Kumparan Logo

Zendaya Dikecam karena Kenakan Anting Artefak dari Iran di Tur Film The Odyssey

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Zendaya Dikecam karena Kenakan Anting Artefak dari Iran di Tur Film The Odyssey. Foto: Instagram @theodysseymovie
zoom-in-whitePerbesar
Zendaya Dikecam karena Kenakan Anting Artefak dari Iran di Tur Film The Odyssey. Foto: Instagram @theodysseymovie

Setiap kali menghadiri tur promosi film, penampilan Zendaya hampir selalu menjadi perbincangan. Bersama stylist kepercayaannya, Law Roach, aktris berusia 29 tahun itu dikenal konsisten menerapkan konsep method dressing, yakni memilih busana yang terinspirasi dari karakter atau tema film yang sedang dipromosikan.

Hal serupa kembali terlihat saat Zendaya menghadiri pemutaran perdana The Odyssey karya Christopher Nolan di London pada Minggu (5/7). Ia tampil elegan dalam balutan gaun putih rancangan Jacquemus yang dipadukan dengan sandal Christian Louboutin. Penampilannya mengingatkan banyak orang pada sosok dewi Yunani, selaras dengan kisah epik yang diangkat dalam film tersebut.

Namun, bukan gaunnya yang menjadi pusat perhatian. Sorotan justru mengarah pada sepasang anting emas yang dikenakannya. Belakangan diketahui, anting tersebut bukan sekadar perhiasan mewah, melainkan dibuat dari medali emas kuno Iran yang diperkirakan berusia sekitar 3.000 tahun. Perhiasan itu merupakan bagian dari koleksi Ziwiye Hoard, sekumpulan artefak yang diyakini berasal dari wilayah Iran barat dan diperkirakan dibuat antara abad ke-7 hingga awal milenium pertama sebelum Masehi.

Anting artefak berusia sekitar 3.000 tahun yang diperkirakan berasal dari wilayah Iran Barat. Foto: Instagram @glennspirojewels

Anting tersebut merupakan hasil karya desainer perhiasan London, Glenn Spiro. Ia memasang medali kuno itu menggunakan teknik claw setting, sehingga artefak tetap utuh tanpa harus dibor atau dimodifikasi secara permanen. Setelah dipasang ulang, perhiasan tersebut menjadi bagian dari koleksi Barron London, rumah perhiasan yang dikenal mengkurasi artefak bersejarah menjadi aksesori modern.

Tak butuh waktu lama, penampilan Zendaya langsung memicu perdebatan di media sosial. Banyak arkeolog, sejarawan, hingga pemerhati budaya mempertanyakan etika penggunaan benda bersejarah sebagai aksesori fesyen. Menurut mereka, artefak dengan nilai sejarah tinggi semestinya dipelajari dan dipamerkan di museum, bukan dikenakan di karpet merah sebagai pelengkap penampilan.

Kontroversi semakin berkembang karena artefak tersebut berasal dari Iran. Sejumlah akademisi menilai penggunaan benda budaya dari kawasan yang memiliki sejarah panjang penjarahan artefak tidak bisa dilepaskan dari isu kepemilikan dan asal-usul koleksi tersebut.

Associate Professor bidang Sejarah dan Arkeologi di Macquarie University, Peter Edwell, mengatakan bahwa informasi mengenai asal-usul artefak tersebut masih belum jelas. Menurutnya, keterangan seperti “undisclosed origin” atau asal yang tidak diungkapkan sering menjadi tanda bahwa sebuah benda mungkin pernah keluar dari negara asalnya melalui jalur yang tidak terdokumentasi dengan baik, bahkan berpotensi berkaitan dengan penjarahan atau perdagangan ilegal.

Ia menilai kondisi seperti ini membuat penggunaan artefak sebagai aksesori menjadi sangat bermasalah dari sudut pandang pelestarian warisan budaya.

Meski demikian, tidak semua pihak memiliki pandangan yang sama. Ada pula yang berpendapat bahwa selama artefak tidak mengalami kerusakan permanen dan kepemilikannya sah, penggunaan benda bersejarah dalam bentuk perhiasan justru dapat memperkenalkan sejarah kepada audiens yang lebih luas. Teknik pemasangan yang digunakan Glenn Spiro juga disebut tidak mengubah bentuk asli medali sehingga artefak masih dapat dilepas dan dikembalikan seperti semula.

Hingga kini, Zendaya maupun Law Roach belum memberikan tanggapan terkait kontroversi tersebut. Namun, perdebatan yang muncul menunjukkan bahwa di balik sebuah penampilan fesyen, ada diskusi yang lebih besar mengenai batas antara apresiasi budaya, kepemilikan artefak, dan tanggung jawab dalam menjaga warisan sejarah dunia.