned.”
— Willa Cather, Paul’s Case
Pernahkah kalian membaca cerpen Paul’s Case karya Willa Cather? Seorang remaja laki-laki bernama Paul, yang terlihat “berbeda” dari remaja lain di sekitarnya. Ia tidak menyukai sekolah, tidak tertarik pada hal-hal umum yang dianggap “baik dan benar” oleh masyarakat, dan justru merasa hidup saat ia duduk di gedung teater, menyaksikan orkestra, dan membayangkan kehidupan elegan nan mewah yang tak pernah bisa ia miliki.
Namun, dunia tidak menyukai anak-anak seperti Paul. Dunia tidak memberi tempat bagi yang berbeda. Dan Paul pun dihukum—bukan secara langsung, tapi secara perlahan. Ia dikurung oleh tekanan, dibungkam oleh ekspektasi, dan akhirnya dikorbankan oleh sistem sosial yang tidak pernah mau mendengarkan suara-suara sunyi seperti miliknya.
Anak yang Tak Pernah Cocok
Paul mungkin hanya tokoh fiksi, tapi berapa banyak Paul yang kita temui di kehidupan nyata? Anak-anak yang tak cocok dengan sistem pendidikan, yang tak memenuhi standar “normal”, yang justru hidup dalam dunia seni, warna, dan kepekaan yang tidak bisa diukur dengan angka.
Di Indonesia, kita sering mengukur “anak baik” dari prestasi akademik. Ranking, ujian, nilai rapor. Tapi bagaimana dengan anak-anak yang tak tahan duduk diam berjam-jam? Yang lebih nyaman melukis daripada menghafal? Yang berbakat menari tapi dianggap tak punya masa depan? Bukankah mereka pun seperti Paul—anak-anak yang dianggap gagal, hanya karena mereka berbeda?
Saat Dunia Memilih Menyalahkan, Bukan Memahami
Paul mencuri uang dan melarikan diri ke New York. Di sana ia membeli jas mahal, tinggal di hotel mewah, menikmati hidup yang selama ini hanya bisa ia bayangkan. Tapi kebahagiaan itu singkat. Ketika uang habis, ilusi runtuh. Ia memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat ke depan kereta.
Sekilas, kita mungkin berkata: “Ia lemah.” Tapi jika kita mau melihat lebih dalam, kita akan sadar: Paul tidak mati karena lemah. Ia mati karena dunia menolak mendengarnya. Karena tidak ada ruang untuk jadi diri sendiri tanpa dihakimi. Karena tidak ada pelukan hangat yang berkata, “Kamu baik-baik saja, bahkan jika kamu tidak seperti yang lain.”
Refleksi untuk Indonesia Hari Ini
Sekarang, mari kita lihat ke sekitar kita. Di sekolah-sekolah, anak-anak yang berbeda justru dikucilkan. Anak introver dianggap tak sopan. Anak dengan kesehatan mental buruk dianggap pembuat masalah. Kita masih sering menyamakan “berbeda” dengan “salah”.
Menurut data Riskesdas (2023), satu dari lima remaja Indonesia mengalami gangguan mental ringan hingga berat. Tapi berapa banyak dari mereka yang benar-benar mendapat bantuan? Sebaliknya, berapa banyak yang disuruh “sholat saja”, “piknik saja”, “berpikir positif saja”? Kita memilih menenangkan hati kita sendiri dengan nasihat yang kosong, daripada menyelami luka mereka.
Siapa yang Akan Menjadi Suara untuk Mereka?
Dalam cerita Paul’s Case, tidak ada yang benar-benar menyelamatkan Paul. Tidak gurunya. Tidak ayahnya. Tidak masyarakatnya. Ia pergi dalam diam, dan dunia kembali sibuk seperti biasa.
Kita mungkin merasa sedih, tapi kesedihan saja tidak cukup. Kita harus mulai menciptakan ruang aman bagi anak-anak yang “berbeda”. Ruang untuk berbicara. Ruang untuk merasa cukup. Ruang untuk gagal tanpa takut dibuang.
Paul Masih Ada—Dan Ia Bisa Jadi Tetangga Kita, Saudara Kita, Bahkan Diri Kita Sendiri
Cerita Paul adalah peringatan: jangan terlalu cepat menilai orang yang tidak sesuai standar kita. Jangan anggap mimpi orang lain sebagai delusi. Karena kadang, yang mereka butuhkan bukan nasihat—tapi pengertian.
Kita tidak harus meninggalkan dunia ini seperti orang-orang yang “walk away from Omelas”. Tapi kita bisa memilih untuk tidak diam, untuk menyuarakan ketimpangan, untuk mendekat pada yang terluka, dan berkata:
“Aku di sini. Kamu tidak sendiri.”
Karena Paul itu nyata. Ia mungkin duduk di bangku sebelahmu. Ia mungkin kamu.
