Mata di Balik Lensa: Perjalanan Adek Berry Mengabadikan Sejarah Dunia

Setiap kali menekan tombol rana kamera, Adek Berry membawa satu keyakinan teguh: apa yang ia potret hari ini akan menjadi bagian dari sejarah di masa depan.
Keyakinan itulah yang menuntunnya berdiri di jantung berbagai peristiwa besar. Mulai dari duka tsunami Aceh 2004, erupsi Gunung Merapi, bencana likuefaksi di Palu, hingga ketegangan konflik bersenjata di Afganistan. Di balik foto-fotonya yang menghiasi media internasional, sosok perempuan Indonesia ini memilih berada di garis depan untuk merekam momen-momen yang tak mungkin terulang.
Kini, Lastri Berry Wijaya—atau yang akrab disapa Adek Berry—menjadi salah satu jurnalis foto Agence France-Presse (AFP). Perjalanan dan dedikasinya sampai ke titik itu bermula dari sesuatu yang sederhana: sebuah kamera analog pemberian sang kakak.
Kamera yang mengubah arah hidup
Ketertarikan Adek pada fotografi sebenarnya sudah bersemi sejak SMP. Namun, kecintaannya terhadap dunia visual baru tumbuh di bangku kuliah, tepatnya ketika ia mendapat hadiah kamera analog Yashica FX-3 dari sang kakak yang berprofesi sebagai wartawan. Kamera itu kemudian menjadi teman belajarnya selama bertahun-tahun.
Tanpa latar belakang pendidikan fotografi formal, Adek mengasah kemampuan secara otodidak. Ia melahap buku-buku fotografi, aktif mengikuti seminar, bergabung dengan komunitas, hingga menghabiskan banyak waktu untuk memotret alam. Lewat lensa kameranya, ia belajar memahami karakter cahaya dan cara kerjanya, kekuatan komposisi yang memengaruhi gambar, dan bagaimana sebuah momen singkat bisa menyimpan cerita mendalam.
Lambat laun, hobi berubah menjadi profesi. Memotret mulai mendatangkan pendapatan yang kemudian digunakan Adek untuk membeli perlengkapan kamera berikutnya. Dari situ, ia menyadari bahwa fotografi bukan lagi sekadar kegemaran baginya, melainkan pekerjaan yang ingin ia tekuni seumur hidup.
Namun, perjalanan kariernya tidak langsung bermula di balik lensa. Selulus kuliah, Adek justru mengawali langkahnya sebagai reporter tulis di Majalah Tiras.
Pengalaman sebagai jurnalis tulis rupanya menjadi fondasi yang kuat. Di sana, ia belajar melakukan reportase, menggali informasi, memahami konteks peristiwa, dan menyusun sudut pandang cerita. Bekal inilah yang kemudian membantunya saat ia kembali ke “cinta pertamanya” sebagai fotografer di Majalah Tajuk.
Bagi Adek, jurnalis foto bukan sekadar orang yang pandai mengoperasikan kamera dan memotret gambar menarik, melainkan seseorang yang mampu memahami dan menyampaikan kedalaman cerita di balik sebuah peristiwa.
Dari tanah air hingga medan perang Afganistan
Karier Adek mencapai babak baru saat ia bergabung dengan kantor berita internasional, AFP. Di sini, ia dituntut bekerja dengan standar jurnalistik global yang mengedepankan kecepatan, ketepatan, dan kesiapan mental dalam segala situasi.
Setiap penugasan membutuhkan persiapan matang, terlebih ketika harus terjun ke daerah konflik atau bencana. Maka, sebelum diterjunkan ke wilayah berisiko tinggi, Adek menjalani Hostile Environment Training. Pelatihan khusus ini membekalinya dengan kemampuan bertahan di situasi berbahaya, mulai dari melewati pos penjagaan militer, menghadapi ancaman penculikan, hingga mengambil keputusan krusial di bawah tekanan besar.
Selama lebih dari dua dekade, Adek telah mendokumentasikan rentetan sejarah. Di Indonesia, ia merekam pilunya tsunami Aceh, letusan Merapi, hingga berbagai gejolak demonstrasi. Di mancanegara, ia meliput banjir besar di Pakistan dan berkali-kali bertugas di Afganistan.
Salah satu pengalaman paling menantang adalah saat ia mengikuti operasi militer Amerika Serikat di Afganistan sebagai embedded journalist—jurnalis yang melekat dan bergerak bersama tentara AS selama peliputan berlangsung. Tantangannya bukan hanya medan yang berat, tetapi juga urusan logistik dan komunikasi.
Tiap penugasan memiliki tantangan berbeda. Ada kalanya Adek harus berpindah-pindah kendaraan—menumpang truk warga dan meminjam perahu—hingga mencari titik sinyal satelit di tengah antah-berantah demi mengirimkan foto-fotonya ke redaksi.
Bagi Adek, tantangan terbesar bukanlah fisik, tapi menjaga kejernihan pikiran—terutama di tengah situasi yang serba tak pasti. Dalam hitungan detik, seorang jurnalis foto harus mampu memutuskan: kapan harus membidik gambar, kapan harus mengulurkan bantuan, dan kapan harus menyelamatkan diri.
“Semua liputan itu membuatku tumbuh—membuatku merasa ada pelajaran yang bisa diambil,” kata Adek kepada kumparanWOMAN beberapa waktu lalu.
Profesionalitas tanpa sekat gender
Saat Adek memulai kariernya, dunia jurnalis foto masih sangat didominasi oleh laki-laki. Namun, ia tak pernah memandang dirinya dengan batasan gender. Di lapangan, ia adalah seorang jurnalis dengan tanggung jawab yang sama seperti rekan-rekan seprofesinya.
Bagi Adek, kualitas seorang jurnalis foto bukan ditentukan oleh gender, melainkan kemauan untuk terus belajar, keberanian mengambil keputusan, dan kemampuan membangun kepercayaan dengan narasumber. Ia percaya bahwa perempuan memiliki peluang yang sama luasnya untuk terjun dan berprestasi di bidang ini.
Hingga kini, Adek memegang teguh satu prinsip: kejujuran. Foto jurnalistik bukan sekadar informasi visual untuk hari ini, melainkan arsip abadi bagi generasi mendatang.
“Apa yang kita potret hari ini akan menjadi sejarah besok,” kata Adek.
Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa ada tanggung jawab besar di balik tiap bidikan kameranya. Sebab ketika waktu berlalu dan peristiwa memudar dari ingatan, foto-fotolah yang akan tetap bicara, menjadi saksi bisu atas kebenaran yang terjadi.
