Firman Setyaji, Kreatif Sulap Tanaman Hama jadi Produk Kekinian

Media Komunitas UMKM Muda Indonesia
Konten dari Pengguna
21 Maret 2022 9:59
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Ayo Naik Kelas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Firman Setyaji, Kreatif Sulap Tanaman Hama jadi Produk Kekinian (21784)
zoom-in-whitePerbesar
Firman Setyaji dan produk kerajinan kreatif dari Bengok Craft. Sumber foto: Instagram @maskapo
ADVERTISEMENT
JAKARTA - Sebagian besar orang menganggap eceng gondok hanya sebagai gulma. Namun, tanaman yang kerap ditemui di danau, rawa maupun sungai ini bisa menjadi bahan yang dapat diolah menjadi aneka kerajinan kreatif.
ADVERTISEMENT
Firman Setyaji, pemuda kreatif asal Semarang ini membuktikan kepada masyarakat bahwa eceng gondok yang awalnya dipandang sebagai gulma, bisa disulap menjadi produk kreatif bernilai jual. Pada tahun 2019, Firman memulai itu semua dengan membuat Bengok Craft.
Dengan Bengok Craft, Firman tak hanya ingin meningkatkan nilai jual dari eceng gondok, tetapi juga sebagai wadah pemberdayaan masyarakat di sekitar daerah Rawa Pening, untuk mengembangkan kesejahteraan masyarakat melalui pengolahan eceng gondok.
Sejak didirikan pada tahun 2019, Bengok Craft berkomitmen untuk terus menjadi bisnis yang menerapkan prinsip-prinsip yang berkelanjutan. Hal ini diwujudkan melalui komitmen dalam setiap proses bisnis Bengok Craft, termasuk prinsip zero waste, pemberdayaan masyarakat, dan antisipasi perubahan iklim.
“Bengok Craft hadir dengan tujuan membuka ruang alternatif baru bagi masyarakat sekitar, dengan peralihan membuka ruang kreatif eceng gondok sehingga produk yang dihasilkan dapat memberikan nilai guna lebih” tuturnya.
ADVERTISEMENT
Saat ini produk yang dihasilkan oleh Bengok Craft sudah banyak ragamnya seperti tas, sandal, case ponsel, gantungan kunci, topi, hingga pakaian. Bengok Craft hanya butuh waktu sekitar satu tahun untuk mengembangkan bisnisnya bisa menembus pasar luar negeri. Saat ini, produk eceng gondok miliknya tidak hanya dijual di Indonesia, tetapi juga diekspor ke Jepang, Singapura, Dubai, Italia, dan negara lainnya.
Selama menjalankan bisnisnya, Firman bercerita bahwa usahanya sempat menemui tantangan, seperti modal yang terbatas, kehilangan rekan dan mitra, serta pandemi yang mengakibatkan omzet turun. Tetapi dengan tekad dan kreativitas yang tinggi, Firman berhasil mempertahankan usahanya hingga saat ini.
“Aku selalu berpegang teguh pada prinsip Urip iku Urup, dengan bisa memberikan kebermanfaatan buat orang lain nantinya hidup aku akan terjamin dengan sendirinya,” ujarnya.
ADVERTISEMENT